Terapi Agen Biologis | ethicaldigest

Terapi Agen Biologis

Para peneliti sudah mengidentifikasi agen biomolekular yang berperan sebagai khemokin pro inflamasi pada kasus uveitis non infeksi, yaitu  tumor necrosis factor alpha (TNF-α), interleukin 1, 2 dan 6 (IL-1, Il-2, Il-6), dan interferon (IFN). Karena itu, agen biologis didesain untuk menekan sekresi khemokin pro inflamasi, sel T dan sel B, sehingga akhirnya dapat mencegah proses inflamasi. 

 

Tabel 1. Terapi Agen Biologis

Obat

Dosis

Anti TNF-α

Infliximab

Eternacept

 

5 – 8 mg/kg, hari ke-1, minggu ke-2, minggu ke-6, dan setiap 8 minggu; IV

25 mg, 2x/minggu; injeksi subkutan

Anti IL

Daclizumab

Anakinra

 

1 mg/kgBB, setiap 2 minggu; IV

1 mg/kgBB/hari; injeksi subkutan

 

Terapi Anti TNF-α

TNF-α merupakan sitokin inflamasi yang diproduksi oleh makrofag dan sel T aktif, yang berperan dalam aktivasi neutrofil dan upregulasi molekul adhesi endotel. Studi De Vos dkk., menunjukkan peningkatan cairan humoral dan level TNF-α dalam serum pada uveitis yang diinduksi endotoksin. Dilaporkan, anti TNF-α memiliki efikasi dalam tatalaksana penyakit sitemik, seperti rheumatoid arthritis, juvenile idiopathic arthritis, non-infectious refractory uveitis associated with Behcet’s disease dan sarcoidosis.

Survey multinasional yang dilakukan Ivan Foeldevari dkk. (2007) melaporkan, dari 15 center terdapat 47 pasien dengan juvenile idiopathic arthritis related uveitis (usia rata-rata 12,5 tahun) yang diterapi dengan anti TNF. Durasi antara onset uveitis dengan waktu mulai terapi anti TNF adalah 45,1 bulan. Anti TNF yang digunakan adalah etarnecept pada 34 kasus, infliximab pada 25 kasus, dan adalimumab pada 3 kasus. Hasil surveynya menunjukkan, 12 dari 34 pasien yang diterapi dengan etarnecept tidak memberikan respon sehingga beralih ke infliximab. Sedangkan adalimumab menunjukkan efikasi pada ketiganya. Secara statistik, disimpulkan bahwa efikasi infliximab lebih siignifikan dari etarnecept.

Infliximab

Infliximab merupakan kimerik antibodi monoklonal yang bekerja secara kompetitif dan irreversible terhadap TNF-α, dalam berikatan dengan reseptor membran  dan sirkulasi. Infliximab banyak digunakan dalam tatalaksana uveitis, khususnya yang berkaitan dengan penyakit Behcet. “Walau pun sudah release di Indonesia, penggunaan obat ini belum luas. Saya hanya pernah 1 kali menggunakannya, karena faktor farmakoekonomi,” ujar dr. Soedarman Sjamsoe, SpM.

Suhler dkk. melakukan studi prospektif pada 23 pasien yang diterapi dengan infliximab IV selama 50 minggu, dengan dosis 3 – 5 mg/kg pada minggu ke 0, 2 dan 6. Respon klinis dicermati pada minggu ke-10. Kemudian,  pasien menerima infus infliximab dengan interval 8 minggu. Hasilnya menunjukkan, 18 dari 23 pasien (78,3%) berespon baik terhadap terapi pada minggu ke-10, yang ditunjukkan dengan penurunan inflamasi dan perbaikan ketajaman visual. Walau secara umum pemberian infliximab dapat ditoleransi, dilaporkan terjadi 3 efek samping yang cukup serius. Yaitu, 3 kejadian trombosis dan 1 onset baru pada gagal jantung kongesti. 

Pada studi prospektif dengan lingkup yang lebih kecil, Joseph dkk., melaporkan keberhasilan terapi infliximab pada 5 pasien dengan uveitis posterior, yang tidak responsif terhadap agen imunosupresan. Dosis infus infliximab yang diberikan adalah 5 mg/kgBB pada minggu ke 0, 2, dan 6.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.