Menjaga Kesekatan Lansia | ethicaldigest

Menjaga Kesehatan Lansia

Bahwa tindakan preventif lebih diutamakan dari pada kuratif, juga berlaku pada kelompok geriatri. Saat ini, tidak terhitung suplemen yang mengklaim dapat mendorong efektivitas sistem imun pada para lansia (lanjut usia). Ada suplemen yang mengandung vitamin, mikronutrien, mau pun zat-zat yang berasal dari produk herbal.

Tindakan preventif berupa vaksinasi pada lansia, juga mulai digalakkan. Vaksinasi bertujuan untuk mencegah penyakit infeksi tertentu, atau sedikitnya mencegah agar tidak terjadi komplikasi yang berat. Didukung dengan gaya hidup sehat, suplemen dan vaksinasi akan bekerja lebih baik. Dengan demikian, kualitas hidup lansia tetap terjaga dan mereka dapat menikmati masa tua tanpa rasa sakit.

Peranan Vitamin dan Mineral pada Sistem Imun Lansia

Sejak dulu, dokter percaya bahwa berjemur pada pagi hari dapat membantu proses penyembuhan tuberkulosis. Melalui berbagai penelitian, kemudian diketahui bahwa efek ini berkaitan dengan pembentukan vitamin D di kulit, melalui paparan sinar matahari. Penelitian-penelitian selanjutnya menemukan bahwa vitamin dan trace element lain, juga memiliki peranan  dalam sistem imun manusia.

Menurut dr. Cindiawaty Pudjiadi, SpGK, MARS, dari RS Medistra, Jakarta, atas dasar ini multivitamin dan mineral sering diberikan dokter kepada pasien dalam kasus-kasus penyakit infeksi. Terutama infeksi virus, dengan harapan dapat mendorong sistem imun agar lebih cepat dan kuat dalam melawan penyakit. Zat-zat ini juga diberikan sebagai suplemen pada pasien yang membutuhkan tambahan vitamin dan mineral (trace elements), misalnya pada wanita hamil, atau penderita anemia defisiensi.

Hampir sepertiga lansia mengalami defisiensi vitamin dan mineral. Hal ini umumnya terjadi karena asupan makanan yang kurang, atau kurang beraktivitas dan paparan matahari. Pada lansia, vitamin diberikan guna mendorong kekebalan tubuh. Perlu diingat, pemberian vitamin hanya sebagai suplementasi atau tambahan. Sebisa mungkin, vitamin dan trace element diperoleh dari sumber-sumber alami, sehingga dapat mencegah penggunaan berlebihan. Ini karena waktu yang diperlukan lansia untuk mengeliminasi obat lebih lama. Oleh karena itu, dosisnya juga harus disesuaikan agar tidak terjadi hipervitaminosis.

Vitamin yang erat kaitannya dengan kekebalan tubuh adalah vitamin A dan D. Sedangkan mineral yang diketahui memiliki efek terhadap kesehatan adalah zinc dan selenium. Vitamin C yang lama dikenal sebagai “antiflu”, ternyata tidak efektif untuk mengatasi flu. Efeknya sama seperti plasebo. Tidak ada penurunan durasi dan beratnya flu, pada pasien yang diterapi dengan vitamin C dalam beberapa penelitian. Bahkan dalam dosis tinggi, penyerapan vitamin C malah menurun dan menyebabkan efek samping berupa batu ginjal, mual, dan diare. Namun, vitamin C dan vitamin E tetap memiliki fungsi baik sebagai anti oksidan.

Oksidan terbentuk karena adanya patogen yang masuk ke dalam tubuh. Pada saat makrofag dan limfosit T menyerang patogen, keduanya menggunakan oksigen dalam bentuk superoksida. Namun, superoksida sendiri dapat berbahaya bagi makrofag. Vitamin C dan vitamin E bekerja sebagai antioksidan dengan menangkap oksidan yang ada, dan secara tidak langsung menjaga fungsi kekebalan tubuh.

