Risiko VTE pada Lansia 2 | ethicaldigest

Risiko VTE pada Lansia 2

Factor V Leiden adalah gangguan koagulasi darah turunan, yang paling banyak terjadi di Amerika Serikat. Kasus ini tejadi pada 5% populasi orang kulit putih dan 1,2% populasi kulit hitam. Faktor V Leiden meningkatkan risiko thrombosis vena 3-8x lipat untuk individu heterozigot, dan 30140x lipat untuk individu homozigot. Pasien homozigot untuk factor V Leiden, berisiko moderat mengalami rekurensi. Tidak ada bukti meyakinkan bahwa terlepas dari faktor-faktor klinis lainnya (operasi, kehamilan dan lain-lain), adanya faktor V Leiden akan mempengaruhi penggunaan profilaksis primer atau durasi terapi antikoagulan setelah episode thrombosis.

Usia Sebagai Faktor Risiko Independen VTE

Belum bisa dipastikan, dalam hubungan antara penuaan dan peningkatan risiko VTE, apakah usia merupakan faktor risiko independen atau perancu VTE. Terutama, jika statis vena dan kerusakan vena dihubungkan dengan faktor risiko didapat (acquired), seperti imobilisasi dalam jangka lama akibat iskemia serebral, gagal jantug kongestif, gagal nafas akut, dehidrasi atau prosedur operasi. Pada sisi lain, beberapa kondisi seperti penuaan, dapat menginduksi kondisi hiperkoagulasi pada lansia. Karenanya, beberapa faktor risiko koagulasi terlihat meningkat pada lansia, seperti faktor VII, fibrinogen dan yang lebih menarik faktor VIII.

Hiperhomosisteinemia juga terjadi pada lansia yang mengalami defisensi asam folat dan vitamin B6-B12. Penelitian terakhir Ridker melaporkan peningkatan prevalensi factor V Leiden  pada lansia. Sementara Oger et al menemukan, factor V Leiden tidak lagi dihubungkan dengan peningkatan risiko VTE pada pasien usia 70 tahun atau lebih. Karenanya, meski belum ditegakkan, apakah usia merupakan faktor risiko independen untuk VTE atau tidak, risiko VTE pada orang usia lanjut meningkat. Maka, perlu dipertimbangkan untuk melakukan thromboprofilaksis.

Menurut Prof. Dr. dr Wasilah Rochmah, Sp.PD-KGER dan dr. C. Danawati, Sp.PD dari Divisi Geriatri RS dr. Sardjito, Yogyakarta, usia tua merupakan faktor risiko penurunan mobilitas, karena terjadi perubahan anatomi dan fungsi di hampir semua sistim fisiologi tubuh. Imobilitas akan menyebabkan gangguan aliran darah, sehingga bisa timbul stasis dan menyebabkan penurunan klirens faktor-faktor pembekuan darah yang teraktivasi, dan akan menimbulkan hipoksia sel-sel endotel serta trauma pembuluh darah. “Kondisi ini akan membuat perubahan sel endotel, yang umumnya terjadi pada pembuluh darah balik yang letaknya lebih dalam dari permukaan tubuh,” ungkap Prof. Wasilah.

Diagnosis DVT atau PE

Mendiagnosa DVT atau PE, masih menjadi tantangan karena sering tidak terlihat adanya tanda dan gejala tipikal. Tanda dan gejala klasik DVT meliputi pembengkakan, nyeri dan kemerahan. Untuk menegakkan diagnosis, dianjurkan melakukan pengujian obyektif meliputi ultrasonografi, magnetic resonance venography dan venografi yang lebih invasive.

Pada populasi geriatri, diagnosis VTE memiliki masalah sendiri karena PE dapat menyerupai pneumonia atau gagal jantung kongestif. Diagnosis dilakukan pada lansia dengan dispnea tanpa penyebab yang jelas, atau mengalami pembengkakan atau nyeri pada kaki, yang dapat mengindikasikan DVT. Perlu diingat, 97% penderita PE memiliki satu atau lebih gejala atau tanda: dyspnea, nyeri pleuritik dan nafas lebih 20x permenit.

PE secara tipikal muncul bersamaan dengan nyeri pada dada, sinkope, sesak nafas, gagal jantung kanan, hipotensi dan gagal sirkulasi darah. Tanda-tanda dan gejala-gejala lain meliputi demam, konfusi, aritmia, gejala dada ringan dan hemoptisis. Penelitian-penelitian terkini merekomendasikan pengujian D-dimer plasma, untuk menegakkan VTE. D-dimer plasma adalah derivative fibrin yang terhubung secara silang. Meski D-dimer tidak dapat digunaan untuk membuat diagnosis definitive, pemeriksaan ini berguna untuk mengnyampingkan VTE.

Sebuah meta analisa yang dilakukan M Carrier dan kawan-kawan, mencoba membandingkan wells pretest probability (PTP) dan pengujian D-dimer antara pasien dalam kelompok usia berbeda. Juga untuk menilai kegunaan 2 skema klasifikasi model PTP, dalam mengeksklusi pasien rawat jalan usia lanjut. Penelitian ini menganalisa 3 penelitian diagnostic prospektif, yang mengevaluasi pasien rawat jalan yang diduga mengalami DVT.

Dari 2696 pasien yang dievaluasi, DVT didiagnosa pada 400 (15%) pasien secara keseluruhan dan pada 50 dari  325 (15,5%) pasien berusia 60 tahun ke atas. Distribusi PTP dan prevalensi DVT pada setiap kategori PTP, sama untuk setiap kelompok usia berbeda. Nilai prediktif negatif kombinasi skor PTP rendah dan hasil D-dimer negative, adalah 99% untuk semua kelompok.

D-dimer negative berkombinasi dengan PTP rendah mengeksklusikan 21,7 pasien usia 80 tahun ke atas. Mereka menyimpulkan, kombinasi nilai PTP yang rendah dapat secara efektif  dan aman mengeksklusikan DVT, pada sebagian pasien rawat jalan. Bagaimana pun, aturan prediksi klinis ini perlu divalidasi dengan pemeriksaan D-dimner berbeda dalam populasi spesifik ini.

Risiko VTE pada Lansia 1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.