Optimalisasi Terapi Atasi Resistensi1 | ethicaldigest

Optimalisasi Terapi Atasi Resistensi1

Resistensi terhadap antibiotika merupakan masalah kesehatan serius di masyarakat. Hal ini tidak saja menyebabkan outcome yang buruk, tapi juga memperlama perawatan, yang akhirnya meningkatkan biaya pengobatan. Terapi antibiotika yang efektif, saat ini dituntut untuk menggunakan semua data laboratorium dan klinis ketika memilih antibiotika yang tepat untuk seorang pasien.  

Antibiotik harus digunakan secara hati-hati, agar memberikan hasil maksimal dan meminimalisasi munculnya resistensi. Setiap penggunaan antibiotika, yang tepat atau pun tidak, dapat mempengaruhi ekologi bakteri dengan secara selektif menekan ekologi bakteri, dan karenanya menyebabkan resistensi. Sebab itu, semua penggunaan antibiotik memiliki konsekuensi pada kesehatan masyarakat.

Saat menghadapi pasien dengan infeksi serius, dokter tidak mengetahui patogen yang menyebabkan infeksi. Karena itu, dokter harus memilih antibiotika secara empiris. Ketika data mikrobiologis sudah tersedia, terapi antimikrobial harus diganti dengan antibiotik yang lebih spesifik terhadap kuman penyebab. Terapi deeskalasi semacam ini dapat mencegah penggunaan antibiotika yang tidak perlu.

“Strategi pengobatan deeskalasi adalah upaya untuk memberikan pengobatan antimikrobial awal yang tepat dan cepat kepada pasien, dengan penyakit infeksi serius dan meminimalkan berkembangnya resistensi antibiotik lebih lanjut,” kata dr. Budi Riyanto, Sp.PD dari Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FK Universitas Diponegoro, Semarang.

Kecepatan pemberian dan penanganan pada pasien terinfeksi adalah langkah penting. Penundaan memberikan terapi antibiotika yang tepat sangat berbahaya. Selain itu pemberian terapi antibiotika dalam jangka waktu yang lama dapat berakibat buruk pada pasien dan ekologi bakteri secara umum.

Berbagai penelitian menunjukkan, peluang hidup secara signifikan meningkat ketika kepada pasien diberikan antibiotika yang tepat sejak awal. Antibiotika yang tepat di sini, artinya semua patogen masih sensitive terhadap antibiotika tersebut. Meski demikian, bila dilihat lebih luas, terapi antibiotika empiris dan definitive dianggap tepat, jika diberikan dalam waktu yang tepat dengan dosis tepat, memperhatikan informasi pharmacokinetic dan pharmacodynamic (PK/PD), serta perubahan terapi berdasarkan respon klinis dan data mikrobiologi.

Sebuah penelitian memperlihatkan, di antara pasien yang menderita pneumonia karena infeksi nosokomial, terapi antimikrobial yang tidak tepat paling sering dikaitkan dengan infeksi strain resisten seperti Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Acinetobacter species, Klebsiella pneumoniae, dan Enterobacter. Karena itu, pemberian terapi antibiotika seharusnya memperhatikan pola kuman setempat.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.