Optimalisasi Terapi Atasi Resistensi3 | ethicaldigest

Optimalisasi Terapi Atasi Resistensi3

Terapi empiris dan deeskalasi

Kollef dan Micek mengembangkan suatu alogaritma, untuk membantu pemberian terapi antibiotika empiris. Juga melakukan deeskalasi dan penghentian terapi. Karena itu, adanya infeksi serius yang disebabkan bakteri, dokter harus melakukan pengambilan specimen untuk analisa mikrobiologis dan memberikan terapi antibiotika berspektrum luas.

Menurut dr. Budi Riyanto, Sp.PD-KPTI, untuk memberikan terapi antibiotik empiris dengan antibiotik yang tepat, seorang dokter harus mempertimbangkan 3 faktor. “Pertama, harus dilihat kemungkinan patogen yang menyebabkan infeksi. Kedua, pola resistensi dan distribusi patogen di rumah sakit. Ketiga, faktor risiko resistensi yang dimiliki pasien,” kata dr. Rudi.  

Terapi deeskalasi adalah metode paling penting dari modifikasi antibiotika. Ada banyak penelitian yang menunjukkan manfaat dari strategi ini. Salah satunya menunjukkan, kalau stretegi ini meningkatkan peluang hidup pasien dengan VAT. Meski status klinis dan respon harus secara terus menerus dimonitor, evaluasi terapi perlu dilakukan antara 2-3 hari, ketika hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

Jika pada saat itu, kondisi pasien membaik secara klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium memperlihatkan bahwa terapi yang diberikan sudah tepat, ganti terapi dengan antibiotika berspektrum sempit. Terapi deeskalasi ini bisa diteruskan dengan dihentikannya terapi, jika bukti-bukti menunjukkan tidak adanya infeksi bakteri.

Sebaliknya, jika kondisi pasien gagal membaik, evaluasi data mikrobiologis dilakukan dengan mempertimbangkan kemungkinan adanya infeksi akibat bakteri resisten atau non bakteri. Evaluasi juga harus menyertakan kemungkinan munculnya komplikasi, seperti pembentukan abses, serta kemungkinan penyebab non infeksi. Ketika infeksi sudah terkendali, perhatian harus diberikan pada penghentian terapi antibiotika, ketika manfaat maksimum tercapai.

Manfaat terapi deeskalasi dan penghentian terapi antibiotic, antara lain adalah meminimalkan biaya yang dikeluarkan, mengurangi risiko efek samping terkait obat, dan penurunan tekanan pada ekologi bakteri. Karenanya dapat mengurangi kemungkinan munculnya patogen resisten.

Bukti-bukti manfaat penghentian antibiotika sejak dini, mencakup penurunan insiden diare terkait Clostridium difficile dan penurunan insiden superinfeksi dengan bakteri resisten dan kuman kandida. Bukti nyata dari manfaat yang terakhir, didapatkan dari penelitian oleh Singh dan kawan-kawan, yang mengevaluasi dampak terapi antibiotika jangka pendek (3 hari), pada 81 pasien di ICU bedah yang mengalami infiltrasi paru.

Kemungkinan penyebab infeksi dari infiltrasi, dievaluasi pada hari ketiga. Pasien dengan Clinical Pulmonary Infection Scores yang rendah, secara acak dihentikan terapi antibiotikanya atau diteruskan dengan durasi yang ditentukan oleh skor mereka. Penelitian ini menunjukkan tidak adanya konsekuensi serius, seperti peningkatan mortalitas atau meningkatnya lama rawat, yang dihubungkan dengan penghentian terapi antibiotika setelah 3 hari, pada pasien yang terbukti memiliki kemungkinan pneumonia yang rendah. Meski demikian, untuk pasien-pasien berisiko rendah ini, penghentian dini dihubungkan dengan penurunan signifikan patogen resiten, yang hanya terjadi pada 15% pasien versus 35% (P = .017) pada mereka yang melanjutkan terapi lebih dari 3 hari.

Meski banyak pasien berisiko rendah dalam penelitian Singh dan kawan-kawan mungkin tidak pernah mengalami infeksi paru. Menurunkan durasi terapi antibiotika, terbukti menjadi strategi efektif pada pasien dengan pneumonia karena infeksi bakteri. Karena itu, pada penelitian acak, Chastre dan kawan-kawan memperlihatkan outcome klinis yang serupa, serta penurunan terjadinya infeksi berikut pada pasien dengan ventilator-associated pneumonia, yang mendapatkan terapi antibiotika yang tepat selama 8 hari, dibandingkan 15 hari.

Pencegahan resistensi antibiotik

Centers for Disease Control and Prevention mempublikasikan 12 langkah, yang didisain untuk memperlambat perjalanan resistensi antimikrobial. Panduan ini difokuskan pada penggunaan alat secara efektif, diagnosa yang akurat, penggunaan antimikrobial secara hati-hati dan pencegahan penyebaran patogen.

Menggarisbawahi pentingnya tindakan pengendalian infeksi sebagai cara untuk mencegah infeksi karena patogen yang resisten antibiotik, Huang dan kawan-kawan menilai dampak 4 tindakan pengendalian infeksi pada insiden MRSA di satu rumah sakit. Penggunaan kultur survailan rutin dan isolasi pasien dihubungkan dengan penurunan insiden MRSA secara signifikan (penurunan 75% pada pasien ICU [P = .007] dan penurunan 40% pada pasien non ICU [P = .008]).

Melanjutkan fokus pada infeksi MRSA dan praktik pendalian infeksi, Girou dan kawan-kawan menemukan bahwa kepatuhan yang baik terhadap praktik cuci tangan adalah prediktor kuat menurunkan prevalensi MRSA. Hubungan antara praktik cuci tangan dan penurunan angka resistensi sangat signifikan. Bahkan setelah melakukan penyesuaian lama perawatan dan jumlah kesempatan mencuci tangan per jam.

Akhirnya, penggunaan salep mupirocin dan chlorhexidine untuk mandi secara rutin pada pasien dengan infeksi nasal karena MRSA, menyebabkan penurunan infeksi MRSA nosokomial pada pasien ICU. Dari Januari 1999 sampai Desember 2003, pasien ICU dengan infeksi nasal oleh MRSA mendapat 2% salep mupirocin secara intranasal 3 kali sehari selama  5 hari, dan mandi dengan chlorhexidine 1x sehari selam 3 hari.

Total ada 2200 pasien yang menjalani skrining, dan ada 364 pasien yang terinfeksi MRSA. Angka infeksi MRSA nosokomial secara menetap turun selama periode intervensi, dari 8,3% pada 1999 menjadi 6,3% pada 2000, 4,3% pada 2001, 3,6% pada 2002 dan 2,8% pada 2003. Perbedaan angka di tahun 1999 dan 2003, secara statitik signifikan (P = .001).

BACA OPTIMALISASI TERAPI ATASI RESISTENSI2

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.