Manfaat dan Efek Samping Oksitosin | ethicaldigest

Manfaat dan Efek Samping Oksitosin

Pada tubuh manusia, oksitosin dibuat oleh sel-sel saraf khusus di regio tertentu di otak. Di luar sel saraf, oksitosin diproduksi di kelenjar telur dan sel-sel di testis spesies tertentu (bukan manusia).
Saat ini, berkat kemajuan teknologi, hormon ini sudah dapat dibuat sintetiknya. Hormon ini ternyata mudah dihancurkan oleh saluran cerna, sehingga hormon sintetik dibuat dalam bentuk sediaan bucal, nasal spray, intramuskular atau intravena.

Pemakaian secara intravena (drips/ tetesan) merupakan metode yang paling banyak digunakan. Dengan cara ini, uterus dirangsang sedikit demi sedikit secara kontinyu. Bila perlu, infus dapat dihentikan dengan segera. “Pemberian tetesan oksitosin harus diberikan di bawah pengawasan yang ketat, dengan pengamatan HIS dan denyut jantung janin,” jelas dr. Ardiansjah Dara Sjahruddin, SpOG, MKes, dari Siloam Hospital Semanggi, Jakarta.

Oksitosin merupakan hormon polipeptida, yang disekresikan oleh pituitary posterior yang berperan pada persalinan dan ejeksi ASI. Tujuan induksi atau augmentasi adalah untuk mempengaruhi aktivitas uterus, sehingga mampu menghasilkan kontraksi yang adekuat untuk membuka serviks dan mendorong janin turun (descent).

Dalam persalinan, ada dua kegunaan oksitosin, yaitu menginduksi stimulasi kontraksi sebelum onset persalinan spontan dimulai. Augmentasi untuk menstimulasi kotraksi spontan yang tidak adekuat, karena kegagalan progresivitas dilatasi serviks dan penurunan janin.

Oksitosin sintetik terbentuk melalui proses "genetic engineering" yang rumit, untuk dapat dihasilkan sediaan yang stabil dan dapat berfungsi seperti hormon aslinya. Hormon oksitosin dibentuk dari prohormon, berupa nonapeptida. Berat molekulnya 1007. Disekresikan turun sepanjang akson-akson dari neuron-neuron, yang badan selnya terletak di nucleus supraoptikus dan paraventrikularis. Dalam perjalanannya, oksitosin terikat pada protein pembawa yang dikenal sebagai neurofisin I dan II (estrogen dan nikotin masing-masing merangsang neurofisin), yang memiliki berat molekul sekitar 10.000, disekresikan lebih langsung ke dalam sirkulasi portal daripada sirkulasi perifer. Sejumlah kecil oksitosin dilepaskan ke dalam sirkulasi portal. Waktu pro-oksitosin sekitar 10 menit.

Salah satu oksitosin sintetik yang ada di pasar adalah Pitogin (Synthetic oxytocin 10 IU/mL). Obat ini diindikasikan untuk induksi persalinan, kontrol perdarahan & atoni pasca melahirkan, stimulasi kontraksi uterus pasca cesar, dan induksi aborsi. Kontraindikasi dari obat ini meliputi hyperkontraksi, preeklamsia dan kelainan bentuk uterus.

Dosis

Pada Induksi persalinan, dosis yang diberikan adalah 1 hingga 5 IU dalam 500 mL cairan infus, initial 2 - 8 tts/menit dilanjutkan sampai 20 tts/menit. Sedangkan pada kasus incomplete abortus, oksitosin diberikan dengan dosis 5 IU secara intra venous,  atau 5 hingga 10 IU secara intra muscular. Pada kasus perdarahan pasca melahirkan, pitogin diberikan dengan dosis 5 IU secara perlahan baik IV maupun IM.

Pada sectio caesar, pitogin diberikan pada dosis 5 IU secara IM atau IV, diberikan perlahan setelah melahirkan.

Efek samping

Bila oksitosin sintetik diberikan, kerja fisiologis hormon ini akan meningkat sehingga dapat timbul beberapa efek samping, yang dapat dikelompokkan, berupa:

  1. Stimulasi berlebih pada uterus. Walau kasusnya jarang, ini dapat menyebabkan gangguan uteroplasenta sehingga menyebabkan distres fetus, abruptio plasenta hingga ruptur uteri.
  2. Konstriksi pembuluh darah tali pusat.
  3. Anti diuretika. Oksitosin memiliki efek anti diuretik, yang dapat menyebabkan terjadi retensi cairan berlebih atau intoksikasi cairan. Hal ini dapat menyebabkan hiponatremia, koma, konvulsi, gagal jantung, seizure hingga kematian.
  4. Kerja pada pembuluh darah (dilatasi).
  5. Mual.
  6. Reaksi hipersensitif.
  7. Meningkatkan resiko hiperbilirubinemia neonatus. Oksitosin dihentikan bila jumlah kontraksi tetap > 5x dalam periode 10 menit, atau > 15x dalam periode 15 menit atau didapat persisten non reassuring fetal heart rate pattern.

Oksitosin sintetik juga dapat menyebabkan kematian ibu karena hipertensi berat dan perdarahan subarakhnoid, perdarahan post partum, afibrinemia fatal, retensi air yang menimbulkan hiponatremia, intoksikasi dengan udem pulmonal, konvulsi, koma. Kemungkinan kematian terutama bila oksitosin diberikan untuk waktu yang lama.

