Menegakkan Diagnosis LVH pada Hipertensi2 | ethicaldigest

Menegakkan Diagnosis LVH pada Hipertensi2

Kriteria Sokolow Lion untuk diagnosa LVH pada EKG

 

A Kriteria sadapan anggota badan                    Sens (%)              Spes (%)

RI + SIII > 25 mm                                              10,6                        100

RaVL > 11 mm                                                   10,6                       100

RaVF > 20 mm                                                  1,3                          99,5

B: Kriteria sandapan dada :

SVI + RVS atau RV6 > 35 mm                         42,5                        95

R terbesar + S terbesar > 45 mm                     45                           89,5

RV5 atau RV6 > 26 mm                                    25                           98,5

 

Sistem skor poin Romhilt dan Estess pada EKG

  1. Amplitudo (yang mana saja, masing-masing 3 poin)
    1. Gelombang R atau S terbesar di sandapan anggota > 20 mm
    2. Gelombang S di V1 atau V2 > 30 mm, atau gelombang R di V1 atau V6 > 30 mm
  2. Perobahan segmen ST -T (strain ventrikel kiri dengan vector ST bergeser)
    1. Tanpa digitalis : 3 point
    2. Dengan digitalis : 1 point 
  3. Deviasi sumbu kekiri – 300 atau lebih : (2point).
  4. Durasi QRS > 0,009 detik                    : (1 point)

Hipertropi ventrikel kiri: 5 poin.  Mungkin hipertropi ventrikel kiri: 4 poin

Disamping itu, EKG dapat memberi informasi hantaran listrik regional pada otot jantung melalui dispersi QT, karena dapat merefleksikan perbedaan waktu repolarisasi pada berbagai sektor ventrikel. Kalau terdapat peningkatan dispersi QT, berarti ada gangguan hantaran pada otot ventrikel.

Peningkatan variasi waktu repolarisasi otot jantung, berperan penting dalam timbulnya aritmia. Peningkatan dispersi QT merefleksikan ketidak stabilan aliran listrik otot jantung, terutama karena fibrinosis yang mempercepat hantaran (menimbulkan lompatan), sehingga menimbulkan takiaritmia.  LVH yang diapatkan dengan perpanjangan dispersi QT setelah dikonfirmasi dengan ekokardiografi, ternyata mempunyai LVMI ( Left Ventricular Mass Index) yang meningkat.

Dispersi QT dapat dianggap sebagai penanda adanya faktor aritmogenik pada jantung, karena nilainya meningkat sesuai dengan skor klasifikasi Lown  pada aritmia, di mana pasien dengan skor Lown = 3 mempunyai dispersi QT yang lebih besar dibanding dengan skor Lown otot = 2.

Sebaliknya pada hipertrofi yang disebabkan latihan pada atlit, ternyata mempunyai dispersi QT yang lebih rendah. Kejadian ini dapat diterangkan, karena pada atlit terjadi hipertrofi yang fisiologis, sedangkan pada hipertensi terjadi hipertrofi yang patologis.

Hasil gambaran EKG pada hipertropi fisiologis tidak disertai perpanjangan dispersi QT, dan dapat menjelaskan kenapa individu yang terlatih mempunyai insiden aritmia yang rendah dibanding yang tidak terlatih.  Dari keterangan ini disimpulkan bahwa pengukuran dispersi QT, dapat menjadi metode sederhana yang relatif murah untuk membedakan antara hipertrofi miokards fisiologis dengan hipertropi patologis.

Nilai dispersi QT normal masih belum dapat dipastikan, karena terdapat variasi yang cukup luas. Chapman N dan kawan-kawan mendapatkan perbedaan dispersi QT pada LVH dan non LVH, masing-masing (81 ± 3 milidetik) dan (66 ± 5 milidetik). Pada 100 pasien hipertensi (50 orang dengan LVH dan 50 orang tanpa LVH), ternyata memiliki rata-rata dispersi QT masing- masing 80,1 dan 63,5 milidetik

Maheswary dan kawan-kawan di India mendapatkan korelasi dispersi QT dengan LVH pada 49 penderita  hipertens. Mereka mendapatkan dispersi QT 82,66 md (SD 35,34) pada LVH dan 36,66 md (15,71) pada non LVH, dengan koefisien korelasi r = 0,59 (p<0,001) untuk laki-laki dan r = 0,69 (p<0,01) pada wanita.

