Strategi Hadapi Resistensi | ethicaldigest

Strategi Hadapi Resistensi

Pengendalian infeksi, terutama di lingkungan rumah sakit dan sarana kesehatan lain, terdiri atas 3 tindakan utama: universal precaution di mana cuci tangan merupakan salah satu bagian terpenting, pengendalian penggunaan antibiotic dan peningkatan kekebalan untuk pencegahan infeksi melalui pemberian vaksin, yang didukung oleh komitmen pimpinan rumah sakit

A. Universal Precaution

Dalam suatu kajian mengenai kepatuhan mencuci tangan oleh Bishof, kekerapan mencuci tangan di ICU meningkat sejalan dengan adanya produk berbasis alkohol. Sebelumnya, Doebbelling dan rekan-rekan memperlihatkan bahwa larutan sabun anti septic, lebih populer dibandingkan sediaan alkohol yang dikaitkan dengan penurunan infeksi di ICU. Doebbelling memperlihatkan dalam kajiannya, bahwa peningkatan 28% dalam mencuci tangan (dengan volume sabun antiseptik yang lebih besar) menghasilkan penurunan angka kejadian sepsis nosokomial dari 45% menjadi 22%. Bukti ini  memperkuat rekomendasi upaya pencegahan penularan patogen di rumah sakit. Dengan tujuan memberikan keamanan dan kenyamanan pasien, serta semua orang di lingkungan rumah sakit

Terjadinya infeksi nosokomial, berhubungan dengan prosedur diagnostik /terapetik yang sering memperlama masa rawat inap pasien di rumah sakit. Sehingga meningkatkan biaya perawatan dan biaya bagi tenaga pelayanan kesehatan bersangkutan. Walau banyak alat bantu pengendalian infeksi, mencuci tangan merupakan teknik yang paling penting dan mendasar dalam mencegah dan mengendalikan infeksi (CDC, 1988). Namun, jangka waktu ideal untuk mencuci tangan tidak diketahui pasti.

Pusat Pengendalian Penyakit (Center Disease Control) dan Pelayanan Kesehatan Masyarakat mencatat, waktu mencuci tangan selama 10-15 detik akan menghilangkan sebagian besar mikroorganisme transien dari kulit (Garner dan Favero, 1985)

Prosedur dan peralatan yang digunakan dalam mencuci tangan:

  • Bak cuci dengan kran air hangat mengalir
  • Sabun atau desinfektan dalam dispenser yang dioperasikan dengan kaki (atau sabun batangan)
  • Handuk kertas

Langkah – Langkah

Rasional

  • Dorong ke atas jam tangan dan lengan baju seragam yang panjang di atas pergelangan tangan Anda. Lepaskan perhiasan
  • Memberikan akses lengkap ke jari-jari, tangan dan pergelangan. Cincin meningkatkan jumlah mikroorganisme pada tangan
  • Pertahankan kuku jari Anda pendek dan terkikir
  • Kebanyakan mikroba pada tangan berasal dari bawah kuku
  • Perhatikan permukaan tangan anda dan jari-jari terhadap adanya luka goresan atau terpotong pada kulit dan kutikula. Laporkan adanya lesi bila merawat klien dengan kerentanan tinggi
  • Luka terbuka dapat menjadi sarang mikroorganisme. Lesi demikian dapat menjadi tempat keluar, meningkatkan pemajanan klien terhadap infeksi atau sebagai jalan masuk, meningkatkan risiko Anda mendapat infeksi
  • Berdiri di depan bak cuci, jaga agar tangan dan seragam Anda tidak menyentuh permukaan bak cuci. (Jika tangan menyentuh  bak cuci selama mencuci  tangan, ulangi proses  mencuci tangan dari awal). Gunakan bak cuci dengan kran yang mudah terjangkau
  • Bagian dalam dari bak cuci merupakan area yang terkontaminasi
  • Alirkan air. Hidupkan keran yang dioprasikan dengan tangan, tutupi bagian atas keran dengan handuk kertas
  • Bila tangan menyentuh kran, tangan dianggap terkontaminasi
  • Hindarkan memercikan air ke seragam Anda
  • Mikroorganisme menyebar dan bertumbuh dalam situasi lembab
  • Atur aliran air sehingga suhunya hangat
  • Air hangat lebih nyaman. Air panas membuka pori-pori kulit, menyebabkan iritasi
  • Basahi tangan dan lengan bawah secara menyeluruh di bawah air mengalir. Jaga agar tangan dan lengan bawah lebih rendah siku selama mencuci
  • Tangan merupakan bagian paling terkontaminasi yang harus dicuci. Air menglir dari kran yang paling bersih ke yang paling terkontaminasi
  • Oleskan 1 ml sabun cair biasa atau 3 ml sabun cair antiseptik pada tangan dan buat berbusa. Bila menggunakan sabun batangan, pegang dan gosok sampai berbusa. Dapat juga digunakan sabun berbentuk granula dan preparat liflet.
  • Jumlah bakteri berkurang secara signifikan pada tangan bila menggunakan 3 - 5 ml sabun antimikrobial
  • Cuci tangan menggunakan banyak busa dan gosokan selama 10-15 detik. Jalin jari-jari dan gosok telapak dan punggung tangan dengan gerakan memutar.
  • Sabun membersihkan dengan mengelimusi lemak dan minyak dan menurunkan tegangan permukaan. Menjalin jari-jari dan ibu jari memastikan bahwa semua permukaan dibersihkan
  • Bila area di bawah jari-jari kotor, bersihkan dengan kuku jari tangan yang lain dan tambahkan sabun. Jaga agar kulit di bawah (di sekitar) kuku Anda tidak luka atau terpotong
  • Pengangkatan kotoran dan sedimen di bawah kuku dengan cara mekanik mengurangi mikroorganisme tangan.
  • Bilas tangan dan pergelangan tangan secara menyeluruh, jaga agar tangan di bawah dan siku di atas
  • Dengan membilas secara mekanik membersihkan kotoran dan mikroorganisme.
  • Keringkan tangan secara menyeluruh, usap dari jari turun ke pergelangan tangan dan lengan bawah