Efek samping lain yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan oksitosin, meliputi: anafilaksis dan reaksi hipersensitivitas, aritmia, hematom pelviks, mual, muntah, kuning pada neonatus, perdarahan retina. Pemberian cepat oksitosin secara intravena juga dapat menimbulkan hipotensi sementara, merah pada kulit dan refleks takikardia. Pemberian intra nasal dapat menimbulkan iritasi, rinorea, lakrimasi, perdarahan uterus, kontraksi uterus yang kuat.

Interaksi obat 

Oksitosin dengan obat simpatomimetik akan menguatkan efek vasokontriksi. Anastesi inhalasi seperti halotan dan siklopropan, akan meningkatkan efek hipotensif dan menurunkan efek oksitosin serta terjadinya bradikardia. Pemberian oksitasin bersama prostaglandin, dinoproston dan misoprostol akan saling menguatkan efek keduanya pada uterus. Tunggu 6-12 jam sesudah pemberian ketiganya, sebelum pemberian oksitosin.

Mekanisme kerja

Oksitosin menimbulkan kontraksi ritmik rahim dan efeknya meningkat dengan meningkatnya umur kehamilan. Dosis kecil akan meningkatkan kekuatan kontraksi, dosis besar atau dosis berulang akan menimbulkan kontaksi tetanik. Obat ini juga menimbulkan ejeksi ASI dan memiliki efek antidiuretik lemah. Oksitosin dipecah di saluran pencernaan oleh “enzyme trypsin,” sementara jika diberikan secara intra nasal atau bukal, akan diabsorbsi cepat melalui membran mukosa.

Obat ini di metabolisme di hati dan ginjal, dengan waktu paruh plasma hanya beberapa menit. Hanya sejumlah kecil dari obat ini diekskresikan lewat urin. Onset kontraksi uterus,  IM: 3-5 menit; IV: sekitar 1 menit. Durasi IM: 2-3 jam, IV: 1 jam. Metabolisme di hati cepat dan lewat plasma oleh oksitosinase. Sebagian kecil dimetabolisme di kelenjar susu, dengan waktu paruh eliminasi 1 hingga 5 menit. Selanjutnya diekskresikan lewat urine.

Oksitosin bekerja selektif pada otot polos uterus dan menyebabkan kontraksi ritmis pada uterus, meningkatkan frekuensi kontraksi yang telah ada, dan meningkatkan tonus otot-otot uterus. “Hal ini tampaknya tergantung dosis dan ambang rangsang uterus terhadap obat,” jelasnya. Oksitosin sintetik tidak mempunyai efek pada sistem kardiovaskuler, seperti peningkatan tekanan darah yang biasanya terjadi karena sekresi vasopressin oleh pituitari posterior.

Pada kehamilan cukup bulan, pemberian infus oksitosin pada kecepatan 1-16 mU/menit menghasilkan kadar fisiologi oksitosin, yang akan menimbulkan kontraksi yang tidak berbeda dengan yang dihasilkan pada akhir kehamilan normal. Pemberian infus 16 mU per menit, meningkatkan tonus basal rahim. Oksitosin juga bekerja pada reseptor-reseptor sel mioepitel payudara dan menstimulasi kontraksi  sel-sel ini, yang menyebabkan mengalirnya air susu ke duktus yang lebih besar, sehingga memudahkan keluarnya air susu.

Stabilitas penyimpanan

Pitogin hendaknya disimpan dalam wadah kedap udara, pada temperatur 2 – 8 °C dan hindari dari cahaya dan pembekuan. Dapat disimpan pada temperatur 15 - 25 °C sampai 30 hari. Oksitosin dicampur dengan larutan infus normal salin (NaCl fisiologis) atau Ringer Laktat,  dengan konsentrasi 10 miliunit/ml, kocok/putar larutan campuran.

Farmako kinetic

Oksitosin dapat diberikan secara intramuskular. Dalam distribusinya tidak terikat pada protein plasma, dieliminasi oleh hati dan ginjal. Waktu paruh oksitosin hanya 5 menit, sehingga dengan menghentikan pemberiannya akan segera menurunkan kadarnya dalam plasma, dan efeknya terhadap kontraksi uterus turun dengan cepat.

Farmako dinamik

Bekerja melalui reseptor protein G dan fosfoinositol kalsium dan sistem second messenger, untuk mengkontraksikan otot polos uterus. Selain itu, menstimulasi prostaglandin dan leuketrien untuk augmentasi kontraksi uterus. Efek oksitosin adalah terhadap frekuensi dan kekuatan kontraksi uterus. Efek lainnya didapat pada mioepitel payudara. Penggunaan lain adalah untuk mengontrol perdarah uterus, karena efek kontraksinya akan menjepit pembuluh darah di uterus.

Oksitosin drip

Pemberian oksitosin dapat dilakukan secara intramuskular, intravena dan infus tetes dan bukal. Yang paling baik dan aman adalah pemberian infus tetes (drip), karena dapat diatur dan diawasi cara kerjanya. Cara Pemberian:

  1. Kandung kemih dan rektum lebih dulu dikosongkan.
  2. Ke dalam 500 cc dekstrosa 5% dimasukkan 5 satuan oksitosin dan diberikan perinfus dengan kecepatan pertama 10 tetes per menit.
  3. Kecepatan dapat dinaikkan 5 tetes setiap 15 menit, sampai tetes maksimal 4-60 per menit.
  4. Oksitosin drip akan lebih berhasil, bila nilai pelvik di atas 5 dan dilakukan amniotomi. (ant)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.