Peranan Probiotik pada Terapi C. difficile2 | ethicaldigest

Peranan Probiotik pada Terapi C. difficile2

Koloni bakteri bermanfaat di usus akan menciptakan barrier yang melindungi usus, sehingga mengganggu perlekatan toksin C. difficile pada sel-sel epitel usus. Pada model hewan dan in vitro, strain-strain probiotik terlihat menghambat adhesi dan menurunkan invasi organisme pathogen pada epitel kolon.

Secara lebih detil, probiotik turut berperan dalam imunomodulasi. Bakteri ini memodulasi sistem imun bawaan dan adaptif dengan menstimulasi TLR (toll like receptor) dan memperbaiki ekspresi sitokin dalam sel dendritik dan monosit darah perifer. Mengonsumsi Lactobacillus dihubungkan dengan peningkatan aktivitas fagositik, dan beberapa strain Lactobacillus, Bifidobacterium dan Sacchromyces telah dihubungkan dengan peningkatan sekresi IgA pada feses dan serum.

Berdasarkan berbagai penelitian, peranan probiotik dalam AAD yakni sebagai terapi kombinasi, melengkapi terapi standar (antibiotik); dengan strain tunggal mau pun kombinasi. Selain sebagai profilaksis, juga meningkatkan efektivitas pengobatan untuk AAD. Juga terlihat, kombinasi antibiotik dengan probiotik dapat mencegah AAD berulang. Secara umum, konsumsi probiotik dapat mengurangi kemungkinan bakteri resisten terhadap antibiotik, menunjang efektivitas antibiotik, serta mengurangi dosis dan lama pengobatan dengan antibiotik.

L. casei Shirota strain

Efek L. casei Shirota strain terhadap infeksi C. difficile, terlihat pada studi yang dilakukan oleh Stockenhuber A, dkk (2008). Sebanyak 678 pasien yang dirawat di RS (rerata usia 71 tahun) dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok (340 orang) menerima probiotik berupa 6,5x109L. casei Shirota strain dosis 1x sehari, selama pengobatan dengan antibiotik dan 3 hari setelah pengobatan selesai. Kelompok lain (338 orang) tidak mendapat probiotik (kelompok kontrol). Hasilnya, insiden AAD lebih sedikit pada kelompok yang menerima antibiotik (5%), dibandingkan 18,6% pada kelompok yang tidak mendapat probiotik. Ada pun CDAD hanya terjadi pada 0,3% pasien di kelompok probiotik, dibandingkan 6,2% pada kelompok control.

Tiap strain probiotik bermanfaat dan memberi manfaat bagi manusia. Namun, tidak semua probiotik tahan terhadap asam lambung dan cairan empedu. Padahal probiotik harus mencapai usus dalam keadaan hidup untuk bisa bekerja. Yang menarik, satu strain probiotik akan merangsang pertumbuhan strain bakteri bermanfaat lain dalam usus.

Salah satu strain yang telah terbukti efektif, yakni L. casei Shirota strain. Tuohy, dkk (2007) meneliti survivabilitas dan dampak dari L. casei Shirota strain dalam saluran cerna, pada 20 orang dewasa sehat berusia 23-70 tahun. Mereka secara acak dibagi menjadi dua akelompok (@10 orang); satu kelompok mendapat probiotik berupa susu fermentasi berisi L. casei Shirota strain. Kelompok lain mendapat placebo berupa minuman susu dengan rasa asam, selama 21 hari. Sampel feses diperiksa pada hari 0, 7, 14, 21 dan 28, dan dianalisa untuk jumlah L. casei Shirota strain dan beberapa bakteri probiotik lain. Hasilnya, semua partisipan yang menerima probiotik, menunjukkan populasi L. casei Shirota strain yang tinggi dan stabil. Strain Lactobacilli masih terdeteksi pada beberapa partisipan, seminggu setelah konsumsi probiotik dihentikan.

Studi yang dilakukan di Thailand oleh Tiengrim S, dkk menunjukkan hasil serupa. Sebanyak 20 orang dewasa sehat diminta mengonsumsi susu fermentasi dengan kandungan L. casei Shirota strain selama 7 hari. Sampel feses pertama diambil 10 hari setelah partisipan menghentikan semua konsumsi produk susu yang mengandung Lactobacillus, sebelum konsumsi L. casei Shirota strain dimulai. Sampel kedua diambil setelah mereka mengonsumsi L. casei Shirota strain selama 7 hari, dan sampel ketiga diambil 7 hari setelah mereka berhenti mengonsumsi L. casei Shirota strain.

Sampel diperiksa menggunakan metode kultur dan PCR. Hasilnya menunjukkan, feses tidak mengandung L. casei Shirota strain sebelum konsumsi susu fermentasi L. casei Shirota strain. Pemeriksaan kedua menunjukkan semua sampel mengandung L. casei Shirota strain, dan pada pemeriksaan ketiga, sebagian sampel mengandung L. casei Shirota strain. (nid).

BACA JUGA PERANAN PROBIOTIK PADA TERAPI C. DIFFICILE1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.