Probiotik dan Gut-Brain Axis1 | ethicaldigest

Probiotik dan Gut-Brain Axis1

Hubungan antara kesehatan usus dengan otak, dikenal dengan gut-brain axis, makin banyak diteliti. Studi menemukan, pasien IBS (irritable bowel syndrome) mengalami penurunan IQ verbal dibandingkan kelompok control yang sehat dan nilai IQ verbal mereka sebelum mengalami IBS. Data secara umum pun menunjukkan, depresi dan ansietas tampak pada 94% pasien IBS.

Salah satu faktor yang mendukung gut-brain axis, yakni kondisi mikroflora usus. Dalam kasus IBS, sejumlah ahli meyakini bahwa IBS berhubungan dengan mikroflora usus. Banyak penderita IBS yang mengalami ketidakseimbangan flora usus; bakteri yang memroduksi gas tumbuh secara berlebihan. Sebuah studi menunjukkan, penderita IBS memiliki konsentrasi Bifidobacteria dan Lactobacilli lebih rendah dibanding kelompok kontrol (orang sehat).

Bakteri bermanfaat berperan penting dalam pematangan saluran cerna, otak, dan gut-brain axis. Ketika keseimbangan bakteri penghuni usus terganggu, yakni bakteri pathogen mendominasi, usus teritasi, meradang dan/atau ‘bocor’. Bakteri yang bersifat pathogen bisa menyerang dan/atau membuat racun, dan menekan populasi bakteri bermanfaat.  Lama-kelamaan terjadi hiperpermeabilitas pada dinding usus.

Barrier usus rusak hingga terbentuk rongga-rongga yang cukup besar pada epitel usus, sehingga terjadi kebocoran usus (leaky gut). Akibatnya, usus kurang “selektif”—partikel yang berukuran besar seperti racun mau pun makanan yang belum diolah sempurna, bisa bocor ke aliran darah dan meracuni seluruh bagian tubuh termasuk otak.

Gut-brain axis juga ditengarai sebagai salah satu etiologi atau factor penyulit, dalam kasus ASD (autistic spectrum disorder). Kerap ditemukan dominasi bakteri pathogen di usus anak dengan ASD, seperti Clostridium, atau jamur Candida. Racun yang dihasilkan kedua mikroorganisme ini (misalnya lipopolisakarida / LPS), bisa menghancurkan dinding usus sehingga terjadi leaky gut, serta bersifat neuro-toxin. Melalui usus yang bocor, racun masuk ke pembuluh darah, mengalir ke otak dan menimbulkan peradangan. Kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan saraf dan psikologis. Pada akhirnya, timbul gejala atau perburukan gejala autisme seperti sulit konsentrasi, mudah marah / tantrum, dan lain-lain.

Hal serupa tampak pada sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome / CFS), kondisi kelelahan ekstrim dengan gejala antara lain gangguan kognitif, gangguan tidur, gejala emosional (ansietas dan depresi), sakit kepala, kelelaham, serta nyeri pada otot dan persendian. Sekitar separuh dari pasien CFS menunjukkan kriteria IBS. Seperti penderita IBS, level Bifidobacteria pasien CFS pun rendah.

Bakteri bermanfaat

Probiotik makin banyak digunakan dalam pengobatan, termasuk untuk IBS. Penelitian oleh Barrett JS, dkk (2008) melibatkan 18 pasien IBS. Selama 6 minggu, mereka mendapat perawatan dengan sebotol susu fermentasi (65 ml), yang mengandung L. casei Shirota strain. Hasilnya menunjukkan, 9 dari 14 pasien yang menyelesaikan studi (64%) memiliki ERBHAL yang membaik. ERBHAL (early rise in breath hydrogen with lactulose), adalah tes nafas yang digunakan untuk mengindikasikan pertumbuhan bakteri usus halus berlebihan (small intestinal bacterial overgrowth /SIBO), yang merupakan ciri IBS. Turunnya nilai SIBO berhubungan dengan berkurangnya gejala / keluhan IBS.

Konsep probiotik yakni ‘menyuplai’ bakteri bermanfaat ke usus, agar populasinya membaik dan tetap terjaga. Probiotik dapat menekan peradangan di usus akibat IBS, memperbaiki imunitas saluran cerna, menghambat perlekatan bakteri patogen di dinding usus, serta meningkatkan fungsi barrier epitel usus.

Pada kasus anak autis, ditemukan bahwa racun yang dihasilkan oleh mikroorganisme pathogen yang kerap menghuni usus penyandang autis, mengganggu komunikasi saluran cerna dengan otak. Disarankan bagi orangtua untuk memeriksa dan mengetahui kondisi bakteri penghuni perut anak dengan autism, dan dilakukan koreksi keseimbangan populasi bakteri.

Probiotik bisa bermanfaat, karena menekan pertumbuhan bakteri patogen. Probiotik juga menghasilkan enzim khusus yang dapat ‘menambal’ kebocoran usus. Namun, jenis probiotik perlu diperhatikan. Probiotik umumnya berbahan dasar susu fermentasi. Di sisi lain, kasein (protein susu) sering menimbulkan perburukan gejala pada penyandang autis. Penting memilih probiotik yang diproses dengan latar belakang penelitian ilmiah, yang kandungan dan jumlah bakteri bermanfaatnya telah teruji. Yakult tidak mengandung kasein, karena protein tersebut telah dihidolisasi oleh bakteri L. Casei Shirota strain menjadi asam glutamat, sehingga bisa digunakan pada penyandang autis.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.