Sleep Paralysis | ethicaldigest

Sleep Paralysis

Sleep paralysis adalah suatu keadaan, ketika seseorang merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak saat akan tidur atau bangun tidur. Hampir semua orang pernah mengalaminya. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja, lelaki atau perempuan. Rata-rata, pertama kali seseorang mengalami gangguan tidur ini adalah di usia 14-17 tahun.

Sleep paralysis (tindihan) bisa berlangsung dalam hitungan detik hingga menit, dan umumnya tidak berbahaya. Yang menarik, saat tindihan penderita sering mengalami halusinasi. Seperti, melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur. Tak heran, bila fenomena ini dikaitkan dengan hal mistis. Memori yang menakutkan itu dapat bertahan lama dalam ingatan seseorang, yang dapat berakibat fatal. Diduga, ada hubungan antara sleep paralysis dengan faktor genetik. Tapi, hal ini masih menjadi bahan perdebatan.

Di dunia Barat, fenomena tindihan sering disebut mimpi buruk inkubus atau old hag berdasarkan bentuk bayangan yang muncul. Ada juga yang merasa melihat agen rahasia asing atau alien. Dalam beberapa lukisan abad pertengahan, tindihan digambarkan dengan sosok roh jahat yang menduduki dada seorang perempuan hingga ia ketakutan dan sulit bernapas.

Fisiologi Tidur

Tidur dibagi dua tahap, yaitu Non Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM) di mana bola mata bergerak cepat. Tidur NREM secara umum terjadi pada 80% dari seluruh waktu tidur, sedangkan REM 20%. Tidur NREM disebabkan menurunnya aktivitas neuron monoaminergik (noradrenergik dan serotonergik), dan tertekannya aktivitas neuron kholinergik. NREM disebut juga tahap tidur yang tenang atau dalam. Ditandai dengan denyut jantung dan frekuensi pernafasan yang stabil dan lambat, serta tekanan darah yang rendah.

Tidur REM disebabkan inaktivasi neuron monomainergik, sehingga memicu aktivitas neuron kholinergik (neuron retikuler pons). REM ditandai dengan gerakan mata yang cepat dan tiba-tiba, peningkatan aktivitas saraf otonom dan mimpi. Pada tidur REM, terdapat fluktuasi luas dari tekanan darah, denyut nadi dan frekuensi nafas. Keadaan ini disertai penurunan tonus otot dan peningkatan aktivitas otot involunteer.

“Pola tidur dewasa muda adalah konstan, dimulai dari NREM yang terdiri atas tahap I, II, III, dan IV kemudian dilanjutkan ke fase REM. Pada orang normal, fase ini akan terjadi pengulangan 4-6x dalam semalam,” ujar dr. Budhi Antariksa, Sp.P, Deputi Manager Bidang Perencanaan dan Pengembangan Riset FKUI.

Tidur dimulai pada NREM tahap I (tidur ringan), suatu tahap pendek yang hanya berlangsung beberapa menit. Ambang bangun pada tahap ini, sangat redah. Kemudian memasuki tahap II (tidur sebenarnya) dengan tidur yang lebih dalam dari tahap I, dengan fase awal sekitar 5 – 25 menit. Tahap III diawali aktivitas voltase rendah gelombang lambat pada EEG. Tahap ini hanya berlangsung beberapa menit, kemudian masuk ke tahap IV NREM yang berlangsung 20-40 menit. Tidur NREM tahap I dan II disebut juga tidur yang dangkal (gelombang theta). Sedangkan NREM tingkat III dan IV adalah tahap yang lebih dalam atau tidur gelombang lambat (gelombang delta).

Tidur REM tidak terjadi dengan sendirinya. Biasanya disertai tidur gelombang lambat. Pada tidur yang normal, masa tidur REM berlangsung 5-20 menit. Rata-rata timbul setiap 90 menit. Periode pertama terjadi 80-100 menit setelah seseorang tidur. Tidur REM menghasilkan pola EEG yang menyerupai tidur NREM tahap I dengan gelombag beta, disertai mimpi aktif, tonus otot yang sangat rendah, frekuensi jantung dan nafas tidak teratur dan gerakan otot yang tidak teratur (pada mata menyebabkan gerakan bola mata yang cepat).

Orang dalam kondisi ini, lebih sulit dibangunkan daripada tidur gelombang lambat. Menurut Al Cheyne, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap rapid eye movement (REM). Saat kondisi tubuh terlalu lelah dan kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Umumnya, tahapan tidur dimulai dari keadaan sadar (hendak tidur), kemudian diikuti tahap tidur paling ringan. Pada orang dengan sleep paralysis, tahapannya langsung meloncat ke tahap mimpi (REM). Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM, tubuh belum siap. Disinilah sleep paralysis terjadi.

Kondisi ini biasanya dipicu oleh suatu hal yang tidak terkontrol, yang menyebabkan stress hingga terbawa dalam mimpi. Hal lain yang dapat mempengaruhi terjadinya sleep paralysis, adalah lingkungan kerja. Misalnya, penderita bekerja shift sehingga menderita kurang tidur. Atau, memiliki pola tidur yang tidak teratur. Sleep paralysis juga merupakan tanda-tanda narkolepsi (serangan tidur mendadak tanpa rasa kantuk), sleep apnea (mendengkur), kecemasan dan depresi.