Sementara, peneliti lain mendapatkan korelasi dispersi QT dengan insiden LVH, pada r  = 0,30 (p<0,01)(14). Tinatin dan kawan-kawan mendapatkan perbedaan dispersi QT 59 ± 2 milidetik pada LVH dan 43 ± 1 milidetik pada non LVH. LIFE Study  (The Losartan Intervention For Endpoint Reduction, 2001) menyimpulkan bahwa pasien hipertensi yang didiagnosa mengalami LVH dengan EKG, yang disertai dengan peningkatan dispersi QT, mempunyai LVMI yang tinggi pada pemeriksaan ekokardiografi.

Perubahan elektrofisiologi pada LVH

Hipertrofi otot jantung akan mengubah pergerakan ion, yang beroperasi selama fase awal repolarisasi. Manifestasi LVH pada EKG, tercermin dari interval QT yang memanjang dan tidak merata pada setiap sandapan. LVH secara elektrofisiologi dapat mengganggu kontraksi dan relaksasi otot jantung. Perubahan yang tidak homogen akan meningkatkan dispersi QT, sehingga menimbulkan aritmia ventrikel.

Pengukuran dispersi QT, merupakan salah satu langkah yang tepat dalam mendeteksi gangguan repolarisasi pada berbagai sektor jantung. Sebab, peningkatan disperse QT menunjukkan inhomogenitas dari waktu repolarisasi otot jantung dan penurunan disperse QT, dapat menggambarkan kestabilan dari waktu ke repolarisasi otot jantung. 

Analisa Interval QT

Pembacaan atau pengukuran interval QT dilakukan secara seksama, dengan memakai kaca pembesar. Interval QT diukur pada hampir semua sandapan dan dicari nilai maksimal (terpanjang) dan nilai minimal (terpendek). Nilai interval QT didapatkan dengan mengukur jarak dari awal kompleks QRS sampai akhir gelombang T, yaitu setelah kembali pada garis isoelektrik TP ( base line).

Bila terdapat gelombang U maka interval QT diukur sampai titik terendah antara gelombang T dengan U, sedangkan sandapan yang tidak jelas akhir gelombang T-nya dikeluarkan dari pengukuran. Dispersi Qt ditentukan dari selisih antara interval QT maskimum dan minimum. Nilai dispersi QT lebih dari 70 milidetik dianggap memanjang, sedangkan nilai normal belum ada kesepakatan.

Ekokardiografi

Ekokardiografi menggunakan 2 macam teknik pemeriksaan, yaitu teknik 2 dimensi dan teknik M mode, sesuai kesepakatan atau protocol dari American Society of Echocardiography. Metode pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas atau korelasi yang kuat dengan LVH ( r = 0,86 – 0,96).

Teknik ekokardiografi ditentukan berdasarkan gelombang suara berfrekuensi tinggi (ultrasound) yang melalui struktur intrakardiak. Pantulan yang terjadi ditangkap dan diperagakan pada sebuah oscilloscope, sehingga ukuran atrium kiri, ventrikel kiri, ventrikel kanan dan aorta dapat ditemukan. Demikian pula ketebalan dan pergerakan ventrikel kiri dan septum interventrikuler.

Dua teknik yang sering digunakan adalah teknik M mode dan teknik 2 dimensi. Pada M mode, suatu sinar tunggal terbatas dari ultrasound diarahkan menuju jantung dari sela iga IV dan V di perbatasan sternal kiri. Bayangan yang dihasilkan oleh pantulan ultrasound direkam pada kertas yang bergerak, dengan kecepatan 50 mm/detik.

 Ekokardiografi 2 dimensi bermanfaat untuk menggambarkan hubungan struktural yang kompleks, terutama pandangan jantung dari para sternal kiri dan posisi apeks (four chamber view). Waktu penggambaran struktural intrakardiak lebih sulit dilakukan dengan teknik ini daripada teknik M mode.

Pengukuran dimensi internal ventrikel kiri (Left Ventricle Internal Dimension, LVID), tebal septum interventrikuler (interventicular Septal Wall Thickness, SWT) dan tebal dinding posterior (Posterior Wall Thickness, PWT), diperoleh dari diagram M-mode yang diambil dari posisi mid  ventricular short-axis view pada sela iga IV dan V di parasternalis kiri. LVIDd diambil antara sisi kiri septum interventrikuler dan endokardium posterior ventrikel kiri pada akhir diastolis.

Sesuai metode Devereux, didapatkan rumus pengukuran LVMI ( g/m) sebagai berikut :

 LVMI = (1,04 [ (SWT + PWT+LVID)3 – (LVID)3 ] – 14)/BSA

2BSA = Body surface area (luas permukaan tubuh). Dikategorikan LVH kalau LVMI =108 g/m2 untuk wanita dan LVMI = 131 g/m2 untuk pria.

BACA MENEGAKKAN DIAGNOSIS LVH PADA HIPERTENSI1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.