Sindrom Geriatri (Bagian 2) | ethicaldigest

Sindrom Geriatri (Bagian 2)

Selain manifestasi klinik yang telah disebutkan, pada lansia terdapat aspek khusus berkenaan dengan DM, yang dikenal dengan sindrom geriatri. Tatalaksana DM harus memperhatikan semua aspek dalam sindrom geriatri, diantaranya:

  • Polifarmasi

Polifarmasi adalah penggunaan 5 atau lebih obat-obatan sekaligus. Pada penderita DM, polifarmasi mungkin tak dapat dihindari. Selain diperlukan untuk pengendalian gula darah, obat juga diperlukan untuk mengatasi gangguan tekanan darah, dispipidemia dan komplikasi vaskular. Knyataannya, selain meningkatkan risiko terjadinya efek samping obat, pada lansia polifarmasi meningkatkan kerentanan terhadap depresi, gangguan fungsi kognitif dan risiko terjatuh.

Salah satu efek samping pada lansia penderita DM yang paling serius adalah hipoglikemia. Predisposisi untuk keadaan ini, antara lain berupa makan tidak teratur, penurunan berat badan, aktivitas berlebih, gangguan hati, gangguan ginjal, penggunaan alkohol dan kebingungan akan regimen pengobatan. Risiko ini terutama tinggi pada penggunaan sulfonilurea atau insulin sekretogogue. Maka, sulfonilurea kerja panjang tidak boleh digunakan pada lansia dengan DM. Pilihan obat untuk lansia penderita DM tergantung dari fungsi hati, fungsi ginjal, obat lain yang dipakai dan kemampuan memonitor diri sendiri. Untuk meminimalisasi risiko polifarmasi, daftar obat-obatan perlu ditinjau secara berkala. Yang tidak terlalu bermanfaat dapat dihentikan pemberiannya.

  • Inkontinensia Urin

Kejadian inkontinensia urin meningkat pada lansia penderita DM; wanita berisiko 2x lebih banyak daripada pria. Faktor yang berperanan antara lain poliuria, glikosuria, neurogenic bladder, infeksi saluran kemih, efek samping pengobatan dan impaksi feces. Inkontinensia urin persisten perlu dievaluasi dan diatasi, karena dapat menurunkan kualitas hidup dan memicu terjadinya isolasi sosial.

  • Risiko Komplikasi Kronik pada Lansia Penderita DM

Diabetes mellitus tipe 2 merupakan penyakit kronik dan dapat menimbulkan komplikasi kronik, berupa komplikasi makrovaskular maupun mikrovaskular. Dalam studi United Kingdom Prospective Diabetes Study tampak bahwa dalam 9 tahun, 9% pasien DM mengalami komplikasi mikrovaskular, 20% mengalami komplikasi makrovaskular, dan komplikasi makrovaskular berupa aterosklerotik merupakan 75% penyebab kematian pada DM tipe 2. Mereka yang tidak ada riwayat serangan jantung berisiko mengalami infark miokard, sama dengan pasien non-DM yang punya riwayat serangan jantung. Ini menunjukkan, DM merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular. Komplikasi mikrovaskular antara lain dapat berupa retinopati, nefropati, neuropati dan penyakit pembuluh darah perifer. Kejadiannya berbanding lurus dengan lamanya menderita DM dan kontrol gula darah yang buruk. Di Amerika Serikat, dilaporkan DM merupakan penyebab kebutaan dan gagal ginjal utama.

SINDROM GERIATRI (BAGIAN 1)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.