Ini berbeda dengan vitamin A dan D, yang memiliki peranan langsung dalam sistem imun. Menurut dr. Cindiawaty, vitamin A dapat mempengaruhi regulasi gen dan protein yang mengaktifkan sel T dan produksi sitokin. Studi menunjukkan, pemberian suplemen vitamin A akan meningkatkan konsentrasi sel NK dan sel T-helper, serta mendorong fungsi monosit, di mana sel NK bekerja untuk melisis sel yang terinfeksi dan sel-sel tumor.

Selain itu, ditemukan hubungan antara defisiensi vitamin A dengan penyakit autoimun. Ini berkaitan dengan fungsi sel dendritik, yaitu sel yang bertugas untuk memberi sinyal “siaga” pada kekebalan tubuh dan  “pereda”, jika ada reaksi imun yang berlebihan. Fungsi “pereda” sel dendritik ini dipengaruhi oleh vitamin A. Dengan demikian, suplementasi vitamin A pada lansia diharapkan mampu mencegah terjadinya penyakit autoimun.

Pasien lanjut usia sering kurang terkena paparan sinar matahari, sehingga dapat mengalami defisiensi vitamin D. Padahal, vitamin D merupakan zat yang penting dalam aktivasi sistem imun manusia, terutama aktivasi limfosit T. Saat limfosit T terpapar patogen, ia akan mengeluarkan antena reseptor vitamin D. Ikatan antara reseptor dan vitamin D, akan mengaktifkan limfosit T-naive menjadi dua bentuk. Yang pertama sel T sitotoksik, yang akan menghancurkan sel pembawa patogen. Yang kedua adalah sel T-helper memori, yang mengingat dan menyebarluaskan informasi mengenai patogen, agar dikenali pada saat patogen yang sama masuk ke dalam tubuh. Pada defisiensi vitamin D, sel limfosit T-naive tetap dalam keadaan dorman, sehingga proses imun selanjutnya tidak terjadi. Ini yang menyebabkan infeksi berat menjadi sulit teratasi.

Seperti telah disebutkan, trace elemen tertentu juga dapat diberikan untuk mendorong kerja sistem imun. Pemberian suplemen zinc dan selenium, terbukti meningkatkan respon kekebalan humoral pada lansia paska vaksinasi, dan menurunkan angka morbiditas yang disebabkan infeksi saluran pernapasan.

Defisiensi zinc pada lansia, bisa terjadi akibat kurangnya asupan makanan, penurunan absorpsi di usus, dan obat-obatan seperti diuretik. Penyakit seperti diabetes, juga dapat disertai  defisiensi zinc. Padahal, zinc berperan penting terhadap fungsi sistem imun, terutama yang diperantarai oleh limfosit T.

Efek manfaat pemberian suplemen zinc, terlihat pada meningkatnya jumlah limfosit T sitotoksik dan aktivasi sel T helper pada lansia yang tinggal di rumah jompo, dengan dosis 25 mg zinc/hari. Jumlah sel T total juga meningkat dengan persentase masing-masing sel T tetap sama dari sebelumnya. Bahkan pada penelitian diketahui bahwa pemberian zinc dapat merangsang aktivitas thymulin pada timus.

Selain meningkatkan respon imun, zinc memperbaiki fungsi imun pada tingkat seluler. Pada lansia yang diberi zinc, fungsi sel T meningkat, pembentukan sitokin proinflamasi meningkat, dan produksi sitokin menjadi normal.

Menurut dr. Cindiawaty, trace elemen lain yang bermanfaat untuk meningkatkan sistem imun adalah selenium. Pada lansia, kadar selenium seringkali rendah, meski mereka makan seperti biasa. Selenium diperlukan agar neutrofil, makrofag, sel NK, limfosit T serta berbagai mekanisme pertahanan lainnya, dapat bekerja dengan baik. Penambahan asupan selenium dapat menurunkan risiko kanker dan membantu meredakan kondisi patologis seperti stress oksidatif dan inflamasi.

