Sleep Paralisis Akibat Kurang Tidur | ethicaldigest

Sleep Paralisis Akibat Kurang Tidur

Tidur adalah keadaan istirahat alami yang dibutuhkan untuk kesehatan. Sama halnya dengan makan dan minum, tidur juga merupakan kebutuhan dasar manusia. Layaknya mesin, tubuh membutuhkan waktu untuk istirahat guna menunjang perbaikan dan pemulihan. Karena itu, tidur merupakan bentuk istirahat yang paling bermutu bagi tubuh.

Tidur normalnya 7-9 jam/hari; bisa lebih banyak bagi orang yang sangat aktif atau sedang sakit. Banyak manfaat yang diperoleh dari tidur normal, di antaranya :

  1. Tubuh memroduksi hormon pertumbuhan pada anak-anak dan orang dewasa muda.
  2. Produksi protein meningkat. Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan sel dan memperbaiki  kerusakan sel.
  3. Aktivitas otak pada bagian pengontrolan emosi, pengambilan keputusan dan hubungan sosial akan istirahat total.
  4. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tikus menemukan, terjadi sebuah pola signal yang terjadi berulang-ulang, yang mirip pada saat terjaga. Pola signal tersebut dapat membantu melakukan enkode pada sistem ingatan dan meningkatkan kemampuan belajar.

Itulah, mengapa manusia sangat membutuhkan istirahat melalui tidur yang cukup. Jika terjadi gangguan tidur dan berlangsung terus menerus, keempat manfaat tersebut tidak bisa didapat. Sehingga, dapat menyebabkan kualitas hidup menurun.

Penyebab Sleep Paralisis

Sebagian besar orang menganggap, gangguan tidur adalah hal biasa. Sebenarnya, ganguan tidur berdampak buruk bagi tubuh. Sebuah penelitian oleh Universitas Pennsylvannia menunjukkan bahwa pada gangguan tidur, seperti kurang tidur sama berbahayanya dengan tidak tidur. Walau, kurang tidur tidak berpengaruh pada rutinitas sehari-hari, hal itu bisa menimbulkan masalah kesehatan. Antara lain:

  • Obesitas: Tidur berperan dalam kemampuan tubuh untuk mengeluarkan neurohormon. Ketika jumlah pengeluaran hormon menurun, kesempatan bertambah berat badan meningkat.
  • Tekanan darah: Tekanan darah secara alami akan turun selama tidur. Akibat kurang tidur, dapat memicu hipertensi dan masalah kardiovaskular.
  • Diabetes: Kemampuan tubuh menggunakan insulin dapat terganggu, akibat kurang tidur sehingga memicu diabetes.

Gangguan tidur tidak timbul dengan sendirinya, beberapa faktor penyebab bisa memicunya. Yang paling memiliki pengaruh terhadap gangguan tidur adalah pola tidur dan perubahan waktu tidur, seperti halnya yang terjadi pada gangguan sleep paralisis. Penelitian di Stanford yang menunjukkan bahwa :

  • Beberapa orang yang memiliki kebiasaan tidur tidak teratur sering mengalami sleep paralisis.
  • Sebuah studi menunjukkan, 35% orang yang biasa mengalami sleep paralisis kadangkala juga mengalami kepanikan saat bangun tidur. Aau terjaga, akibat mimpi atau kebisingan.
  • Sebanyak 16% orang yang biasa mengalami sleep paralisis juga terbukti mudah panik, wwalau prosentasenya tidak cukup kuat untuk menghubungkannya.

Pola Tahapan Tidur

Pola tidur manusia terus mengalami perubahan, sesuai dengan tingkat usia dan aktivitas. Nantinya hal itu dapat memberikan pengaruh terhadap pola tidur. Karenanya, perlu dilakukan penyesuaian antara jadwal aktivitas dengan pola tidur. Tujuannya agar mendapat kualitas tidur yang baik dan produktivitas kerja tubuh meningkat.

Dalam pola tidur, terdapat arsitektur tidur yang merupakan perekam gelombang otak selama tidur, yang menunjukkan adanya aktivitas gelombang otak. Dalam arsitektur tidur ini  terdapat 2 tahapan utama, yaitu rapid eye movement (REM) dan non-rapid eye movement (NREM).

“Dulu dalam arsitektur tidur terdapat tahap 1, 2, 3, 4, dan REM. Tapi mulai Juli 2008 tahapan tidur dikenal dengan N1, N2, N3 (gabungan antara N3 dan N4), lalu R (REM). Normalnya, dalam keadaan tidur orang akan melewati tahapan ini secara gradual, baik naik atau turun. Di tahap N, akan terjadi sinyal penurunan aktivitas gelombang otak, sedangkan di tahap REM aktivitas otak kembali aktif seperti saat sadar yang ditandai mimpi,” ujar dr. Andreas Prasadja, RPSGT., dari RS Mitra Kemayoran, Jakarta.  

