Membangun Center Laparoscopy Profesional | ethicaldigest

Membangun Center Laparoscopy Profesional

Di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) YPK Mandiri di kawasan elite Menteng Jalan Gereja Theresia No. 22,  Jakarta Pusat, laparoscopy semakin digemari oleh dokter dan pasien. Pasien yang umumnya dari kalangan menengah atas – termasuk artis dan keluarga pejabat – senang, karena dengan laparoscopy bekas sayatan hanya kecil saja sehingga secara kosmetik menguntungkan. Waktu rawat inap menjadi lebih singkat.

“Teknik laparospocy saat ini terus berkembang dan dapat dilakukan pada semua kasus, kecuali persalinan,” ujar Prof. dr. Endy M. Moegni, SpOG(K), Direktur Utama.

Pasien yang memilih RSIA YPK Mandiri, karena RS ini didukung dokter spesialis dan sub-spesialis serta tenaga ahli medis lain yang berkompeten di bidangnya, dilengkapi peralatan dengan teknologi terkini. “Sekitar 80% tenaga medis kami berasal dari FKUI/RSCM,” jelas Prof. Endy.

RSIA ini telah melalui perjalanan yang panjang, sejak berdirinya tahun 1960. RSIA dengan kapasitas 44 tempat tidur ini, BOR untuk kelas VIP dan VVIP mencapai 80%. Melihat animo masyarakat dan potensi yang besar, RSIA YPK Mandiri terus mengembangkan diri. Mulai Juli 2013, RSIA ini  berevolusi menjadi Perseroan Terbatas (PT). “Evolusi ini merupakan langkah strategis yang nantinya dapat meningkatkan kapasitas pengelolaan, kualitas layanan, serta fasilitas demi memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia,” katanya.

Unggulan

RSIA YPK Mandiri memiliki Klinik Spesilis dan Subspesialis Kebidanan dan Kandungan, termasuk  pelayanan laparoscopy. Pasien dan keluarga percaya pada pelayanan oleh tenaga ahli dan dokter sub-sepesilis ginekologi terbaik, yang dilengkapi peralatan dengan teknologi terkini serta fasilias perawatan dan pelayanan berkualitas prima.

Sejumlah pelayanan yang dapat diberikan di antaranya pelayanan kehamilan risiko tinggi, pengobatan bagi wanita dengan gangguan dan kelainan dasar panggul seperti gangguan berkemih, turun peranakan dan disfungsi seksual. Penanganan masalah ketidakmampuan dalam menghasilkan keturunan, setelah berhubungan tanpa alat kontrasepsi apa pun selama 1 tahun. Termasuk, penanganan kanker kandungan.

Laparoskopi sebagai suatu tindakan atau teknik operasi bedah, yang hanya memerlukan sayatan minimal pada dinding perut (0,5 cm), memiliki keunggulan tersendiri. Di antaranya, diagnosis yang lebih akurat, pemulihan pasca operasi lebih cepat, hari perawatan lebih singkat, risiko kerusakan jaringan  lebih ringan, infeksi luka operasi dan nyeri setelah operasi lebih sedikit, dan dari sisi kosmetik bekas operasi sangat minimal/kecil.

Menurut Prof. Endy, laparoskopi endoscopi pada bidang obstetri dan ginekologi yang diajarkan di bangku kuliah, sifatnya hanya pengetahuan dasar. Karena, yang lebih ditekankan di bidang Obgin adalah bagaimana menolong persalinan, melakukan operasi, pengangkatan kanker, dan beberapa tindakan lain.

“Laparoskopi diajarkan hanya pada kasus tertentu misalnya tubektomi. Bagi dokter yang tertarik mendalami bidang laparoskopi, diperlukan pendidikan tambahan. Umumnya mereka akan menimba ilmu di luar negeri, seperti Jerman, Australia, India dan Amerika Serikat. Mereka belajar di sana selama 1 sampai 2 tahun,” jelasnya.

Saat ini, permintaaan untuk melakukan bedah laparoskopi terus meningkat. Semakin banyak juga dokter spesialis Obgin di Indonesia yang tertarik untuk lebih jauh mempelajari teknik ini. “Dulu, laparoskopi terbatas hanya untuk kasus tertentu. Saat ini, seiring kemajuan zaman, teknik ini terus berkembang dan dapat dilakukan pada semua kasus,” ujar Prof. Endy.

Ada rumah sakit di daerah yang sudah memiliki alat laparoscopy. Masalah yang ada saat ini, akses untuk memperdalam atau mempelajari teknik bedah laparoskopi masih sulit dijangkau, karena umumnya harus ke luar negeri. RSIA YPK Mandiri yang memiliki cukup banyak ahli dan sumber daya manusia di bidang ini, merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu.

“Terpikir, kenapa kami tidak membuka pendidikan laparoskopi sendiri,” katanya.

