Tatalaksana Graves Ophthalmopathy 2 | ethicaldigest

Tatalaksana Graves Ophthalmopathy 2

Terapi radiasi

Seperti layaknya kortikosteroid, terapi radiasi paling efektif pada tahun pertama ketika perubahan fibrotic yang signifikan belum terjadi. Kebanyakan radioterapis menggunakan suatu protokol, yang dimodifikasi oleh Donaldson dan rekan. Secara keseluruhan, 60 - 70% pasien memiliki respon yang baik dengan radiasi, walau pun angkan rekurensi terjadi lebih dari 25% pasien. Perbaikan diharapkan selama 2 minggu hingga 3 bulan setelah terapi radiasi, dan dapat berlanjut hingga 1 tahun.

Bedah

Sekitar 20% pasien dengan TAO perlu mengalami penanganan bedah. Suatu tinjauan 7% pasien menjalani dekompensasi orbital, 9% pembedahan strabismus dan 13% pembedahan kelopak mata. Hanya 2,5% yang membutuhkan semua dari 3 tipe pembedahan. Laki-laki dan pasien usia lanjut tampaknya lebih sering mengalami orbitopati berat, dan membutuhkan intervensi bedah. Untuk melakukan pembedahan, dokter harus menanti hingga kondisi pasien stabil, kecuali jika memang  keadaan darurat untuk mengembalikan hilangnya penglihatan, disebabkan neuropati optik kompresif.

Pembedahan strabismus dan perbaikan retraksi kelopak mata, biasanya tidak dipertimbangkan hingga keadaan eutiroid telah dipertahankan dan tanda-tanda optikal dikonfirmasi stabil, selama 6-9 bulan. Berbagai jenis operasi yang dilakukan pada penderita dengan graves ophthalmopathy, yaitu dekompensasi orbital khusus untuk proptosis berat, operasi otot mata untuk memperbaiki adanya diplopia, dan operasi kelopak mata untuk kepentingan kosmetik.

Dekompresi orbital biasanya dilakukan dengan mengangkat dinding medial dan inferior, melalui pendekatan etmodial. Dekompresi orbital perlu dilakukan, agar hasil akhirnya baik. Dekompresi bedah orbital bertujuan menghilangkan tekanan intraorbita. Pembedahan pada otot-otot yang menggerakkan bola mata, mungkin perlu dilakukan untuk meluruskan pandangan pada penderita yang sudah lama mengidap diplopia.

Prognosis umumnya baik. Kebanyakan pasien tidak memerlukan tindakan pembedahan. Faktor-faktor risiko untuk TAO yang progresif dan berat, yang membuat prognosis menjadi buruk, antara lain: merokok, diabetes, hipertiroidisme berat atau tidak terkontrol dan kemunculan miksedema pretibia.

Beberapa terapi menggunakan obat-obatan juga memberi harapan, dalam penatalaksanaan TAO. Di antaranya adalah selenium antioksidan dengan dosis 200 mcg/hari, seperti ditunjukkan dalam sebuah studi. Pemberian antioksidan selenium ini dilakukan pada penderita TAO, yang mengalami kekurangan selenium berdasar hasil pemeriksaan laboratorium.

Quercetin dinyatakan juga bermanfaat dalam penatalaksanaan TAO. Quercetin ditemukan dalam produk makanan alami dalam hal ini Caper. Menurut literatur, quercetin bekerja dengan cara menghampat sitokin-sitokin proinflamasi.

Obat lain yang juga sudah diujicobakan dalam terapi TAO, adalah anti CD20 (rituximab). Meski demikian tampaknya masih diperlukan studi lebih lanjut, untuk melihat manfaatnya. Hal ini melihat kemungkinan efek samping, yang dapat muncul dari penggunaan obat meski angkanya cukup jarang, seperti peningkatan kejadian infeksi dan multifocal leukoencephalopathy progresif.

Beberapa tindakan pencegahan perlu dilakukan, agar oftalmopathy tidak menjadi lebih berat. Kontrol penyakit tiroid merupakan langkah pertama, dan pasien yang merokok sebaiknya berhenti merokok. Itu karena merokok dapat memperburuk adanya ophthalmopathy. Pada mereka dengan proptosis, sebaiknya kornea dilindungi misalnya dengan kacamata, atau cairan tetes mata khusus agar kornea selalu basah (artificial tears).

Prognosis

Prognosis dari graves ophthalmopathy dipengaruhi oleh beberapa faktor, dan usia juga berperan penting. Anak-anak dan remaja umumnya memiliki penyakit yang ringan tanpa cacat yang bermakna, sampai batas waktu yang lama. Pada orang dewasa, manifestasinya sedang sampai berat dan lebih sering menyebabkan perubahan struktur, disebabkan karena gangguan fungsional dan perubahan gambaran kosmetik.

Diagnosis dini orbitopaty dan laporan pasien dengan risiko berat, progresifitas penyakit diikuti intervensi dini terhadap perkembangan proses penyakit dan mengkontrol perubahan jaringan lunak, dapat mengurangi morbiditas penyakit dan mempengaruhi prognosis dalam jangka waktu lama.

Tatalaksana Graves Ophthalmopathy 1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.