Suplemen probiotik

Efek probiotik pada kesehatan telah lama diketahui, terutama pada saluran pencernaan. Menurut dr. Cindiawaty, manfaat asam laktat yang dihasilkan bakteri ini antara lain melindungi tubuh terhadap infeksi enterik, sebagai terapi adjuvan, immunopotentiator pada malnutrisi, dan pencegahan terhadap timbulnya tumor di saluran pencernaan, dengan peningkatan aktivitas IgA, sel T dan makrofag.

Beberapa strain laktobasilus dapat mempengaruhi patogen melalui inhibisi kompetitif dan mungkin dapat meningkatkan fungsi imun dengan meningkatkan jumlah sel penghasil IgA, meningkatkan fagositosis dan jumlah limfosit T dan sel NK. Penelitian probiotik menggunakan carrier keju yang diberikan pada lansia, menunjukkan peningkatan sitotoksisitas sel NK secara signifikan.

Vaksinasi untuk lansia

Salah satu teknik pencegahan penyakit pada lansia, adalah dengan vaksinasi. Lansia mungkin belum pernah mendapat imunisasi pada masa mudanya, atau belum tersedia pada saat ia masih anak-anak. Bagi yang sudah pernah diimunisasi, vaksinasi perlu diulang / booster, agar kekebalannya tetap terjaga. Semua ini untuk mencegah penyakit berat atau kematian akibat penyakit infeksi tertentu.

Influenza dan pneumonia merupakan penyebab kematian nomor lima pada lansia berusia 65 tahun ke atas di Amerika Serikat. Vaksinasi bagi lansia akan menurunkan angka perawatan di rumah sakit dan kematian. Selain influenza dan pneumonia, vaksinasi yang dianjurkan pemberiannya pada lansia antara lain vaksin varicella, vaksin zoster, vaksin hepatitis B, dan booster tetanus.

  1. Influenza
    Diberikan setahun sekali terutama pada musim dingin menggunakan Trivalent Inactivated Influenza Vaccine (TIV) atau TIV dosis tinggi, secara intramuskular. Pemberian TIV secara nasal tidak dianjurkan untuk pasien berusia 50 tahun ke atas. WHO memprioritaskan vaksinasi influenza pada lansia yang tinggal di rumah jompo dan yang mengalami disabilitas, diikuti lansia yang tidak tinggal di rumah jompo dengan penyakit paru kronis, penyakit metabolik dan kardiovaskuler, dan pasien dengan imunodepresi.
    Vaksinasi dapat mencegah perawatan di rumah sakit akibat komplikasi atau infeksi saluran pernapasan akut, seperti pneumonia pneumokokal, gangguan pernapasan kronik yang bertambah berat, bahkan sampai kematian. Sebenarnya, manfaat ini dimengerti oleh pasien dan dokter. Hanya saja, hambatan ekonomi menyebabkan masih rendahnya angka vaksinasi terhadap influenza di negara berkembang.
     
  2. Pneumonia
    Satu dosis Pneumococcal Polysaccharide Vaccine (PPSV) diberikan pada lansia 65 tahun ke atas, jika tidak ada riwayat vaksinasi pneumonia sebelumnya, diikuti pemberian kedua 5 tahun berikutnya. Vaksin ini diberikan secara intramuskuler atau subkutan.
    Pasien lanjut usia mudah terkena pneumonia, yang sering muncul mengikuti influenza. Keduanya dapat cepat menyebar, di masyarakat mau pun di rumah jompo. Pneumonia juga dapat mematikan, dengan sistem imun yang tidak bekerja dengan baik.
    Pneumonia dapat disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae, H. influenzae, atau Staphylococcus aureus. Kuman ini memiliki antigen antifagositik berbentuk kapsul, yang merangsang pembentukan IgG2 dari sel limfosit B tanpa melibatkan sel limfosit T-helper. Sering, kuman-kuman ini resisten terhadap berbagai antibiotik, terutama pada pneumonia pneumokokal.
    Vaksin bekerja melawan antigen yang berbentuk kapsul, dianjurkan bagi orang-orang dengan risiko tinggi. Termasuk lansia dengan distress pernapasan kronik atau yang mengalami penurunan kekebalan tubuh, serta yang  berisiko tinggi terkena infeksi paru komunitas.
     