Sebenarnya, saat ini sudah ada pendidikan laparoskopi di beberapa rumah sakit pemerintah. Masalahnya dalam melakukan pelatihan, rumah sakit pemerintah sering terkendala. Terutama dalam hal investasi alat. Sulit bagi rumah sakit pemerintah untuk mendatangkan peralatan yang canggih dengan harga mahal. Mesti lewat tender dan lain-lain. Hal ini sedikit banyak menghambat dokter untuk bisa belajar secara profesional.

RSIA YPK Mandiri sendiri sudah memiliki beberapa alat laparoskopi. Rencananya, akan dibangun ruangan dengan system digital, untuk melengkapi teknik laparoskopi yang sudah ada saat ini.

“Dokter yang ingin belajar tidak harus masuk kamar operasi, karena bisa melihat jalannya operasi dari ruangan lain,” ujar Prof. Endy. “Belajar laparoskopi tidak bisa langsung ke pasien, harus dengan bantuan molding.” 

Baru, setelah dokter yang bersangkutan mahir dengan alat laparoskopi, ia boleh masuk ke kamar operasi. Tertapi, untuk tahap awal ia harus menjadi asisten lebih dulu. Ketika sudah terbiasa, dokter bisa melakukan sendiri tetapi dengan bimbingan. Setelah dianggap mahir, baru ia kemudian dilepas. “Begitulah proses yang sesungguhnya. Hal ini memang tidak bisa instan, misalnya hanya dalam waktu 1 minggu,” tambahnya.

Prof. Endy ingin mengembangkan RSIA YPK Mandiri bukan hanya sebagai tempat pelayanan, melainkan juga sebagai pusat pelatihan laparoskopi, khususnya bagi rekan-rekan dokter Obgin. Berdirinya Pusat Pelatihan Laparocopy swasta pertama di Indonesia, tampaknya akan segera terwujud.

 “Pendidikan laparoskopi yang ada sekarang di Indonesia kurang terarah. Umumnya para dokter hanya sebatas magang, menjadi asisten di rumah sakit-rumah sakit tertentu yang memiliki alat laparoscopy. Seharusnya, kalau ingin belajar lebih baik harus terarah. Belajar menggunakan molding atau pada hewan coba seperti babi atau kambing, lalu meningkat kompetensinya pada manusia,” jelas Prof. Endy.

Kasus yang banyak ditangani menggunakan teknik laparoscopy meliputi kista indung telur. “Ini memudahkan pasien dan juga dokter. Dulu, dengan operasi terbuka waktunya relative lebih lama, penyembuhan pasien juga lebih lama. Dengan laparoskopi luka yang ditimbulkan kecil saja, hanya berupa tiga lubang kecil. Satu lubang untuk kamera, 2 lubang yang lain untuk gunting atau alat lainnya. Selain kista, saat ini laparoscopy bisa dilakukan untuk kasus mioma dan angkat rahim.

Karena keunggulan dan berbagai kelebihannya, peminat untuk mengikuti pendidikan laparoscopy di Indonesia semakin banyak. “Mereka, para dokter muda,  saat ini selalu mengikuti tren di dunia. Di luar sana, bisa dibilang laparoscopy sangat digemari para dokter, mengingat manfaatnya yang baik, bagi  dokter dan juga pasien,” ujarnya.

Pihak pasien dan keluarga semakin banyak yang mengerti mengenai keunggulan teknik laparoscopy. Maka, mau tidak mau dokter harus terus mengembangkan keterampilannya. Apalagi, menurut Prof. Endy, dibandingkan robotic surgery, laparoscopy memiliki keunggulan dari sisi biaya yang cenderung lebih murah. “Memang robotic canggih. Tetapi, investasi alatnya sangat mahal. Biaya yang dibebankan kepada pasien tentunya juga mahal. Sementara, untuk kondisi yang sama, bisa dilakukan dengan laparoscopy,” paparnya.

Sejarah

Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) YPK Mandiri diresmikan berdirinya 1 Maret 1960. Awalnya berupa Klinik Bersalin, dibawah Yayasan Pemeliharaan Kesehatan (YPK) Bapindo (Bank Pembangunan Indonesia). Pada tahun 1978, dilakukan perluasan area hingga ke Jalan Lombok 46 dan menambah banggunan 2 lantai untuk rawat inap. Selain itu, ikut dikembangkan pula bangunan di Jalan Gereja Theresia 22 sehingga mampu menyediakan pelayanan rawat jalan, kamar operasi, kamar pulih dan kamar bersalin.

Sebagai bagian dari proses merger Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) dan sejumlah bank pemerintah lain menjadi Bank Mandiri, YPK beralih dari Bapindo ke Bank Mandiri sebagai pendiri subsitusi. Pada 31 Maret 2000 diadakan perubahan, nama YPK Bapindo menjadi Yayasan Kesehatan Bank Mandiri (Yakes Mandiri).

Oktober 2008, bangunan di Jalan Gereja Theresia diperbaharui menjadi 3 lantai untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan rawat jalan, kamar operasi, kamar pulih, kamar bersalin serta ruang rawat inap VIP dan VVIP. Seiring mulai beroperasinya gedung rumah sakit yang baru, tahun 2010 rumah sakit  berganti nama menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) YPK Mandiri. (ant)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.