Stent Terbaru untuk Pasien PJK1 | ethicaldigest

Stent Terbaru untuk Pasien PJK1

Bioresorbable Vascular Scaffold (BVS) sebenarnya bukan barang baru dalam dunia cardiology, karena trial-nya sudah ada sejak 5 tahun yang lalu. Hanya saja result mengenai BVS baru muncul tahun 2013. Menurut dr. Doni Firman, SpJP(K), dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vascular FKUI dan Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta, hingga saat ini pengobatan penyakit jantung koroner terus mengalami perkembangan. Tadinya hanya berupa medika mentosa, dilanjutkan dengan Intervensi Koroner Perkutan Primer (IKPP), kemudian Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) yang kita sebut bypass. “Semuanya masih dilakukan dengan melihat kondisi atau indikasi tertentu dari pasien,” jelasnya.

Jadi, tidak semua penderita serangan jantung harus dilakukan IKPP. Tidak semuanya di CABG atau hanya menggunakan medikamentosa saja, karena harus ada beberapa indikasi yang menjadi pertimbangan dokter.

Teknologi membawa dunia medis ke arah yang lebih maju, seperti halnya teknologi mencegah terjadinya iskemia dan thrombosis baru. “Kita semua tahu, pemasangan stent mau pun procedure bypass, tidak menjamin pasien terbebas dari nyeri dada, atau menjamin pasien tidak terkena serangan di kemudian hari. Namun dengan teknologi yang baru, hal ini bukan tidak mungkin terjadi, dan akan sangat membantu pasien,” jelasnya.

Salah satu masalah yang ditakutkan oleh cardiologist terutama pada bidang intervensi adalah late thrombosis. “Jadi, meski sudah dipasang stent, di mana stent  merupakan benda asing, tentunya tubuh dengan mekanismenya akan mencoba bereaksi untuk melawan. Tubuh akan mengeluarkan substance inflamasi, yang dapat meng-induced terjadinya thrombosis,” jelasnya.

Meski angka kejadianya tidak begitu besar, hanya 0,6 sampai 1,2 %, ini menjadi kehawatiran banyak pihak. Atas banyaknya pertanyaan, ditelitilah oleh para ahli. Mereka mencoba mencari tahu, kenapa kejadian thrombosis. Hasil riset ternyata mengkaitkan dengan suatu fenomena, yang disebut dengan neo atherosclerosis. Menurut dr. Doni, ini merupakan athrosclerosis baru yang terjadi pada lesi yang sudah terbuka, bahkan perilakunya sama dengan lesi sebelum pemasangan stent. “Tidak jinak, karena bisa terjadi rupture plaque yang dapat mengakibatkan terjadinya syndrome koroner akut.”

Bukti lain setelah dilakukan pemasangan stent, yang ditunjukkan dengan sebuah angioscopic untuk melihat kondisi pembuluh darah, terlihat bahwa pembuluh darah yang sudah dibuka, mengalami kekuningan. Ini mengindikasikan banyaknya lemak yang menempel, yang dapat mengakibatkan terjadinya thrombosis pada penderita.

Secara normal, bentuk atau kondisi pembuluh darah manusia tidaklah lurus seperti pipa. Pembuluh darah manusia umumnya berkelok-kelok. Dari kondisi ini, menurut para ahli, sulit sekali mencari stent dengan conformability yang sesuai dengan bentuk pembuluh darah. “Hampir semua stent yang kita pasang, cenderung meluruskan sebagian tempat pembuluh darah,” jelasnya.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa dengan mengubah anatomi pembuluh darah yang tadinya berkelok-kelok lalu di-stent, dan pembuluh darah cenderung menjadi lurus atau membentuk sudut di beberapa tempat, dikaitkan dengan tingginya Major Adverse Cardiovascular Event (MACE). “Jadi, orang yang pembuluh darahnya dipaksa lurus, tidak sesuai dengan kondisi sebelumnya dengan menggunakan stent ternyata kejadian serangan jantung, vein thrombosis lebih besar. Ini menjadi tantangan bagi para cardiac interventionist, untuk memilih stent yang baik sehingga dapat mengikuti bentuk pembuluh darah. Terkait MACE,” jelasnya.

Hal lain yang baru-baru ini muncul terkait dengan pemasangan stent, adalah lead sturt structure. “Sebagai gambaran, penampang stent ibarat per ballpen. Ketika kita pasang, akan dikembangkan dan menempel di pembuluh darah. Tugasnya adalah melebarkan pembuluh darah yang tadinya menyempit,” jelasnya. Ternyata pemasangan stent bukan tanpa masalah, karena juga bisa patah.

Patahannya bisa menyeluruh atau hanya beberapa fragment, dan diklasifikasikan dalam beberapa stadium 1, 2, 3 dan 4. Semakin besar stadiumnya,  semakin jauh jarak antar fragment. Patahnya sturt menimbulkan risiko serangan jantung berulang atau kejadian thrombosis di kemudian hari. “Bisa dikatakan, strut structure menjadi salah satu fenomena yang menakutkan bagi para cardiac interventionist,” tambahnya.

Masalah yang timbul pasca pemasangan stent yang lain, adalah hilangnya fungsi physiologist yang ada pada pembuluh darah. Dengan adanya stent, fungsi pulsatile atau fungsi bergerak sesuai denyut nadi pada pembuluh darah akan hilang, bahkan pembuluh darah cenderung rigid. Selain itu pada pembuluh darah yang dipasang stent, tidak terjadi vasomotion.

Dalam suatu gambaran virtual histology ultrasound, pasien yang sudah melakukan pemasangan stent metal, ternyata lemak atau jaringan ikat yang ada di sekeliling stent terus berkembang. “Kondisi ini makin lama akan menekan stent, dan tentunya tidak diinginkan.”

Salah satu hal yang tidak diinginkan para interventionist adalah remodeling atau disebut juga late acquired malapposition. Dalam kondisi ini, pinggir-pinggir dari stent yang harusnya tetap menempel pada pembuluh darah, ternyata semakin lama semakin melebar sehingga memungkinkan terjadinya thrombosis. “Konsep yang mengatakan semakin kuat dan bisa menempel stent pada pembuluh darah, maka semakin baguslah kuslitas stent, benar adanya. Tetapi, tidak pada stent metal,” jelasnya.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.