Peranan Probiotik pada Terapi C. difficile1 | ethicaldigest

Peranan Probiotik pada Terapi C. difficile1

Dalam kondisi normal, Clostridium difficile adalah flora normal penghuni usus manusia. Namun bila ada kesempatan, bakteri ini bisa menyerang dan membuat racun. Kesempatan ini bisa muncul dari penggunaan antibiotic. Antibiotic terutama yang berspektrum luas, akan mematikan seluruh mikroflora usus termasuk bakteri bermanfaat. Namun jenis bakteri tertentu bisa bertahan dan akhirnya berkembang biak tak terkendali, karena tidak ada saingan bakteri lain. Bakteri ini akhirnya mendapat kesempatan untuk menjadi patogen, hingga terjadilah masalah yang keluhannya antara lain diare. Atau, bisa pula semua bakteri usus mati sehingga usus menjadi steril. Akibatnya, begitu masuk bakteri dari luar, muncullah gangguan.

Inilah AAD (antibiotic associated diarrhea). Umumnya, AAD bersifat ringan dan akan sembuh sendiri, begitu konsumsi antibiotic dihentikan. Namun pada beberapa kasus, AAD berujung pada kolitis, atau lebih parah lagi kolitis pseudomembran atau PMC (colitis pseudomembrane). Kedua jenis penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, demam dan diare berdarah.

C. difficile merupakan salah satu bakteri yang sering menyebabkan AAD, juga dikenal sebagai CDAD (C. dififcile associated disease). Di Indonesia, C. difficile sebagai penyebab colitis akibat penggunaan antibiotic, belum terlalu dikenal. Berbeda dengan di banyak negara lain; diare akibat C. dififcile utamanya merupakan penyakit nosokomial dan merupakan penyebab diare tersering pada pasien yang dirawat di rumah sakit (RS). Sebaliknya pada pasien rawat jalan, bakteri ini lebih jarang ditemukan. Studi epidemologis menunjukkan, C. difficile sering ditemukan pada ruang rawat inap termasuk di lantai, handel pintu dan perabot, bahkan berminggu-minggu kemudian setelah pasien dengan AAD tidak lagi menempati ruangan tersebut.

Situs medscape.com menyebutkan bahwa 5-38% pasien rawat inap yang mendapat antibiotic mengalami AAD; 15-20% di antaranya disebabkan oleh C. difficile. Di Amerika Serikat (AS), infeksi C. difficile menyebabkan penyakit pada 8/1000 pasien yang dirawat di RS di tahun 2008. Bakteri anaerob ini bisa disebarkan melalui interaksi antar pasien mau pun pasien dengan petugas medis, melalui kontak dengan benda atau kontak fisik.

Hanya strain C. difficile yang memroduksi toksin A (enterotoksin) dan toksin B (sitotoksin) yang berperan dalam AAD  dan PMC. Toksin A bersifat enterotoksik, yang dapat mengikat sel pada membran brush border. Perlekatan ini dapat merusak mukosa usus dan merangsang sekresi cairan dari usus, juga dapat menyebabkan perdarahan. Karenanya, salah satu ciri diare akibat C. difficile yakni diare, yang disertai darah dan lendir. Ada pun toksin B tidak aktif di usus, tapi memiliki kekuatan sitotoksin 1000 kali lebih kuat daripada toksin A.

Secara umum, kedua toksin ini menyebabkan inflamasi pada mukosa usus. Diare disebabkan oleh toksin-toksin tersebut, yang diproduksi dalam lumen usus dan melekat pada mukosa usus. Gejala yang paling umum antara lain diare berair, kram perut, demam >38oC, lekositosis, hingga diare berdarah. Ada pun kolitis berat akibat C. difficile dapat menyebabkan diare berair, kehijauan, dan bau busuk hingga >8x/hari, disertai mual, muntah, dan anoreksia.

Pengobatan awal untuk diare akibat C. difficile yakni dengan menghentikan konsumsi antibiotik, agar flora usus kembali normal. Pendekatan ini berhasil pada 15-25% pasien. Pada kasus yang lebih berat, bisa diberikan antibiotik spesifik selama +10 hari. Namun, pemberian antibiotik untuk membasmi C. difficile juga bisa menimbulkan masalah lain. Situs healthychildren.org menyebutkan, 10-20% pasien AAD akibat infeksi C. difficile mengalami relaps setelah terapi antibiotik. Rekurensi bisa disebabkan oleh kegagalan eradikasi atau infeksi berulang. Episode rekurensi umumnya memberikan respon yang baik, terhadap pengobatan yang sama dengan episode pertama. Namun pada relaps berulang, manajemen umumnya lebih sulit. Karena kurangnya data, hingga kini belum ada rekomendasi terapeutik formal untuk relaps berulang.

Peranan probiotik

Salah satu pengobatan alternatif untuk AAD yakni probiotik. Probiotik bekerja dengan beberapa cara, antara lain dengan mengembalikan keseimbangan flora usus. Pasien dengan AAD berulang, memiliki diversitas bakteri yang berkurang dibandingkan orang normal. Pemberian probiotik akan merangsang pertumbuhan bakteri bermanfaat di usus dan membentuk koloni, sehingga menekan pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen. Bakteri bermanfaat juga memroduksi asam laktat yang menurunkan pH lingkungan usus. Dengan kondisi yang demikian asam, bakteri patogen termasuk C. difficile sulit bertahan sehinga populasinya akan menurun. Sebuah meta analisis oleh Avadhani A dan Miley H (2011) dan dipublikasi di situs pubmed.gov menunjukkan, pemberian probiotik menurunkan risiko AAD sebanyak 44% dan CDAD hingga 71%.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.