Narkolepsi

Narkolepsi adalah gangguan tidur yang diakibatkan gangguan psikologis. Penderita bisa langsung tertidur pada saat yang tidak tepat, seperti saat sedang memimpin rapat. Biasanya, terjadi serangan pada kondisi emosi yang tegang seperti  marah, takut atau jatuh cinta. Serangan narkolepsi dapat melumpuhkan seseorang dalam waktu beberapa menit dari saat dia masih sadar, yang secara tiba-tiba membawanya ke alam mimpi.

Para pakar di Jepang menemukan variasi gen yang diyakini erat kaitanya dengan narkolepsi, yang ditandai dengan rasa kantuk berat pada siang hari, melemahnya penglihatan serta menurunnya kinerja otot. Kondisi ini diperkirakan telah menjangkiti 1 dari 2.500 orang di Amerika Serikat dan Eropa. Tetapi, menurut hasil penelitian di Jepang, prevalensinya lebih dari 4x lipat.

Para peneliti menganalisa DNA 222 orang Jepang yang mengalami narkolepsi dan membandingkannya dengan 389 orang lain yang normal. Hasilnya, sebuah varisai gen ditemukan pada setiap orang yang menderita narkolepsi. Menurut Prof. Katsushi Tokunaga dari Departemen Ilmu Genetika Universitas Tokyo, sebanyak 45% orang dengan narkolepsi memiliki variasi gen ini lebih besar, bila dibandingkan dengan yang tidak mengalami kondisi ini (30%). Dengan temuan gen ini, diharapkan di masa depan akan terbuka jalan untuk menemukan pengobatan yang tepat bagi penderita narkolepsi.

Dalam penelitian tersebut, gen penyebab kantuk ditemukan antara gen CPT1B dan CHKB yang saling berhubungan. CPT1B akan mengatur enzim yang menyebabkan kantuk, sedangkan CHKB berhubungan dengan siklus tidur seseorang. Langkah lebih lanjut telah ditempuh, dengan meneliti varian gen yang sama pada 424 orang Korea, 785 orang Eropa, serta 184 keturunan Afro-Amerika.

Hasil yang sama didapat pada orang Korea. Tetapi, penelitian ini tidak terbukti pada orang Eropa dan Afro-Amerika. “Kami belum menemukan  penyebab, mengapa gen ini hanya ditemukan pada orang di Jepang dan Korea. Mungkin penyebabnya adalah seleksi atau peluang perubahan gen,” ujar Tokunaga.

Sleep Disorders Breathing (SDB)

SDB adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan adanya apnea (henti nafas) dan hipopnea (kurang nafas) waktu tidur. Umumnya akan menyebabkan terbangun sesaat dari tidur, dan kekurangan oksigen (hipoksemia). Apnea didefinisikan sebagai terhentinya aliran udara ke saluran nafas, selama 10 detik atau lebih.

Apnea merupakan gangguan tidur yang cukup serius. Lebih dari 5 juta penduduk Amerika Serikat mengalami gangguan ini. Faktor risiko terkena gangguan ini antara lain: kelebihan berat badan (overweight), usia paruh baya terutama pada wanita, atau usia lanjut (lansia) yang pernah mengalami ketergantungan obat.

Apnea adalah penyakit yang disebut juga ”to fall a sleep at the wheel” karena sering dialami ketika penderita sedang mengemudikan mobil. Apnea terjadi karena fluktuasi atau irama yang tidak teratur dari denyut jantung dan tekanan darah. Ketika terserang, penderita seketika merasa mengantuk dan jatuh tertidur.

Fluktuasi denyut jantung dan tekanan darah yang tinggi, dapat menyebabkan kematian seketika pada penderita. Sedangkan hipopnea adalah berkurangnya aliran udara, setidaknya 50% selama 10 detik atau lebih. Sebagai bentuk gangguan tidur yang paling sering ditemukan, sleep apnea  dikategorikan menjadi:

  • Obstructive Sleep Apnea (OSA). Di sini, terjadi sumbatan mekanik (kolaps saluran pernafasan) yang mengakibatkan apnea, namun gerakan dinding dada tetap ada. OSA merupakan jenis apnea saat tidur yang paling umum. Gejala utama berupa mendengkur dan mengantuk berlebihan di siang hari.
  • Central Sleep Apnea (CSA). Pada tipe ini, baik aliran udara pernafasan maupun gerakan dinding dada terhenti. Terjadi karena hilangnya kemampuan bernafas, yang mengakibatkan berkurangnya atau bahkan terhentinya aliran udara ke saluran nafas“Berbeda dengan OSA, pada CSA tidak ada sumbatan mekanik di sepanjang saluran pernafasan. Tetapi, otak gagal memberikan sinyal pada otot-otot untuk bernafas. Umumnya tidak dijumpai dengkuran,” jelas dr. Budhi.
  • Apnea Campuran. Yaitu apnea sentral, diikuti apnea obstruktif.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.