  3. Varicella
    Vaksin varicella hanya diberikan jika tidak terbukti kebal terhadap varicella, atau belum pernah terkena varicella. Vaksin diberikan secara subkutan sebanyak 2 kali dengan selang waktu 4 minggu. Vaksin ini juga dapat diberikan sebagai profilaksis dalam 5 hari setelah terpapar virus varicella.
     
  4. Herpes zoster
    Diberikan pada pasien berusia 60 tahun ke atas, satu kali, secara subkutan, jika belum pernah mendapat vaksinasi zoster. Vaksinasi tetap diberikan meski ada riwayat varicella atau herpes zoster sebelumnya. Vaksinasi ini perlu, karena banyak lansia yang menderita herpes zoster mengalami komplikasi, terutama neuralgia postherpetik. Neuralgia menyebabkan disabilitas pasien, mengganggu kualitas hidup dan menyebabkan depresi pada lansia. Ia dapat berlangsung selama beberapa minggu sampai bertahun-tahun.
    Meski neuralgia postherpetik tidak selalu terjadi setiap kasus herpes zoster, ia merupakan penyebab morbiditas jangka panjang meski gangguan pada kulit sendiri telah menghilang. Munculnya neuralgia postherpetik cenderung berkaitan dengan usia, di mana ia terjadi pada sedikitnya 40% pasien berusia lebih dari 60 tahun, dan 75% pasien berusia lebih dari 70 tahun.
    Selain neuralgia postherpetik, infeksi varicella zoster virus juga dapat menyebabkan penyakit berat lain. Misalnya superinfeksi, infeksi virus, mielitis, ensefalitis, dan kelumpuhan perifer serta pada saraf kranial. Jika terjadi pada mata atau telinga, herpes zoster dapat menyebabkan kebutaan atau gangguan pendengaran yang sulit disembuhkan.
    Vaksin ini mampu menurunkan risiko terkena herpes zoster sampai 50% dan risiko komplikasi nyeri pada dua pertiga pasien.
     
  5. Tetanus, Difteri (Vaksin DT)
    Booster dianjurkan diberikan secara intramuskuler setiap 10 tahun, setelah serial pertama lengkap. Pada situasi tertentu, vaksin ini dapat diberikan sebelum 10 tahun. Pada pasien berusia 65 tahun ke atas, terutama yang memiliki kontak dengan bayi berusia kurang dari 12 tahun harus mendapat vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus).

Jika ada rencana pemberian dua atau lebih vaksin virus hidup, (Influenza, Tetanus), maka keduanya sebaiknya diberikan pada hari yang sama. Dapat juga diberikan dengan jarak sedikitnya 28 hari.

Dalam pemberian vaksin, harus diingat kondisi pasien pada saat menerima vaksinasi. Perlu diingat juga bahwa dengan adanya immunosenescence, efektivitas vaksinasi pada lansia akan menurun. Untuk itu, beberapa vaksin yang ada saat ini diperkuat secara khusus untuk mengatasi kurangnya respon imun terhadap imunisasi, misalnya vaksin influenza.

Pemberian suplemen, probiotik, dan vaksinasi saja tentu tidak akan berarti jika tanpa disertai oleh gaya hidup sehat, misalnya olahraga teratur, makanan bergizi dan menjaga kebersihan. Dengan semua itu, penyakit dapat dicegah dan lansia dapat hidup dengan kualitas hidup yang baik.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.