Peran Oksitosin pada Induksi Persalinan | ethicaldigest

Peran Oksitosin pada Induksi Persalinan

Wanita hamil menginginkan persalinannya berjalan lancar dan normal. Dalam beberapa kasus, proses persalinan normal harus dibantu tindakan induksi; salah satunya dengan pemberian oksitoksin sintetis ke dalam tubuh.

Hal di atas dipaparkan dr. Ardiansjah Dara Sjahruddin, SpOG, MKes, dari Siloam Hospital Semanggi, pada seminar kesehatan di Jakarta beberapa waktu lalu.

 

Sistem endokrin

Sistem endokrin terdiri dari kelenjar-kelenjar tanpa saluran keluar, yang sekretnya (hormone) dialirkan langsung ke dalam sirkulasi darah atau limfe. Kelenjar endokrin mempunyai asal embriologik yang berbeda. Kelompok kelenjar endokrin berasal dari ketiga lapisan embrional, yaitu:

- Hipofisis, medula suprarenal dan badan kromafin berasal ectoderm.

- Ovarium, testis dan kortek suprarenal berasal dari mesoderm.

- Sel parenkim tiroid, paratiroid, dan pulau langerhans berasal dari endoderm.

Setiap kelenjar endokrin mensekresikan atau lebih substansi khusus yang disebut hormone. Hormon berasal dari kata homaein yang berarti memacu. Hormon dibentuk pada suatu kelenjar, tetapi bisa menjalankan fungsinya di tempat lain. Umumnya, hormon dihasilkan oleh kelenjar endokrin dan masuk ke dalam sistem peredaran darah. Hormon merupakan senyawa protein atau senyawa steroid.

Di dalam tubuh, hormon berperan mengatur metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, keseimbangan internal, reaksi terhadap stres serta tingkah laku. Dalam kegiatan tubuh, hormon hanya sedikit diperlukan, tetapi mempunyai pengaruh yang sangat luas.

Salah satu macam dari kelenjar adalah hipofisis, yang terdiri dari dua jaringan berbeda. Yaitu Adenohipofisis (lobus kelenjar) yang terdiri dari Pars Distalis, Pars Tuberalis, Pars Intermedia. Dan Neurohipofisis yang terdiri dari Pars Nervosa, Tangkai Infundibulum, Eminensia Mediana.

Kelenjar hipofisis mempunyai dua komponen yang fungsinya tidak sama, yaitu adenohipofisis (hipofisis anterior) dan neurohipofisis (hipofisis posterior). Hipotalamus berhubungan dengan hipofisis posterior melalui sistem persarafan, sedangkan hubungannya dengan hipofisis anterior adalah melalui pembuluh darah. Hormon hipofisis posterior dihasilkan oleh hipotalamus, kemudian melalui akson dari saraf di bawah dan disimpan ke dalam kelenjar hipofisis posterior.

Setidaknya, darah yang mengalir ke dalam kelenjar hipofisis anterior harus melewati hipotalamus lebih dulu. Hipotalamus mengendalikan hipofisis anterior dengan menghasilkan dan mengeluarkan hormon releasing atau inhibiting ke dalam darah. Melalui peredaran darah, hormon ini disimpan dalam hipofisis anterior. Selanjutnya, kelenjar hipofisis anterior dapat menstimulasi keluarnya (release) atau mencegah (inhibit) hormon tertentu. Enam hormon releasing atau inhibiting yang sudah diketahui adalah: growth hormone-releasing hormone (GHRH), growth hormone-inhibiting hormone (GHIH), thyrotropin releasing hormone (TRH), corticotropin releasing hormone (CRH), gonadotropin releasing hormone (GnRH) dan prolactin-inhibiting hormone (PIH).

Hormon dikeluarkan sebagai respons atas rangsangan saraf secara langsung, kepada kelenjar yang cocok. Seperti contoh pada hormon oksitosin yang disimpan pada hipofiis posterior dan dilepaskan ke dalam darah, oleh ransangan pada saraf dari hipotalamus. Sebagian besar serat dari nukleus paraventrikuler berhubungan dengan sekresi oksitosin. “Hormon oksitosin khususnya dihasilkan oleh kelenjar hipotalamus, dan berfungsi untuk merangsang kontraksi pada rahim saat proses persalinan,” jelasnya.

Hipotalamus merupakan pemimpin umum sistem hormon, memiliki tugas penting memastikan kemantapan dalam tubuh manusia. Setiap saat, hipotalamus mengkaji pesan-pesan yang datang dari otak dan dari dalam tubuh. Setelah itu, hipotalamus menjalankan beberapa fungsi, seperti menjaga kemantapan suhu tubuh, mengendalikan tekanan darah, memastikan keseimbangan cairan, dan bahkan pola tidur yang tepat.

