Peran AMH dan Patofisiologi PCOS | ethicaldigest

Peran AMH dan Patofisiologi PCOS

Anti Mullerian Hormon (AMH) adalah hormon yang termasuk dalam kelompok Transforming Growth Factor-b (TGF-b), dan memiliki struktur homodimer glikoprotein. Pada wanita, AMH berperan penting dalam pengaturan folikuligenesis dan mulai diproduksi oleh sel granulosa pada usia kehamilan 36 minggu. Selanjutnya, kadar AMH meningkat perlahan sejak lahir hingga usia pubertas, kemudian menurun di usia 25 tahun hingga menopause.

 Setelah lahir, ada rekruitmen awal folikel primordial oleh folicle stimulating hormone (FSH) dan AMH berfungsi untuk mencegah rekuitmen berlebihan. Itulah mengapa saat lahir, bayi memiliki 1 juta folikel primordial, tetapi ketika pubertas tinggal 400 ribu. Pada pra pubertas, AMH memiliki hubungan yang positif. Sedangkan, pasca pubertas, hubungannya negative. Artinya, pasca pubertas, AMH mulai menjalankan fungsinya. Dia mulai menghambat ambilan folikel primordial. Karena itu AMH banyak digunakan sebagai parameter pemeriksaan cadangan ovarium.

Ketika jumlah folikel menurun, AMH menurun sampai pasien menjadi menopause. Fertilitas maksimal itu pada usia 25 tahun, ketika kadar AMH mencapai puncaknya, kira-kira 5 nano gram/milliliter. Bagaimana di Indonesia? Penelitian terbaru yang dipublikasi bulan Desember 2013 memperlihatkan, dari 1600 perempuan Indonesia AMH turun persentil 50 sampai usia 50, hingga menopause. Persentil 75-90 adalah pasien-pasien PCOS, yang kadar AMH-nya jauh lebih tinggi dari wanita normal. Sedangkan untuk persenti 3 atau 10, adalah perempuan-perempuan yang memiliki sel telur sangat sedikit atau perempuan dengan insufisiensi ovarium primer, sehingga dengan cepat  menopause.

Ada dua titik tempat kerja AMH pada ovaries. Titik pertama akan menghambat ambilan dari folikel primordial untuk menjadi folikel primer dan folikel antral. Jadi, semakin tinggi kadar AMH, semakin hemat ambilan dari folikel primordial. Di titik kedua, AMH menghambat enzim aromatase. Dengan terhambatnya enzim aromatase, akan dihambat perubahan dari androgen menjadi estrogen, sehingga sensitifitas folikel terhadap FSH menurun. Hal ini  berperan dalam proses menyeleksi folilkel menjadi folikel dominan.

Karena itu, kalau AMH terlalu tinggi, tidak akan pernah terjadi folikel dominan. Itu yang terjadi pada kasus-kasus polikistik. Jika melihat pada teori Brown tahun 1978 bahwa setiap folikel hanya mungkin berkembang, jika FSH melampaui nilai ambang rangsang. Jadi, kalau FSH melalui ambang rangsang, sebuah folikel akan berkembang menjadi foliklel dominan. Pada pasien PCOS, karena AMH terlalu tinggi akan menghambat aromatase. Sehingga, androgen tidak bisa dikonversi menjadi estron dan estradiol. Androgen yang tinggi menyebabkan folikel menjadi arrest, tidak akan pernah akan menjadi folikel dominan.

Follikel yang arrest menyebabkan  kadar AMH menjadi lebih tinggi, karena AMH disekresikan oleh sel granulose. Semakin tinggi AMH, semakin tinggi inhibin b yang akan menekan FSH. Pada pasien PCOS, karena kadar AMH tinggi, kadar FSH tidak pernah mencapai nilai ambang batas. Terjadi gangguan proses folikulogenesis, sehingga siklusnya tidak berovulasi. Karena itu, menurunkan kadar AMH pada pasien-pasien PCOS telah menjadi target penelitian.

Penelitian di Klinik Yasmin, RS CIpto Mangunkusumo, Jakarta, yang melibatkan 169 pasien memperlihatkan bahwa pasien PCOS 3 kali lebih tinggi kadar AMH, dibanding wanita normal. Kalau dicari, area under the curve-nya 4,13. Jadi kalau kadar AMH di atas itu, pasien berisiko menderita PCOS 73%. Artinya, kadar AMH bisa dijadikan diagnostilk PCOS, walau belum masuk dalam kriteria Rotterdam. Tetapi beberapa studi sudah mengonfirmasi hal ini. Pemeriksaan AMH sangat mudah dan tidak perlu pemeriksaan ultrasonografi, terutama pada kasus-kasus wanita yang belum menilkah. Tentunya mereka sangat tidak nyaman menjalani ultrasonografi.

Penanganan pasien di klinik.

Suatu penelitian di Mesir melakukan ovarian drilling pada pasien PCOS dengan AMH tinggi. Dalam 3 bulan dan 6 bulan setelah tindakan, kadar AMH menurun dibandingkan dengan clomiphene citrate. Dan, kalau diinduksi, wanita dengan kadar AMH di atas 7,7 nano gram/ml, angka kehamilan dan ovulasi jauh lebih rendah dibanding wanita dengan kadar AMH yang rendah atau turun. Jadi, menurunkan AMH dapat meningkatkan keberhasilan induksi ovuasi pada pasien-pasien PCOS.

Penggunaan insulin sensitizer juga berguna menurunkan AMH. Penelitian lain memperlihatkan, bagaimana pemberian FSH dapat menurunkan AMH. Karena sangat penting, prinsip utama lakukan induksi ovulasi pada PCOS atau pada wanita lainnya adalah supaya kadar FSH melampaui kadar ambang rangsang. Kalau FSH melampaui ambang rangsang, AMH turun sehingga terjadi folikel dominan sehingga terjadi ovulasi.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.