Optimalisasi Terapi Atasi Resistensi2 | ethicaldigest

Optimalisasi Terapi Atasi Resistensi2

Perlunya memberikan antibiotika sesegera mungkin

Ada bukti kuat bahwa dalam mengelola pasien dengan infeksi berat, antibiotika yang digunakan tidak saja harus tepat. Pemberiannya juga harus cepat. Penelitian  oleh Kumar dan kawan-kawan, secara retrospektif mempelajari dampak penundaan pemberian terapi antimikrobial pada 2154 pasien dengan syok sepsis. Mereka menemukan hubungan yang kuat antara penundaan pemberian antibiotika dan mortalitas di rumah sakit (adjusted odds ratio [OR], 1,119 kematian/1 jam penundaan; P < .0001).

Waktu pemberian terapi antibiotika yang tepat, adalah prediktor terkuat peluang hidup pasien. Jika suatu antibiotika yang efektif diberikan dalam satu jam pertama hipotensi, angka harapan hidup pasien adalah 79,9%. Setiap penundaan 1 jam dalam 6 jam berikutnya, akan menurunkan angka harapan hidup sampai 7,6%. Yang menarik, hanya 50% pasien yang mendapat pengobatan yang tepat dalam 6 jam pertama.

Pentingnya memberikan pengobatan sejak dini, dikonfirmasikan dalam satu analisa terhadap pasien dengan infeksi MRSA. Dalam analisa retrospektif yang melibatkan 549 pasien yang diobati selama 3 tahun sampai akhir 2004, terapi antibiotika tepat yang diberikan dalam 24 jam pertama setelah pengumpulan koleksi specimen untuk kultur, dihubungkan dengan angka harapan hidup yang lebih tinggi (33,4% vs. 22,0% pada mereka yang tidak mendapat antibiotik yang tepat; P = .015).

Faktor risiko infeksi MDR patogen dan pemilihan antibiotik

Guideline American Thoracic Society dan Infectious Diseases Society of America untuk pengelolaan pneumonia terkait fasilitas pelayana kesehatan menyebutkan, faktor risiko infeksi MDR patogen antara lain adalah mendapat terapi antimikrobial dalam 3 bulan sebelumnya, menjalani perawatan di rumah sakit lebih dari 5 hari, tingginya frekuensi resistensi antibiotika dalam komunitas atau unit rumah sakit tertentu, adanya penyakit yang menekan sistim imun atau mendapat terapi imunosupresif. Termasuk, adanya faktor yang menunjukkan pneumonia terkait dengan infeksi nosokomial.

Faktor-faktor tersebut meliputi perawatan lebih dari 2 hari dalam  90 hari terakir, tinggal di suatu rumah perawatan atau fasilitas perawatan, mendapat terapi infuse di rumah (termasuk antibiotik) menjalani dialisis kronis dalam 30 hari terakhir, dan ada anggota keluarga yang mengalami infeksi oleh patogen MDR.

Guideline American Thoracic Society/Infectious Diseases Society of America merekomendasikan terapi kombinasi antibiotika berspektrum luas, dengan 2 antibiotik atau lebih sebagai terapi empiris awal untuk pasien dengan pneumonia terkait fasilitas perawatan dan faktor risiko terinfeksi dengan organisme resisten.

Obat-obatan yang dapat dipertimbangkan adalah aminoglycoside atau suatu antipseudomonal fluoroquinolone plus suatu antipseudomonal β-lactam (suatu carbapenem, jika diduga ada patogen penghasil β-lactamase berspektrum luas atau spesies MDR Acinetobacter) PLUS vancomycin atau linezolid jika diduga MRSA. Berkenaan dengan pengobatan pneumonia MRSA, guideline ini menyatakan bahwa vancomycin bisa menjadi pilihan yang kurang baik.

Sebagaimana ditulis oleh Kollef dalam suplemen guideline tersebut, vancomycin memiliki kekurangan dalam pengobatan infeksi yang disebabkan S. aureus, karena aktifitasnya terhadap patogen ini menurun. Sementara itu, pilihan terapeutik lainnya terbatas. Daptomycin tidak sesuai diberikan untuk infeksi paru karena bisa dinonaktifkan oleh surfactant, dan tigecycline sedang diselidiki untuk tujuan ini.

Memilih antibiotika yang tepat, hanya ada satu cara saja. Yang tidak kalah penting adalah memperhatikan prinsip PK/PD obat, untuk memaksimalkan efek antimikronial, meminimalisasi kemungkinan munculnya resisten dan meminimalkan efek samping terapi. Pencapaian target farmakodinamik dihubungkan dengan tinggginya angka keberhasilan eradikasi bakteri dan keberhasilan klinis, serta menurunkan munculnya resistensi.

Contoh dari pentingnya memperhatikan PK/PD obat, dapat dilihat dari penelitian oleh Thomas dan kawan-kawan, yang mengevaluasi hubungan antara PK/PD antibiotik dan outcome pada 107 pasien, dengan infeksi saluran nafas bagian bawah nosokomial. Hasil ini mengindikasikan bahwa  daerah di bawah concentration-time curve/minimum inhibitory concentration (AUC/MIC) ⩾100, dihubungkan dengan risiko munculnya resistensi kuman yang lebih rendah.

BACA OPTIMALISASI TERAPI ATASI RESISTENSI1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.