Low Back Pain 3 | ethicaldigest

Low Back Pain 3

Usia penderita dapat membantu dalam menentukan penyebab potensial. Jenis LBP yang sering muncul pada usia muda, di antaranya  spondilitis ankilosa dan sindrom Reiter. Sedangkan pada usia lebih tua, umumnya berupa stenosis spinal, osteoporosis dan polimialgia reumatika. Jenis kelamin dapat membantu. Spondiloartropi sering ditemukan pada pria, sedangkan fibromialgia dan osteoporosis lebih sering pada wanita.

Selain mengidentifikasi riwayat penyakit saat ini, penting ditelaah riwayat sosial, keluarga dan penyakit terdahulu. Hal ini dapat membantu, karena mungkin terdapat faktor predisposisi familial seperti pada spondiloartropati. Kelainan mekanik seperti HNP dan stenosis spinal, mungkin mempunyai predileksi keluarga. Pekerjaan dan riwayat  sosial seperti merokok, alkohol dan penggunaan obat-obat tertentu, penting untuk mengidentifikasi penderita yang memiliki risiko mengalami nyeri pinggang mekanik. Sedangkan riwayat penyakit seperti keganasan, artritis atau penyakit tulang metabolik, sangat membantu untuk mengidentifikasi penderita yang mempunyai penyakit sistemik sehingga menyebabkan nyeri pinggang.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik lengkap harus dilakukan, sebelum mengevaluasi pinggang. Sebab tanda-tanda penyebab spesifik nyeri pinggang, mungkin ditemukan pada waktu melakukan pemeriksaan umum. Kelainan pada berbagai organ, misalnya pada kulit, mata dan saluran cerna, dapat ditemukan pada penderita dengan nyeri pinggang medik.

Penderita LBP harus diperiksa pada posisi berbeda-beda. Pemeriksaan saat duduk, berdiri atau berbaring dapat membedakan berbagai penyebab kelainan LBP, di mana presentasi klinis nyeri akan meningkat atau menurun pada kelainan tertentu.

Kelainan

Berdiri

Duduk

Membungkuk

Spinal Stenosis

Back strain

Hernia nukleus pulposus

Osteoarthritis

Spondylolisthesis 

Adult scoliosis                 

Keterangan:

↑: nyeri bertambah hebat

↓: nyeri berkurang

 

  • Posisi berdiri

Perhatikan cara penderita berdiri dan sikap berdirinya, cara berjalan, derajat gerakan  dan spasmus otot. Perlu diperhatikan bagian belakang tubuh, apakah ada deformitas, gibus, skoliosis, lordosis lumbal, pelvis yang miring. Atau, tulang panggul kanan dan kiri tidak sama tinggi dan atrofi otot. Selain itu, bisa dilakukan palpasi untuk  mencari trigger zone, nodus miofasial, nyeri pada sendi sakroiliaka, dll.

  • Posisi duduk

Sama seperti posisi berdiri, yaitu perhatikan cara penderita duduk dan sikap  duduknya. Juga perhatikan bagian belakang tubuhnya.

  • Posisi berbaring

Amati cara penderita berbaring dan sikap berbaringnya, pengukuran panjang ekstremitas inferior dan pemeriksaan abdomen, rektal, atau urogenital.

Pemeriksaan Tambahan

Pemeriksaan fisik khusus atau neurologik yang umumnya dilakukan adalah pemeriksaan motorik, sensorik, dan refleks, serta beberapa pemeriksaan lain yang spesifik untuk tiap jenis LBP.  Dapat pula dilakukan EMG (electromyografi) dan evoked potential somato-sensorik. Pada pemeriksaan radiologik dapat dilakukan foto polos tulang belakang, mielografi, kaudografi, diskografi, CTscan, CT-mielografi, CT­diskografi, dan magnetic resonance imaging (MRI).

Hubungan antara abnormalitas struktural dan gejala nyeri, terkadang tidak terlalu kuat. Terutama pada pasien dengan nyeri muskuloskeletal kronis, atau pada mereka yang mengalami gejala tanpa adanya trauma yang jelas.

Dari penelitian Jackson et al  (1989), Boos et al (2000), dan Jarvik et al (2001), disebutkan, CT Scan dan MRI tulang belakang sering memberikan gejala false positif palsu. Yaitu ditemukan abnormalitas struktur yang jelas, pada seseorang yang tanpa gejala. Graven dan Arendt Nielson (2002) menyebutkan, nyeri muskuloskeletal kronis pada jangka panjang akan menyebabkan perubahan CNS, yang akan mempengaruhi perasaan nyeri seseorang terhadap stimulasi nyeri lainnya. “Diharapkan dokter tidak menentukan diagnosis semata-mata berdasarkan temuan imajing, tapi juga berdasar keluhan pasien,” jelasnya.

Pemeriksaan laboratorium klinik

Pada sebagian besar pasien LBP, tidak harus dilakukan pemeriksaan laboratorium mau pun radiologis. Pemeriksaan laboratorium penting dilakukan pada pasien usia di atas 50 tahun, dengan riwayat menderita keganasan. Atau pasien-pasien dengan manifestasi klinik disertai kelainan sistemik. Jika penderita berusia kurang dari 40 tahun, biasanya akan ditelusuri ke arah Seronegative spondyloarthritis.

Pemeriksaan laboratorium meliputi darah lengkap, laju endap darah (LED), urin lengkap termasuk protein Bence Jones, serum kalsium, fosfat, alkali fosfatase, asam fosfatase, HLA, reaksi imunologik, pemeriksaan sumsum tulang, dan pemeriksaan likuor serebrospinal.

Pemeriksaan yang paling bermanfaat dalam membedakan nyeri pinggang medik dari nyeri pinggang mekanik, ialah pemeriksaan LED. Nilai LED tinggi menunjukkan adanya peradangan dalam tubuh, sehingga dapat dimulai pemeriksaan yang lebih mendalam terhadap kemungkinan adanya kelainan inflamasi sistemik.

Pemeriksaan lain

Bila dianggap masih kurang mendukung diagnosis, dapat dilakukan biopsi, termografi, atau zygapophyseal joint block (melakukan blok langsung pada sendi yang nyeri atau pada saraf).

Low Back Pain 2

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.