Sindrom Geriatri (Bagian 1) | ethicaldigest

Sindrom Geriatri (Bagian 1)

Selain manifestasi klinik yang telah disebutkan, pada lansia terdapat aspek khusus berkenaan dengan DM, yang dikenal dengan sindrom geriatri. Tatalaksana DM harus memperhatikan semua aspek dalam sindrom geriatri, diantaranya:

  • Depresi

Kejadian depresi pada lansia penderita DM, 2x lipat dibanding lansia umumnya, dan prevalensi pada wanita lebih banyak (28%:18%). Sayangnya, depresi pada lansia seringkali tidak terdeteksi. Depresi meningkatkan biaya pelayanan kesehatan dan memberi pengaruh buruk pada pengobatan DM, karena tata laksana DM yang efektif memerlukan partisipasi pasien. Sebuah studi memperlihatkan, terdapat hubungan yang bermakna antara keparahan depresi dan keberhasilan pengobatan. Jadi, tata laksana DM kurang berhasil pada pasien yang menderita depresi. Mekanisme hubungan antara DM dan depresi belum jelas, tetapi hiperglikemia dapat menyebabkan depresi dan sebaliknya, depresi dapat menyebabkan hiperglikemia.

Metaanalisis dari 24 studi memperlihatkan, terdapat hubungan signifikan antara nilai HbA1C dan gejala depresi. Tata laksana depresi dapat meningkatka n proporsi pasien dengan kontrol gula darah yang baik. Karena depresi dapat mengganggu tata laksana DM, sebaiknya dilakukan skrining berkala atas depresi pada lansia penderita DM. Saat ini tersedia berbagai modalitas skrining antara lain Geriatric Depression Scale, Beck Depression Inventory, atau Zung’s Mood Scale. Pada lansia penderita DM yang mengalami depresi rekuren, perlu ditelaah obat yang diteriman; adakah obat yang menyebabkan depresi di antara obat-obatan tersebut.

  • Gangguan Fungsi Kognitif

Berbagai studi melaporkan hubungan antara DM dan gangguan fungsi kognitif, yang meningkatkan risiko terjadinya demensia. Hubungan gangguan fungsi kognitif pada lansia penderita DM cukup kuat, dan wanita mengalami penurunan fungsi kognitif yang lebih bermakna dibanding pria. Studi lain membuktikan, lansia dengan kontrol gula darah yang baik lebih lambat mengalami gangguan fungsi kognitif.

Seperti halnya depresi, gangguan fungsi kognitif dapat menganggu kemampuan pasien berpartisipasi dalam tata laksana DM, baik dalam hal modifikasi gaya hidup maupun dalam minum obat. Oleh sebab itu, penting dilakukan skrining atas gangguan fungsi kognitif pada awal pengobatan dan setiap ada perubahan pada kemampuan lansia dalam mengurus diri sendiri.

  • Keterbatasan Fisik dan Risiko Terjatuh

Diabetes mellitus merupakan faktor risiko utama untuk gangguan fungsi tungkai bawah, gangguan keseimbangan dan kemampuan gerak. Dibanding lansia umumnya, risiko keterbatasan fisik 2-3x lipat pada lansia penderita DM, dan risiko ini lebih besar pada wanita. Dampak semua ini adalah, lebih banyak lansia wanita penderita DM yang mengalami jatuh dan fraktur. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengkajian berkala terhadap faktor risiko terjatuh pada lansia penderita DM agar dapat diupayakan pencegahannya.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.