Pemberian Insulin pada Pasien DM Lasia | ethicaldigest

Pemberian Insulin pada Pasien DM Lasia

Saat ini tersedia berbagai jenis insulin, human insulin maupun analaog. “Memahami farmakokinetik berbagai jenis insulin menjadi landasan dalam penggunaan insulin, sehingga sesuai dengan kebutuhan tubuh normal, seperti kebutuhan insulin basal (saat puasa dan sebelum makan) dan prandial (setelah makan),” ujar Prof. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD.

Diketahui bahwa untuk kebutuhan insulin basal, dapat digunakan insulin kerja menengah (intermediate-acting insulin) atau kerja panjang (long acting insulin). Sedangkan untuk memenuhi insulin prandial digunakan insulin dengan kerja pendek, atau sering disebut dengan insulin reguler (short acting insulin), atau insulin kerja cepat (rapid or ultra rapid acting insulin).

Berdasar konsensus ADA-EASD, insulin dapat diberikan bila target gula darah tidak tercapai dengan modifikasi gaya hidup dan pemberian metformin. Selain itu, insulin diberikan saat ada kondisi akut, seperti sakit berat, keadaan hiperosmolar, ketosis dan pada pembedahan. Keputusan untuk memulai pemberian insulin, dibuat berdasar pertimbangan akan kemampuan penderita untuk menyuntikkan sendiri insulin, dan keutuhan fungsi kognitif.

Pada lansia yang bergantung pada orang lain untuk memberikan insulin, gunakan insulin masa kerja panjang (long-acting) dengan dosis 1x sehari, walaupun ini tidak dapat memberi kontrol gula darah sebaik yang dicapai dengan pemberian insulin basal bolus atau regimen 2x sehari. Pada lansia yang hanya menggunakan insulin basal, saatnya pemberian insulin bukan hal yang penting. Jika kontrol gula darah atau glukosa postprandial target tidak tercapai dengan pemberian basal insulin, dapat diberikan insulin kerja singkat (short-acting). Namun, pada pemberian bolus insulin short acting, saat makan merupakan faktor penting dan sering menimbulkan masalah pada pasien yang renta, yang tidak dapat menyuntikkan insulinnya sendiri.

Dibandingkan insulin jenis lain, insulin analog paling mendekati pola sekresi insulin endogen basal pada orang dewasa sehat. Walau demikian, penggunaan insulin berhubungan dengan efek samping peningkatan berat badan dan hipoglikemia. Dari berbagai studi dilaporkan bahwa efek samping hipoglikemia, lebih jarang terjadi pada penggunaan analog insulin (detemir dan glargine) dibanding NPH. Sementara itu, didapati efek peningkatan berat badan dengan nilai yang sama (+ 3 kg dalam 6 bulan), pada golongan analog insulin maupun NPH. Bila kegagalan sel β pankreas mensekresi insulin sudah demikian parah, perlu pemberian insulin untuk kontrol gula darah, sehingga insulin berperan penting dalam tata laksana DM.

Lanjut usia merupakan kelompok populasi yang rentan terhadap efek samping hipoglikemia. Oleh sebab itu, perlu edukasi bagi lansia dan pengasuhnya tentang pengenalan gejala hipoglikemia dan penanganannya.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.