Lactobacillus reuteri Tingkatkan Pertumbuhan Anak | ethicaldigest

Lactobacillus reuteri Tingkatkan Pertumbuhan Anak

Pemberian Lactobacillus reuteri pada anak, mampu mencegah diare serta meningkatkan tinggi dan berat badan anak usia 1-6 tahun secara signifikan

Di Indonesia, masalah nutrisi masih cukup Tbanyak dijumpai. Hal itu berdampak dengan banyak ditemukannya anak-anak yang mengalami stunting (kerdil) sebesar 37%), wasting 14%, dan under weight 18%. Diperlukan sebuah strategi untuk meningkatkan status nutrisi pada anak, karena dengan tercapainya status nutrisi yang baik akan meningkatkan kesehatan dan kualitas anak dimasa yang anak datang.

Menurut Dr. dr. Rina Agustina, MSc, Deputy Director for Resource Management and Marketing SEAMEO-REFCON, Jakarta, ada beberapa aspek yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah nutrisi anak, di antaranya dengan memberikan suplementasi nutrisi, fortification dan juga dietary modulation.

Salah satu hal yang paling mudah dilakukan dan dapat meningkatkan status nutrisi anak, adalah dengan suplementasi probiotik. “Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang bila dikonsumsi dengan cukup, akan bermanfaat bagi kesehatan dan sifatnya harus strain specific, yang artinya strain yang satu akan berbeda dengan staine yang lain,” jelas dr. Rina.

Menurut Dr. Rina, mekanisme dari probiotik yang paling penting adalah berada pada tingkat gut atau intestinal. Sehingga probiotik mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen, serta meningkatkan fungsi dari pertahanan mukosa. Selain itu, probiotik juga harus memiliki efek sistemik baik terhadap organ mau pun sel dalam tubuh manusia. “Probiotik dapat menurunkan diare, dapat meningkatkan absorbsi nutrient, meningkatkan imunitas dan menstimulasi hormone pertumbuhan,” tambahnya.

Penelitian yang dilakukan Dr. Rina Agustina dan kawan-kawan telah dipublikasikan di Journal of Nutrition, 22 Mei 2013, berjudul “Robiotics Lactobacillus reuteri DSM 17938 and Lactobacillus casei CRL 431 Modestly Increase Growth, but Not Iron and Zinc Status, Among Indonesia Children Aged 1-6 years”. Menurutnya, kebanyakan dari probiotik di fortified dari susu. Ia ingin melihat, bagaimana efeknya pada anak. Karena kebanyakan susu mengandung kalsium, dari situ ia ingin melihat bagaimana manfaat susu/kalsium, dan melihat jika kalsium ditambahkan dengan probiotik. Dari kedua macam probiotik yang digunakan yaitu Lactobacillus casei CRL 431, dan Lactobacillus reuteri DSM 17938, apakah dari kedua jenis probiotik ini memiliki efek yang berbeda atau sama.

Out come yang dilihat dari penelitian ini adalah penurunan insiden dan juga lamanya diare, yang selanjutnya menilai insiden dari infeksi saluran pernafasan akut, keparahan diare dan juga status besi dan zinc pada anak.

Subject penelitian adalah anak sehat dengan usia 1-6 tahun dengan intake calsium yang rendah di bawah 375 mg/hari, tanpa severe wasting. Studi dilakukan di daerah Kampung Melayu dan Rawa Bunga, Jakarta Timur, mewakili daerah banjir dan daerah non banjir.

Dalam studi ini setidaknya di skrining sekitar 3929 anak. Didapatkan 497 anak yang memenuhi kriteria. Dari 497 anak tersebut selanjutnya dibagi ke dalam 4 kelompok yaitu kelompok low calcium milk (50 mg/hari) sebanyak 124 anak, Kelompok regular milk calcium (440mg/hari) sebanyak 126 anak, Kelompok regular milk calcium + lactobacillus casei 431, 5.108 CFU/hari sebanyak 120 anak, dan kelompok regular milk calcium + L reuteri DSM 17368, sebanyak 5.108 CFU/hari sebanyak 124 anak.

Selama 6 bulan dilakukan follow up pada setiap anak yang masuk dalam penelitian. Dilihat, bagaimana kondisi atau parameter dari masing-masing anak, baik; FFQ, darah, feses, dan antopometri baik pada awal penelitian dan akhir penelitian. “Meski banyaknya hambatan di lapangan, tetapi kami mampu menjadikan compliance rate mencapai 94%,” jelas Dr. Rina.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa insiden diare menurun sebanyak 24-32% pada anak yang mendapat lactobacillus reuteri. Demikian juga dengan peningkatan pertumbuhan anak, ternyata meningkat secara signifikan pada anak yang mendapat lactobacillus reuteri baik dari tinggi badan mau pun berat badannya.

Beberapa hipotesis mengatakan bahwa pemberian susu pada anak akan memberikan efek yang negatif terhadap status besi dan zinc-nya. Ini karena intestinal calcium dapat mengakibatkan precipitasi pada zat besi mau pun zinc, dengan menginhibisi bioavailabilitinya. Namun, di sisi lain dinyatakan bahwa probiotik mampu meningkatkan status besi dan zinc pada anak. “Sehingga, kami sekaligus ingin melihatnya dalam penelitian ini,” tambah Dr. Rina. Ternyata, hasilnya calsium tidak berpengaruh terhadap status besi mau pun zinc anak, dan dengan penambahan probiotik dalam hal ini Lactobacillus reuteri ternyata memang meningkatkan tinggi dan berat badan anak.

Sebagai rekomendasinya, probiotik merupakan salah satu potensial alternatif strategi yang bisa digunakan untuk pencegahan diare. Juga untuk meningkatkan pertumbuhan anak-anak di Indonesia. Diharapkan dengan hasil penelitian ini, akan semakin banyak penggunaan probiotik; paling tidak bisa membantu meningkatkan pencapaian MDGs.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.