Simvastatin Turunkan Kematian Lansia 2

Simvastatin Turunkan Kematian Lansia 2

Ini penelitian klinis pertama mengenai manfaat statin pada pneumonia?

Dengan disain kolinis acak tersamar ganda, ya. Jumlah pasien yang dilibatkan 129 orang. Sebenarnya jumlah pasien tidak terlalu besar, jika melihat efek yang didapatkan. Karena ternyata pada penelitian saya ini, terjadi penurunan risiko kematian sebesar 8,9%. Sementara, perbedaan risiko 8,9% kalau dalam ilmu statistik, perbedaan tersebut belum mencapai kemaknaan. Sehingga penelitian tambahan berupa uji klinis yang sama dengan jumlah sampel yang lebih besar, harus dikerjakan juga.

Namun, dalam penelitian saya, meski hasilnya belum bermakna, sudah ada penurunan 8,9%. Sehingga jika kita terapkan hasil ini pada data yang kita dapatkan tahun 2010, di mana angka kematiannya masih 24%, maka angka kematian turun 16%.

Apakah dalam penelitian, pasien selain mendapat statin juga mendapat terapi lain?

Statin yang dipakai dalam penelitian ini sebagai terapi tambahan. Pasien tetap mendapat terapi pneumonia, berdasarkan standar pelayanan di RSCM. Tidak ada perbedaan apa pada semua pasien. Perbedaannya, satu kelompok diberi simvastatin. Kelompok lainnya tidak diberi simvastatin. Hingga penelitian ini selesai, dokter atau perawat yang merawat tidak ada yang tahu, mana yang mendapat simvastatin dan mana yang tidak. Ini untuk menghilangkan bias.

Selain penurunan mortalitas, temuan apa lagi yang didapat dari penelitian ini?

Dalam penelitian ini, selain melihat penurunan mortalitas, saya ingin melihat apakah ada peningkatan sistim imun, penurunan inflamasi dan perbaikan koagulasi. Seperti saya sebutkan, ada empat mekanisme, kenapa statin bisa menurunkan mortalitas. Yaitu melalui efeknya pada sistim imun, inflamasi, koagulasi dan antibakteri. Tapi, saya hanya melihat 3 hal. Saya lakukan pemeriksaan laboratorium respon imun, dengan memeriksa TNF alfa dan pemeriksaan laboratorium untuk reaksi inflamasi, CRP, dan parameter untuk melihat proses pengentalan dan pemecahan gumpalan darah adalah PAI-1. Kenapa saya periksaa ketiganya, karena ketiganya bisa menjelaskan mekanisme kerja statin.

Hasilnya, yang terbukti adalah reaksi inflamasi CRP dan PAI 1. Pada kelompok yang tidak diberi PAI 1 malah meningkat. Ini buruk, artinya gumpalan darah tidak bisa dipecah. Sementara pada pasien yang mendapat simvastatin, PAI-1 menurun. CRP juga menurun, tapi penurunan pada TNF alfa tidak terbukti. Pada yang diberi atau tidak diberi simvastatin sama saja. Saya bisa mengambil kesimpulan, pada pasien-pasien yang saya ikutkan ini ada penurunan  angka kematian, akibat penurunan reaksi inflamasi dan perbaikan sistim koagulasi.

Efek ini berlaku untuk semua statin, atau hanya simvastatin saja?

Ini yang juga menjadi diskusi, karena ternyata antara satu statin dan lainnya punya efek berbeda-beda. Apakah ini suatu statin original yang diekstraksi dari jamur penisilin atau ini adalah statin sintetik. Simvastatin termasuk statin yang diekstraksi langsung dari jamur penisilin. Sementara statin lain seperti rosuvastatin dan atorvastatin merupakan statin sintetik. Jadi walau pun efek penurunan kolesterol lebih baik, manfaat di infeksi belum tentu lebih baik.

Yang membedakan lainnya adalah kemampuannya mengikat lemak. Atau istilah farmakologinya lipofilik. Nah, statin yang saya gunakan termasuk statin yang daya lipofiliknya tinggi; mampu berpenetrasi atau masuk ke membrane sel lebih baik. Sementara statin yang lebih bersifat hidrofobik, masuknya ke dalam sel memerlukan sistim transport khusus. Jadi, karena sifatnya yang lipofilik dan diestraksi dari jamur penisilin langsung, simvastatin yang saya pilih. Untuk statin yang lain, saya tidak bisa menyampaikannya karena berbeda.

Pasien yang dilibatkan punya masalah dengan kolesterol atau mengidap penyakit kardiovaskular?

Tidak selalu. Saya tidak memilih, pasien punya penyakit kolesterol atau kardiovaskuler. Karena saya ingin hasil penelitian ini tidak hanya diterapkan pada pasien-pasien yang punya penyakit kardiovaskular. Tapi, dalam pemilihan pasien, saya harus berhati-hati. Pasien yang kadar koleterolnya sangat tinggi, harus dikeluarkan dari penelitian. Karena dalam penelitian ini pasien akan mendapat simvastatin atau plasebo. Berbahaya jika pasien punya kadar kolesterol tinggi, tapi mendapat plasebo. Begitu juga untuk pasien dengan kadar kolesterol yang sangat rendah. Tapi, nantinya, saya mengharapkan terapi ini bisa diberikan pada semua pasien pneumonia, dengan kolesterol tinggi atau rendah dengan tujuan menurunkan angka kematian selama di rumah sakit

Dosis simvastatin yang digunakan sama dengan dosis yang digunakan pada pasien dengan kolesterol tinggi?

Dosis berbeda. Pertama pada pasien-pasien kolesterol tinggi dimulai dengan dosis rendah. Kalau untuk simvastatin 10mg. Jika tidak ada respon, dinaikkan 20 mg, hingga yang terbesar 40mg. Dulu bisa sampai 80mg. Tapi tahun 2012, FDA memberi warning, 80 mg sudah tidak boleh. Pada penelitian saya, saya tidak menggunakan dosis 10mg, langsung 20mg. Pertimbanganya untuk mencapai efek yang tadi saya sebutkan untuk pasien pneumonia, mungkin 10 mg kurang. 

Penggunaan statin mengandung risiko efek samping. Ada keluhan efek samping dalam penelitian ini?

Saya tidak meneliti itu. Tapi saya mencatat semua keluhan yang mungkin terjadi. Karena statin punya banyak efek samping, sepert mialgia dan peningkatan enzim hati, sampai pada kerusakan otot berat. Tapi, semuanya hanya berdasar tampilan klinis dan pemeriksaan laboratorium rutin. Saya tidak secara khusus memeriksakan kerusakan otot, misalnya. Kenapa saya tidak memeriksakan secara khusus? Karena dosis statin yang saya gunakan tidak terlalu tinggi. Dilaporkan efek samping terjadi pada dosis 40mg ke atas. Pemberiannya juga tidak terlalu lama  hanya 30 hari. Kejadian efek samping itu sedikit sekali.

Simvastatin Turunkan Kematian Lansia 1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.