Penyakit Jantung Hipertensi1 | ethicaldigest

Penyakit Jantung Hipertensi1

Perlu tekanan yang ajeg aliran darah yang membawa oksigen, nutrisi dan hormone ke seluruh tubuh. “Darah yang dipompa otot jantung akan menghasilkan tekanan, sehingga dapat mengalir menyusuri pembuluh-pembuluh darah,” terang dr. A. Fauzi Yahya, Sp.JP dari FK Universitas Padjajaran, Bandung. Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan otot jantung bekerja terlalu keras. Jika ini berlangsung lama, akan terjadi perubahan pada struktur jantung.

“Hipertensi berpotensi menyebabkan berbagai gangguan jantung, seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung hingga gangguan irama jantung,” kata dr. Fauzi. Hasil penelitian Badan Kesehatan Sedunia (WHO) menunjukkan, hampir setengah dari kasus serangan jantung dipicu oleh tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang terus meningkat dalam jangka panjang akan mengganggu fungsi endotel, sel-sel pelapis dinding dalam pembuluh darah.

Peningkatan tekanan darah dalam jangka lama dan tidak terkontrol, dapat menyebabkan berbagai perubahan pada struktur miokardium, vaskularisasi koroner, dan sistem konduksi jantung. Perubahan-perubahan ini dapat berkembang menjadi left ventricular hypertrophy (LVH), coronary artery disease (CAD), various conduction system diseases, dan disfungsi sistolik dan diastolik dari miokardium.

Kondisi ini kemudian akan bermanifestasi klinik sebagai angina atau infark miokard, aritmia jantung (terutama fibrilasi atrium), dan congestive heart failure (CHF). Karena itulah, penyakit jantung hipertensi (PJH) adalah sebutan umum untuk penyakit-penyakit jantung, seperti LVH, CAD, aritmia jantung dan CHF, yang disebabkan karena efek langsung mau pun tak langsung dari peningkatan tekanan darah. 

Patofisiologi

Patofisiologi dari penyakit jantung hipertensi merupakan kombinasi dari faktor hemodinamik, struktural, neuroendokrin, sellular dan molekular. Di satu sisi, faktor-faktor tersebut memainkan peranan penting pada munculnya hipertensi dan komplikasinya. Di sisi lain, peningkatan tekanan darah itu sendiri dapat memodulasi faktor-faktor ini. Peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan perubahan pada struktur dan fungsi jantung melalui 2 jalan, yaitu secara langsung dengan meningkatkan afterload dan tidak langsung dengan perubahan vaskular dan neurohormonal. 

Left Ventricular Hypertrophy (LVH)

Tidak hanya pembuluh koroner jantung yang terkena dampak hipertensi, otot jantung juga bisa terkena. “Tekanan darah yang terus menerus tinggi, akan membebani otot bilik kiri jantung, yang berfungsi sebagai pompa utama darah,” kata dr. Fauzi. Awalnya, otot bilik kiri akan menebal sebagai kompensasi untuk mengatasi beban tekanan darah. Bila peninggian tekanan darah tidak segera diatasi, fungsi pompa jantung akan menurun. Sekitar 15-20% pasien hipertensi memiliki LVH.

Atrium kiri yang abnormal

Perubahan struktural dan fungsional dari atrium kiri, sering ditemui pada pasien hipertensi tetapi tidak terlalu diperhatikan. Peningkatan afterload mempengaruhi atrium kiri, karena peningkatan tekanan end-diastolic ventrikel kiri sekunder dari peningkatan tekanan darah menyebabkan gangguan atrium kiri, penambahakan ukuran dan ketebalan atrium. Sebagai tambahan dari perubahan-perubahan struktural tersebut, pasien memiliki faktor risiko terhadap fibrilasi atrium. Fibrilasi atrium dengan hilangnya kontribusi atrium pada keadaan disfungsi diastolic, akan menyebabkan gagal jantung. 

Penyakit katup jantung (valvular disease)

Walau pun penyakit katup jantung tidak menyebabkan PJH, hipertensi yang kronik dan parah dapat menyebabkan dilatasi aorta, menuju pada insuffisiensi signifikan dari aorta. Selain menyebabkan regurgitasi aorta, hipertensi diperkirakan mempercepat proses sklerosis pada aorta dan menyebabkan regurgitasi mitral. 

Gagal jantung

Gagal jantung adalah komplikasi yang biasa terjadi pada peningkatan tekanan darah kronik. Pasien dengan hipertensi ada yang asimtomatik, tetapi memiliki risiko untuk menjadi gagal jantung (stage A atau B menurut klasifikasi ACC/AHA tergantung apakah pasien memiliki penyakit jantung struktural sebagai konsekuensi hipertensi). Ada juga yang simtomatik gagal jantung (stage C atau D menurut klasifikasi ACC/AHA). Hipertensi sebagai penyebab gagal jantung kronik, biasanya tidak disadari, karena pada saat terjadi gagal jantung, disfungsi ventrikel kiri tidak mampu menaikkan tekanan darah, karena itu mengaburkan etiologi gagal jantung. 

Disfungsi diastolik biasa ditemukan pada orang dengan hipertensi. Sering juga disertai oleh LVH. Selain peningkatan afterload, faktor lain yang berkontribusi pada disfungsi diastolic termasuk koeksistensi CAD, penuaan, disfungsi sistolik, dan struktur abnormal seperti fibrosis dan LVH. 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.