Patofisiologis Virus Influenza | ethicaldigest

Patofisiologis Virus Influenza

Influenza merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menyebabkan epidemi mau pun pandemi. Di negara subtropik, angka kejadian influenza meningkat dan dapat menyebabkan kejadian luar biasa hampir di setiap musim dingin tiba. Di Amerika Serikat, influenza menyebabkan ± 20.000 kematian / tahun. Kelompok penderita influenza terbanyak adalah anak-anak, tetapi komplikasi dan kematian tertinggi terjadi pada usia >65 tahun dan yang memiliki risiko tinggi.

 “Cara paling efektif untuk mencegah influenza atau komplikasi lain yang timbul dari penyakit ini, adalah melalui vaksinasi. Cara ini dapat mencegah hingga 70 - 90% risiko terkena influenza pada orang dewasa sehat, 60% pada lanjut usia dan menurunkan resiko kematian hingga 80%,” ujar Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD-KAI, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa.

Patofisiologi

Virus influenza adalah virus RNA, termasuk famili orthomyxo virus, berantai tunggal dan berbentuk heliks. Sesuai dengan antigen dasarnya, dibagi menjadi tiga tipe yaitu: A, B dan C. Virus ini dibagi menjadi beberapa subtype, berdasarkan antigen permukaannya, yaitu hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N). Tiga tipe hemaglutinin yang ada pada manusia (H1, H2, H3), berperan dalam penempelan virus pada sel.

Dua tipe neuraminidase (N1, N2) berperan dalam penetrasi virus ke dalam sel. Variasi kedua glikoprotein eksternal H dan N, ada kalanya berubah secara periodik,  menyebabkan perubahan antigenitas. Antigenic shift merupakan perubahan besar (major) salah satu antigen permukaan (H atau N), yang dapat menyebabkan pandemi. Antigenic drift merupakan perubahan kecil (minor) pada antigen permukaan, yang timbul di antara major shift dan bisa dihubungkan dengan epidemi (Pickering dkk., 2000).

Infuenza tipe A menyebabkan penyakit sedang-berat, dan dapat menyerang semua umur. Virus ini menyerang manusia dan binatang lain, seperti babi dan burung. Influenza tipe B biasanya menyebabkan penyakit yang lebih ringan dari pada tipe A, dan terutama menyerang anak-anak. Influenza tipe B lebih stabil dari pada influenza tipe A, dengan sedikit antigenic drift dan menyebabkan imunitas yang cukup stabil. Virus ini hanya menyerang manusia.

Virus influenza mempunyai kemampuan untuk mengubah antigen. Perubahan antigen ini sering terjadi pada influenza tipe A, kurang pada tipe B, dan tidak pernah pada tipe C. Perubahan terjadi pada antigen permukaannya yaitu H dan N. Terdapat dua macam mutasi, tergantung besar kecilnya perubahan RNA, yaitu:

  • Antigenic shift, hanya terjadi pada influenza tipe A; perubahan genetik yang besar dan mendadak pada HA dan/atau NA; tidak ada imunitas di masyarakat; mengakibatkan pandemi setiap 10-40 tahun sekali.
  • Antigenic drift, hanya terjadi pada influenza tipe A dan B; terjadi setiap satu atau beberapa tahun dalam satu subtipe; mutasi pada asam amino RNA; tidak menghasilkan subtipe baru; dan dapat menyebabkan terjadinya epidemi.

Influenza dapat menyerang semua kelompok umur. Angka kejadian infeksi tertinggi adalah pada anak-anak, sedangkan angka kejadian penyakit serius dan kematian tertinggi, ada pada orang usia ≥65 tahun dan orang yang berisiko tinggi menderita komplikasi akibat influenza.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.