Tata Laksana Umum Komplikasi Kronik DM | ethicaldigest

Tata Laksana Umum Komplikasi Kronik DM

Lansia merupakan populasi yang rentan terhadap terjadinya komplikasi kronik DM, yang dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas. Maka, tata laksana komprehensif terhadap lansia penderita DM tidak dapat terlepas dari upaya mencegah terjadinya komplikasi kronik DM.

Kontrol Gula Darah. Dengan kontrol gula darah yang baik, risiko komplikasi makrovaskular dapat dikurangi. Kontrol gula darah tidak perlu terlalu ketat pada lansia, mengingat risiko hipoglikemia pada lansia penderita DM. Target kontrol gula darah ditentukan oleh status kesehatan serta kemampuan fisik dan mental.

Kontrol Tekanan Darah. Kejadian hipertensi pada lansia penderita DM meningkat, prevalensi 40% pada usia 45 tahun menjadi 60% pada usia 75 tahun. Hipertensi merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular pada DM. “Studi UKPDS menunjukkan, kontrol tekanan darah yang baik dengan antihipertensi manapun, menurunkan risiko komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular,” paparnya.

Kontrol Lemak Darah. Diabetes mellitus dianggap sebagai faktor risiko yang setara dengan penyakit jantung koroner, sehingga dislipidemia pada DM harus dikelola secara agresif. Yaitu kadar kolesterol LDL harus mencapai target di usia 40 tahun, dengan riwayat keluarga menderita komplikasi DM atau mempunyai komponen sindrom metabolik lain.

Berhenti merokok. Diabetes mellitus dan merokok merupakan faktor risiko aterosklerotik yang bersinergi. Selain itu, merokok dapat mempercepat timbulnya mikroalbuminuria yang dapat berkembang ke arah makroproteinemia. Manfaat berhenti merokok, dapat mencegah komplikasi kronik DM; diperoleh setelah 3-6 bulan dan seterusnya.

Penggunaan aspirin. Aspirin 75-162 mg dianjurkan digunakan sebagai pencegahan primer terhadap komplikasi kronik DM. Juga dianjurkan untuk pasien DM berusia >40 tahun dengan riwayat keluarga menderita komplikasi DM, atau mempunyai komponen sindrom metabolik lain.

 Penggunaan penghambat β-adrenergik. Studi UKPDS menunjukkan setelah infark miokard, pasien yang menyandang kontraindikasi relatif terhadap penghambat β- adrenergik (asma, penyakit paru obstruktif kronik, tekanan darah rendah dan fraksi ejeksi ventrikel kiri yang rendah), ternyata dapat menoleransi dan memperoleh manfaat kardioproteksi, dari penggunaan penghambat β-adrenergik. Berdasar studi ini, kecuali ada kontraindikasi absolut (bradikardia, blok jantung, hipotensi berat, gagal jantung yang tidak terkontrol, penyakit paru berat), pasien DM degan riwayat infark miokard sebaiknya diberi penghambat β- adrenergik.

PEMBERIAN INSULIN PADA PASIEN DM LASIA

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.