 

B. Pengendalian Penggunaan Antibiotik

Terdapat peningkatan yang cukup mencemaskan dalam resistensi kuman gram positif dan negatif di rumah sakit, terutama di ICU. Tentunya, dari ICU berbagai kuman resisten dapat menyebar ketempat lain, tidak hanya di rumah sakit saja tetapi juga keluar sampai rumah perawatan atau tempat lain, di mana pasien dipindahkan.

Pada tahun 1997-1998, di Jakarta pernah dilakukan penelitian yang memperlihatkan bahwa rumah sakit swasta yang bersih, mewah dan mahal ternyata memiliki kekerapan MRSA (diindikasi oleh resistensi terhadap oksasilin) yang lebih tinggi dari pada RSCM, yang sering dianggap kumuh dan crowded.

Dalam penelitian multi-center-multi-country SENTRY ditemukan, lebih dari 20% E.coli dan lebih dari 30% Klebsiella sp di Indonesia, menghasilkan ESBL (Extended Spectrum β-Lactamase). Ini angka tertinggi di antara negara yang ikut serta dalam penelitian tersebut. Pada tahun 2003, mereka mendapatkan 64% isolate dari rumah sakit yang diuji, ternyata menghasilkan enzyme β-Lactama—suatu enzim yang membuat bakteri resisten terhadap berbagai antibiotika golongan β-Laktam.

Penelitian tersebut memperlihatkan, dalam mengatasi masalah resistensi yang disebabkan β-Lactamase, dibutuhkan penambahan penghambat enzim tersebut, sehingga dapat menurunkan resistensi sampai seperlimanya.

Banyak data memperlihatkan, sekali pun antibiotika bukan satu-satunya obat yang diberikan, kesalahan dalam pemilihan antibiotika dapat membahayakan pasien. Suatu penelitian yang dilakukan di lingkungan ICU memperlihatkan, 211 pasien (23%) mendapatkan terapi awal antibiotika yang tidak sesuai, karena ternyata tidak efektif terhadap patogennya. Dari segi pemberian, ketidaktepatan ditemukan pada 48 (5,2%) kasus.

Ketidaksesuaian terapi antibiotika, terutama ditemukan pada infeksi yang disebabkan P.aeruginosa, S.maltophilia, Acinetobacter spp., MRSA, enterokokus dan jamur. Dalam hal ini, resiko kematian pasien akan meningkat jika diberi pengobatan yang tidak tepat. Suatu pengamatan terbatas yang dilakukan di RSUP Fatmawati, Jakarta, periode Januari-Desember 2008 menunjukkan:

Resistensi terhadap antibiotika telah mendorong dikembangkannya obat-obatan baru, dengan harga yang sangat mahal. Upaya yang harus dilakukan adalah dengan mencegah, atau setidaknya memperlambat, timbul dan menyebarnya resistensi melalui upaya pengendalian infeksi dan kebijakan antibiotika.

Kebijakan antibiotika akan meningkatkan mutu perawatan pasien, melalui penggunaan antibiotik dalam pencegahan dan pengobatan yang benar, penggunaan dana yang efisien, memperlambat timbulnya bakteri multi resisten dan meningkatkan pendidikan bagi para junior, dengan memberikan panduan penggunaan antibiotika yang benar. Panduan antibiotik harus berisi daftar antibiotik yang ada dan disetujui para klinisi, baik untuk profilaksis atau pengobatan dan alogaritma pemilihan antibiotic.

Penggunaan antibiotic di rumah sakit, seharusnya dipantau oleh suatu komisi antibiotik yang bertugas mengembangkan formularium antibiotik, membuat panduan terapi dan profilaksis, me-review penggunaan antibiotik, dan bertanggung jawab akan edukasi serta diseminasi informasi secara tepat, dengan tim pengendali infeksi rumah sakit.

C. Peningkatan kekebalan dengan vaksinasi

Vaksin merupakan salah satu prosedur yang paling berkembang dan paling hemat, dalam dunia kedokteran. Ini merupakan intervensi medis yang memiliki dampak besar, terhadap kesehatan manusia. Seperti vaksin cacar yang dikembangkan oleh Janner, yang berhasil mengeliminasi infeksi virus variola yang telah menyebabkan lebih dari 300 juta kematian. Dampak dari vaksin lain seperti polio dan influenza, telah memperkuat nilai pendekatan tersebut. Pemberian vaksin terbukti telah menurunkan angka kesakitan (morbiditas), yang berarti menurunkan kebutuhan penggunaan antibiotik.

 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.