Tatalaksana Nyeri Kanker | ethicaldigest

Tatalaksana Nyeri Kanker

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, pada 2021 setidaknya ada sekitar 15 juta penderita kanker baru di seluruh dunia. Dengan semakin banyak ditemukannya berbagai metode pengobatan baru pada kanker, terjadi peningkatan survival rate pada populasi ini. Artinya, pasien kanker mempunyai umur rata-rata lebih panjang akibat perkembangan metode pengobatan baru.

Sampai saat ini penatalaksanaan nyeri kanker masih menjadi tantangan besar bagi tenaga medis. Sekitar 50% pasien yang mengidap kanker, 90%-nya dengan kanker tahap lanjut yang menderita nyeri. Hal ini bisa karena keterlibatan tumor pada jaringan lunak, visceral, saraf atau tulang. Bisa juga disebabkan perubahan struktur tubuh akibat tumor, seperti halnya spasme otot akibat tumor di tulang belakang.

Analgesik opiate morfin masih menjadi baku emas dalam penatalaksanaan nyeri kanker, namun analgetik non opiate juga dapat digunakan. Menurut dr. Kartika Widayati Taroeno Hariadi, SpPD-KHOM, penggunaan morfin harus dilakukan secara tepat. Dalam pengaturan dosis, hendaknya diberikan di bawah kadar sedasi.

Pedoman tatalaksana kanker dari  menganjurkan, pada kasus nyeri kanker ringan cukup dengan pemberian parasetamol, AINS. Bila perlu ditambah pemberian ajuvant. Penambahan obat ajuvan dapat diberikan pada semua tingkatan nyeri. Untuk nyeri sedang, dapat diberikan opioids ringan, seperti kodein atau tramadol. Sementara untuk kasus nyeri kanker berat, bisa diberikan opioids berat seperti morphine.

 WHO membolehkan kombinasi analgetik opiate dan non-opiate pada penderita kanker, dengan tingkat nyeri menengah hingga berat. Opiate merupakan analgetik sentral, yang menghambat transduksi saraf di medulla spinalis. Sedangkan analgetik non opiate, dalam hal ini analgetik anti-inflamasi non steroid (AINS), merupakan analgetik perifer yang bekerja dengan menghambat aktivitas cyclooxygnase, dalam pembentukan prostaglandin sehingga system nosiseptor perifer tidak teraktivasi.

Masing-masing analgetik memberikan efek samping tertentu. Menurut Ladner dan kawan-kawan (2000), menggabungkan beberapa jenis analgetik yang memiliki mekanisme kerja berbeda, dapat meningkatkan khasiat dan keamanan tiap analgetik dalam pengobatan nyeri kanker. Menurut data yang ada, kanker umumnya menyerang penderita usia lanjut. Di usia ini, lansia rentan mengalami nyeri yang disebabkan berbagai kondisi lain diluar kanker, seperti rematik dan lain-lain.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.