Simvastatin Turunkan Kematian Lansia 1

Simvastatin Turunkan Kematian Lansia 1

Rapuhnya sistim kekebalan orang lanjut uisia (lansia) menyebabkan kelompok usia ini rentan mengalami penyakit infeksi, seperti pneumonia, dan berisiko tinggi mengalami kematian. Upaya untuk menekan angka kematian terus dilakukan, mulai dari optimalisasi perawatan pasien lansia, hingga upaya pemberian terapi pelengkap (ajuvan) yang diperkirakan dapat membantu obat-obat utama dalam tata-laksana pneumonia.

Obat yang dalam satu dekade ini banyak didiskusikan dan diteliti adalah statin. Bukti-bukti dari penelitian terkini menunjukkan, selain manfaatnya untuk menurunkan kolesterol, obat golongan statin juga mempunyai kemampuan mengatur sistem daya tahan (imunitas). Namun, penelitian klinis mengenai manfaat statin pada pasien lansia dengan pneumonia belum ada. Selama ini para ahli hanya melakukan penelitian observasional.

Dr. dr. Kuntjoro Harimukti, Sp.PD-KGer merupakan orang pertama yang melakukan penelitian klinis, untuk disertasinya guna meraih gelar doktor dari Faultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Disertasinya dipertahankan di depan penguji pada 13 Juni 2014, di Aula FKUI. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai hasil penelitiannya, berikut wawancara Vitra Hutomo dari Ethical Digest dengan staf pengajar Divisi Getriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM ini.

Apa latar belakang penelitian yang Anda lakukan?

Saya bekerja di Divisi Geriatri. Sehari-hari kami temui di ruang perawatan, mereka (pasien geriatri) masuk perawatan dengan infeksi paru, pneumonia. Lansia dengan pneumonia memiliki angka kematian lebih tinggi, dibanding pasien usia dewasa muda. Di Indonesia, angkanya lebih tinggi dibanding negara-negara lain. Data sekitar 10 tahun lalu, angkanya masih 30-35%. Tahun 2010, data kami sekitar 24% pada lansia, sementara pada populasi muda di bawah 10%. Di luar negeri, data pada lansia sekitar 11-13%.

Yang menyebabkan orang berusia lanjut bersiko mengalami kematian saat berhadapan dengan pneumonia, adalah respon daya tahan tubuh yang menurun dan berubah. Sebenarnya, tidak semata-mata menurun; ada aspek yang berubah juga. Saat terjadinya pneumonia, dibutuhkan keseimbangan antara sistim imunitas tubuh; nah, ini yang terganggu pada lansia. Karena itu, dalam menurunkan mortalitas harus dicari obat-obatan yang bekerja di sistim imunitas dan mengatasi peradangan. Beberapa literature menyebutkan bahwa peningkatan reaksi pengentalan darah, juga berpengaruh pada peningkatan mortalitas. Atas dasar itu, pilihan obat, sebagai terapi tambahan, harus fokus pada aspek-aspek tadi.

Satu dekade terakhir banyak dibicarakan obat, yang sebetulnya adalah obat penurun kolesterol, yaitu golongan statin. Obat ini sebenarnya telah digunakan selama kurang lebih 40 tahun, dan telah digunakan miliaran tablet. Dari pengalaman penggunaannya, statin tidak hanya menurunkan kolesterol, tapi punya manfaat lain. Misalnya, dapat menstabilkan plak aterosklerosis.

Selain itu, statin punya efek terhadap sistim daya tahan tubuh, dapat menekan reaksi peradangan atau inflamasi dan menurunkan aktifasi koagulasi atau pengentalan darah. Ada satu efek  lagi yang sebetulnya sudah bisa ditebak, yaitu efek antibakteri. Karena turunan pertama dari statin diekstraksi langsung dari jamur penisilin. Atas dasar itu, karena punya efek imunomodulator, punya efek antiinflamasi dan punya efek antibakteri dan antikoagulan, statin dihipotesiskan bisa bermanfaat pada pasien-pasien infeksi dan sepsis.

Mengapa penelitian saya melibatkan pasien pneumonia, karena ada hal-hal khusus pada pneumonia yang dikaitkan dengan statin. Ternyata, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian statin memperbaiki jaringan paru.

Atas dasar itu dan tingginya kasus pneumonia pada pasien usia lanjut, ide penelitian ini muncul. Sebetulnya penelitian sudah banyak, hanya saja belum ada uji klinisnya. Penelitian-penelitian lain hanya bersifat observasional. Penelitian-penelitian tersebut mengamati pasien-pasien yang menggunakan statin untuk indikasi menurunkan kolesterol dan sebagainya, kemudian mereka mengalami pneumonia. Ternyata mereka memiliki angka kematian yang lebih rendah, dibandingkan kelompok pasien yang tidak menggunakan statin.

Penelitian seperti ini tentu memiliki nilai. Bisa membuktikan bahwa efek-efek yang tadi disebutkan memang terjadi. Tapi, untuk intervensi maka penelitian dengan disain uji klinis, seperti yang saya kerjakan, harus dikerjakan hingga sampai pada kesimpulan bahwa statin bermanfaat untuk pneumonia. Dan, barang kali, bisa menjadi terapi tambahan pada pasien pneumonia.

Penelitian sebelumnya oleh Dublin tidak menunjukkan manfaat. Apa yang membedakan penelitian Anda dengan penelitian Dublin?

Penelitian Dublin bukan untuk mortalitas, tapi untuk pencegahan. Manfata statin yang sudah pernah diteliti adalah untuk pencegahan pneumonia. Orang-orang yang memakai stain lebih jarang mengalami pneumonia. Ada sekitar 11-12 penelitian yang dirangkum dalam tinjauan sistematis. Copra dan Khan tahun 2012 dan 2013. Saya sendiri pernah melakukan penelitian case control, melihat efek statin untuk mencegah pneumonia. Penelitian ini memang tidak menunjukkan manfaat.

Sebenarnya, tidak ada manfaatnya pada beberapa penelitian karena penelitiannya hanya bersifat observasional. Biasnya banyak. Sementara dalam uji klinis yang saya lakukan, diupayakan bias-bias itu  hilang. Jadi kalau dalam penelitian ini terbukti ada manfaat statin  dalam prognosis, semata-mata karena penggunaan statin.

Salah satu bias yang sering didiskusikan dan dikhawatirkan pada pengguna statin adalah, apa yang disebut healthy user bias. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang menggunakan statin adalah mereka yang lebih sering ke dokter, mendapat vaksinasi dan lebih perhatian terhadap kesehatan, dibanding orang yang tidak mendapat statin. Kondisi ini membuat pneumonia menjadi lebih jarang. Dan, ketika pneumonia terjadi, mortalitasnya lebih kecil. Tapi, kita tidak bisa memastikan apakah ini karena statinnya atau karena faktor-faktor lain.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.