“Hipotalamus terletak langsung di bawah otak dan ukurannya sebesar biji kenari. Sejumlah besar informasi sehubungan dengan keadaan tubuh, dikirim ke hipotalamus. Informasi ini disampaikan ke sana dari setiap titik dalam tubuh, termasuk pusat indra dalam otak,” ujarnya. Selanjutnya, hipotalamus menguraikan informasi yang diterimanya, memutuskan tindakan yang mesti diambil dan perubahan yang harus dibuat dalam tubuh, serta membuat sel-sel tertentu menjalankan keputusannya.

 

Oksitosin

Oksitosin dapat dikatakan sebagai hormon yang bertanggungjawab untuk merangsang kontraksi pada rahim saat proses persalinan, terutama mempengaruhi otot polos uterus. Oksitosin disintesis oleh badan sel syaraf nucleus paraventrikularis. Oksitosin menyebabkan otot polos uterus berkontraksi dalam stadium akhir kehamilan, juga memulai kontraksi sel mioepitel pada alveoli dan saluran keluar kelenjar mammae.

Bagi perempuan yang mengalami kontraksi lambat, tetesan oksitosin dapat digunakan untuk membantu kontraksi lebih kuat dan teratur. Selain itu, hormon oksitosin memainkan peranan penting saat setelah proses melahirkan. Yakni, merangsang rahim berkontraksi lagi untuk mengeluarkan plasenta.

Dr. Dara menjelaskan, oksitosin adalah hormon yang secara normal diproduksi dari tubuh wanita di otak kecil. Ketika proses persalinan terjadi, rahim wanita berkontraksi secara alami, karena oksitoksin secara normal keluar. Namun, apabila kontraksi tak kunjung muncul atau kurang adekuat, dokter harus melakukan tindakan memperkuat derajat kontraksi rahim. Salah satu caranya yaitu memberikan oksitosin sintesis untuk memicu kontraksi; proses tersebut dinamakan induksi.

Dalam melakukan induksi, ada waktu yang harus diperhatikan. “Contohnya, apabila wanita sudah hampir melewati masa cukup bulan (aterm) sekitar 41 - 42 minggu tapi tidak ada tanda - tanda kontraksi, maka harus segera dilakukan tindakan induksi. Cara ini dilakukan sebagai upaya medis untuk mempermudah lahirnya bayi dari rahim secara normal (per vaginam),” terangnya. Induksi merupakan proses persalinan yang membutuhkan observasi dan pengawasan sangat tinggi. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir resiko yang muncul, dari tindakan induksi itu sendiri. Dalam tingkatannya, rasio keberhasilan induksi persalinan dengan pemberian oksitoksin berkisar 63 - 93%.

Oksitosin terutama mempengaruhi otot polos uterus. Oksitosin meningkatkan baik frekuensi dan durasi potensial aksi. Dengan kata lain, pemberian oksitosin merangsang timbulnya kontraksi otot uterus yang belum berkontraksi, dan meningkatkan kekuatan serta frekuensi kontraksi otot pada uterus yang sudah berkontraksi. Estrogen memperkuat kerja oksitosin dengan cara menurunkan otensial membran sel otot polos, jadi merendahkan ambang eksitasi.

“Saat akhir kehamilan, sering terjadi peninggian kadar estrogen, potensial membrane sel otot polos uterin berkurang negatifnya, sehingga membuat uterus makin sensitive terhadap oksitosin. Jumlah reseptor oksitosin di uterus makin bertambah pada saat ini, dan aktivasinya menyebabkan kalsium selular di mobilisasi melalui hidrolisa polifosfatidilinositol,” jelasnya.

Menurut dr. Dara, pelepasan hormon oksitosin berlangsung secara alami, namun ada cara untuk mendorongnya lebih cepat. Di antaranya, melalui proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Meletakkan bayi di atas perut ibu, agar bayi mencari sendiri payudara ibunya dapat merangsang pelepasan oksitosin. Para ibu disarankan untuk melakukannya secepat mungkin setelah melahirkan, untuk membantu keluarnya plasenta. Jika plasenta gagal keluar, ibu akan diberi hormon sintetis, yang mereplikasi efek oksitosin untuk membantu rahim berkontraksi.

Oksitosin  juga memainkan peranan penting, di luar proses melahirkan. Setiap kali menyusui, ibu akan melepaskan hormone oksitosin yang menyebabkan ibu mengeluarkan putting susu ke mulut bayi. Hal ini, akan membantu rahim menciut dan kembali ke ukuran normal.

Ketika bayi menghisap payudara, hormon oksitosin membuat ASI mengalir dari dalam alveoli, melalui saluran susu (ducts/milk canals) menuju reservoir susu {sacs} yang berlokasi di belakang areola, lalu ke mulut bayi.

Ketika pengeluaran air susu, oksitosin menimbulkan kontraksi sel-sel mioepitel di payudara sebagai respon terhadap penghisapan puting, berkat reflex neurogenik yang dihantarkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis. Kadar oksitosin meningkat dalam 2 menit pengisapan putting, dan mencapai puncak dalam 10 menit. Oksitosin juga dilepaskan ketika bersanggama.