  • Tahap N1,i orang akan mulai mengantuk dan secara perlahan kesadaran menjadi hilang. Tahap ini merupakan tahap drowsiness, yang merupakan tahap di mana pikiran terasa melayang-layang tidak menentu. Tapi masih menyadari kondisi di sekitarnya, sehingga merasa belum tidur
  • Tahap N2, merupakan kondisi di mana seseorang akan semakin dalam tertidur sehingga makin sulit dibangunkan. Tahap ini adalah tahap tidur terbanyak, yaitu 50% dari total tidur dalam satu malam.
  • Tahap N3, adalah tahap tidur terdalam yang terjadi sekitar 10 menit setelah tahap N2, tahap ini disebut slow wave. Itu karena gelombang otak semakin melambat, dengan frekuensi yang lebih rendah. Dalam tahap ini, terdapat hormone yang bekerja untuk perbaikan jaringan yang rusak, yaitu hormon pertumbuhan (growth hormone) dan prolaktin. Ketika bangun dari tahap ini, kita tidak dapat langsung sadar sempurna. Kita butuh waktu beberapa lama untuk kembali pulih.  
  • Tahap REM merupakan puncak dari tidur, di mana seseorang akan mengalami suatu mimpi yang ditandai dengan bola mata bergerak-gerak dengan cepat dan elektroensefalografi (EEG), yang menunjukkan aktivitas otak meningkat drastic; sama seperti saat bangun. Setelah tahapan REM selama 10 menit, kita akan kembali ke tahap N2 dan seterusnya hingga satu siklus terpenuhi.  

Menurut dr. Andreas, kondisi sleep paralisis banyak terjadi pada orang kurang tidur atau kelelahan, yang disebut hypnagogic hallucination. Yaitu suatu kondisi saat kita setengah sadar menjelang tidur. Siapa saja bisa mengalaminya, tidak harus memiliki gangguan tidur.

Pada sleep paralisis, pola tidur terjadi tumpang tindih antara gelombang otak sadar N1 dan REM. Dari tahapan terjaga ini, nantinya masuk ke tahap N1, tapi selanjutnya langsung melompat ke tahap REM tanpa masuk ke N2 dan N3 lebih dulu. Hal ini menyebabkan keadaan setengah sadar dan kemudian ditambah dengan adanya mimpi pada tahap REM, yang membuat seseorang dalam keadaan ini berhalusinasi.

Ada 2 hal yang khas pada tahap tidur REM, yaitu adanya mimpi yang muncul sebagai halusinasi dan ada sebuah sistem pengaman dalam tubuh. Gelombang otak ketika mimpi sangat mirip pada saat kita sadar. Pengaman di dalam tubuh ini berguna, agar tubuh tidak bergerak-gerak sesuai dengan mimpi yang terjadi, sehingga badan kita dilumpuhkan.

“Pada saat sleep paralisis, karena kondisi kita mengalami setengah sadar, terjadi sesuatu yang membuat tubuh kita seolah-olah tidak bergerak, terasa tertindih. Ditambah lagi dengan adanya sejumlah penampakan, padahal itu hanyalah halusinasi dari mimpi,” kata dr. Andreas. 

“Selain badan terasa lumpuh, nafas terasa berat dan dada seperti tertindih. Dalam pernapasan terdapat dua otot pernapasan, yaitu ada otot pernafasan normal yang biasa kita lakukan sehari-hari. Ada juga otot pernapasan ekstra, yang digunakan untuk menarik napas lebih dalam. Ternyata, otot pernapasan ekstra ini ikut dilumpuhkan, sehingga saat terbangun napas terasa berat dan tidak bisa bernapas,” katanya.

Perubahan Waktu Tidur

Berubahnya waktu tidur, ikut berperan dalam pola tidur. Jika kita dapat mengelola waktu tidur dengan baik, kita akan memperoleh manfaat. Tapi jika waktu tidak bisa dimanfaatkan, justru sebaliknya. Mereka yang memiliki aktivitas kerja tidak biasa, akan mengalami pergeseran irama sirkardian (siklus yang berlangsung 24 jam). Akibatnya, waktu tidurnya mengalami pergeseran. Misalnya, mereka yang bekerja dalam shift, biasanya akan mengalami kurang tidur. Ini menyebabkan pola tidur yang tidak teratur.

Begitu juga bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan ke luar negeri, waktu tidur juga akan berubah. Jika pergi ke arah timur, kita akan memiliki waktu lebih pendek dari 24 jam dibandingkan ke arah barat yang yang justru memiliki waktu lebih dari 24 jam. Untuk itu, jika ke arah timur sebaiknya tidurlah lebih awal. Jika waktu tidur ini terganggu dengan adanya perubahan waktu tidur, biasanya akan mengalami gangguan yang dinamakan jetlag.

Jetlag merupakan gangguan tidur, yang disebabkan perjalanan melewati beberapa zona waktu yang berakibat jam biologis tidak sesuai dengan jam lingkungan, yang biasa kita tempati. Seperti halnya orang yang baru pulang bepergian menggunakan pesawat udara dari negara lain, dengan perbedaan waktu yang banyak.

Jam biologis tidak bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan waktu secara mendadak. Agar "jam biologis" tubuh tetap, bangunlah pada waktu yang kurang lebih sama, tidak peduli apakah kita merasa cukup tidur atau tidak. Usahakan untuk menjaga keteraturan dalam berangkat mau pun bangun tidur, baik pada hari kerja atau hari libur.

Kalau misalnya kita harus bepergian jauh, satu-satunya jalan adalah mencari kemungkinan untuk kita bisa "menebus"nya. Setelah itu, kembalilah pada konsep keteraturan. Berangkat dan bangun tidur sesuai jadwal yang telah ditentukan, makan seperti yang biasa kita lakukan. Pada mereka yang mengalami ini, biasanya akan terjadi gangguan, seperti:

  • Insomnia
  • Lelah
  • Pola tidur terganggu
  • Kemampuan konsentrasi buruk
  • Hilang nafsu makan
  • Buang air tidak teratur

Untuk menghindari hal-hal tersebut, ada baiknya kita mempersiapkan diri menjadwal pola tidur (jurnal tidur) dan waktu yang cukup untuk istirahat, agar kebutuhan tidur tercukupi. Yang paling penting adalah, hindari konsumsi minuman yang mengandung stimulant seperti kopi karena bisa berpengaruh pada pola tidur.                              

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.