Selain itu, oksitosin berfungsi mengencangkan otot halus dalam rahim saat melahirkan dan setelahnya, seperti halnya saat orgasme. Setelah melahirkan, oksitosin mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu let-down / milk ejection reflex. Sekresi oksitosin dirangsang oleh peregangan vagina atau serviks uteri, dan oleh tindakan menyusui. Hal ini terjadi melalui traktus saraf yang mempengaruhi hipotalamus.

Oksitosin dilepaskan sepanjang masa melahirkan, sewaktu janin menstimulasi leher rahim dan vagina. Hal itu meningkatkan kontraksi otot halus kandungan agar terjadi proses melahirkan. Pada kasus di mana kontraksi tidak cukup agar terjadi kelahiran, dokter terkadang memberikan oksitosin, untuk menstimulasi lebih lanjut kontraksi kandungan. Perhatian besar harus dilakukan pada beberapa situasi, untuk memastikan janin keluar dengan baik dan mencegah pecahnya uterus.

 

Prinsip kerja

Prinsip kerja hormon oksitosin, adalah dengan cara menstimulasi kontraksi sel otot polos pada rahim wanita hamil selama melahirkan dan menstimulasi kontraksi sel-sel kontraktil dari kelenjar susu, agar mengeluarkan air susu. ASI yang keluar pertama inilah yang mengandung antibody, yang sangat penting untuk bayi. ASI yang keluar pertama mengandung kolostrum, yang dikonsumsi bayi sebelum ASI sebenarnya.

Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi yang tinggi daripada ASI. Khususnya tinggi dalam level immunoglobulin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga mencegah alergi makanan. Dalam dua minggu pertama setelah melahirkan, kolostrum pelan-pelan menghilang dan digantikan oleh ASI.

Proses Kelahiran. Saat fetus masuk dalam jalan lahir, segmen bawah uterus, serviks dan vagina berdilatasi. Hal ini menyebabkan reflex pelepasan oksitosin. Kontraksi uterus yang kuat, lebih jauh menyebabkan penurunan fertus, distensi, dan pelepasan oksitosin lebih jauh lagi.

Laktasi. Oksitosin juga terlibat pada laktasi. Perangsangan putting susu menghasilkan reflex neurohumoral. Berikutnya, oksitosin menyebabkan kontraksi sel. Mioepitel dari duktus mamilaris dan pengeluaran susu.

Mekanisme lain. Sejumlah stimulus merangsang pelepasan ADH seperti peningkatan osmolalitas plasma dan hipovolemia, menyebabkan sekresi oksitosin. Sejak aliran urin rendah yang dapat mempengaruhi pengaturan kesetimbangan natrium.

 

Produksi oksitosin

Dalam tubuh orang normal, hormon diproduksi dalam jumlah sesuai kebutuhan. Jadi, dapat dipastikan kadarnya akan meningkat secara normal pada ibu yang akan melahirkan dan menyusui.
Pada tubuh manusia, oksitosin dibuat oleh sel-sel saraf khusus di regio tertentu di otak. Di luar sel saraf, oksitosin diproduksi di kelenjar telur dan sel-sel di testis spesies tertentu (bukan manusia).
Saat ini, berkat kemajuan teknologi, hormon ini sudah dapat dibuat sintetiknya. Hormon ini mudah dihancurkan oleh saluran cerna kita, sehingga hormon sintetik dibuat dalam bentuk sediaan injeksi/suntik dan "nasal spray".

Cara pembuataannya melalui "genetic engineering" yang rumit, sehingga dapat dihasilkan sediaan yang stabil dan dapat berfungsi seperti hormon aslinya. Hormon oksitosin dibentuk dari prohormon, berupa nonapeptida. Berat molekulnya 1007. Disekresikan turun sepanjang akson-akson dari neuron-neuron, yang badan selnya terletak di nucleus supraoptikus dan paraventrikularis. Dalam perjalanannya, oksitosin terikat pada protein pembawa yang dikenal sebagai neurofisin I dan II (estrogen dan nikotin masing-masing merangsang neurofisin), yang memiliki berat molekul sekitar 10.000, disekresikan lebih langsung ke dalam sirkulasi portal daripada sirkulasi perifer. Sejumlah kecil oksitosin juga dilepaskan ke dalam sirkulasi portal. Waktu pro-oksitosin sekitar 10 menit.

 

Efek samping

Bila oksitosin sintetik diberikan, kerja fisiologis hormon ini akan meningkat sehingga dapat timbul efek samping yang dapat dikelompokkan menjadi:

a. Stimulasi berlebih pada uterus.

b. Konstriksi pembuluh darah tali pusat.

c. Kerja anti diuretika.

d. Kerja pada pembuluh darah (dilatasi).

e. Mual.

f. Reaksi hipersensitif. (ant)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.