Komplikasi Graves Disease 3 | ethicaldigest

Komplikasi Graves Disease 3

Tiroid akan membesar hingga 2-3x normal, konsistensinya padat, terdapat thrill atau bruit akibat peningkatan vaskularisasi kelenjar dan sirkulasi hiperdinamik. Manifestasi klinis utama pada mata, antara lain keterlibatan jaringan lunak, retraksi kelopak, proptosis, neuropati optik, dan myopati restriktif. Fase dari perkembangan penyakit ini adalah fase kongestif dan fibrosis. Pada fase kongestif (inflamasi), mata merah dan nyeri, dapat berulang selama 3 tahun dan hanya 10% pasien yang mengalami masalah penglihatan jangka panjang yang serius. Pada fase fibrosis, mata tenang, meski pun ada defek motilitas yang tidak nyeri.

  • Keterlibatan Jaringan Lunak. Gejala meliputi grittiness (merasa seperti ada benda asing), fotofobia, lakrimasi, dan rasa tidak nyaman di retrobulbar. Tanda yang dapat dilihat pada pasien antara lain:
  • Hiperemia epibulbar.
  • Periorbital swelling, disebabkan edema dan infiltrasi di balik septum orbital. Dapat disebabkan kemosis dan prolaps lemak retroseptal ke kelopak mata.
  • Keratokonjungtivitis limbus superior.

 

  • Retraksi Kelopak. Retraksi kelopak mata atas dan bawah terjadi pada kurang lebih 50% pasien dengan Graves disease, dengan mekanisme:
  • Kontraktur fibrosis dari levator yang berkaitan dengan perlekatan dengan jaringan orbital.  Fibrosis pada otot rektus inferior dapat menyebabkan retraksi kelopak mata bawah.
  • Reaksi berlebih terhadap levator rektus superior sebagai respons terhadap hipotrofi, akibat fibrosis dan kekakuan otot rektus inferior. Reaksi ini bisa disebabkan secara tidak langsung oleh fibrosis otot rektus superior.
  • Reaksi berlebih dari otot Muller sebagai akibat dari overstimulasi simpatis, karena kondisi hipertiroid. Tanda yang muncul yaitu, ketika sklera terlihat di bawah limbus.  Tanda lain yang dapat ditemukan antara lain: Dalrymple, Kocher, dan Von Graefe.

 

  • Proptosis. Propotosis dapat terjadi unilateral, bilateral, aksial, simetris, atau asimetris, dan seringkali permanen.  Proptosis berat dapat menyebabkan keratopati eksposur, ulkus kornea, dan infeksi.
  • Myopati Restriktif. Sebagian pasien (30-50%) dengan penyakit mata tiroid, mengalami oftalmoplegia dan dapat menjadi permanen.  Motilitas okular dibatasi oleh edema inflamasi dan fibrosis.  Tekanan intraokular dapat meningkat karena adanya penekanan okular, oleh otot rektus inferior yang fibrosis.  Bentuk kelainan motilitas okular antara lain:
  • Defek elevasi akibat kontraktur fibrosis pada otot rektus inferior, yang menyerupai kelumpuhan otot rektus superior.
  • Defek abduksi akibat fibrosis otot rektus medialis, yang mencetuskan kelumpuhan nervus VI.
  • Defek depresi sebagai akibat tidak langsung dari fibrosis otot rektus superior.
  • Defek aduksi akibat fibrosis otot rektus lateralis.

 

  • Neuropati Optik. Neuropati optik jarang terjadi, tetapi merupakan komplikasi yang serius akibat penekanan nervus optikus atau pembuluh darah pada apeks orbital akibat kongesti dan pembesaran otot rektus. Penekanan tersebut dapat terjadi tanpa proptosis yang signifikan, tetapi dapat menyebabkan gangguan penglihatan berat yang dapat dicegah.  Gangguan yang terjadi biasanya pada penglihatan sentral. Tanda-tanda yang dapat dilihat dari pasien antara lain:
  • Penurunan visus, berkaitan dengan RAPD, desaturasi warna, dan penurunan kemampuan membedakan terang.
  • Gangguan lapang pandang dapat berupa sentral atau parasentral. Dapat pula terjadi bersamaan dengan defek bundel serat saraf. Jika terdapat peningkatan tekanan intraokular, sulit dibedakan dengan glaukoma sudut terbuka primer.
  • Diskus optik biasanya normal, namun terkadang bengkak atau atrofi.

Perubahan pada mata (ophtalmopathy Graves), menurut the American Thyroid Association diklasifikasikan sebagai berikut (dikenal dengan singkatan NOSPECS): 0 untuk No signs and symptoms. Tidak ada gejala dan tanda. 1: Only signs no symptoms. Hanya ada tanda tanpa gejala (berupa upper lid retraction, stare, lid lag). 2: Soft tissue involvement with signs and symptoms. Perubahan jaringan lunak orbita, dengan tanda dan gejala seperti lakrimasi, fotofobia, dan pembengkakan palpebra atau konjungtiva. 3: Proptosis (dapat dideteksi dengan Hertel exphthalmometer). 4: Extraocular muscles involvement. Keterlibatan otot-otot ekstra okular. 5: Corneal involvement. Perubahan pada kornea (keratitis). 6: Sight loss due to optic nerve involvement. Kebutaan (kerusakan nervus optikus).

Lebih lanjut, pada Kelas 1, terjadinya spasme otot palpebra superior dapat menyertai keadaan awal tirotoksikosis Graves, yang dapat sembuh bila keadaan tirotoksikosisnya diobati secara adekuat. Kelas 2-6, terjadi proses infiltratif pada otot-otot dan jaringan orbita. Kelas 2 ditandai peradangan jaringan lunak orbita disertai edema periorbita, kongesti dan pembengkakan dari konjungtiva (khemosis).

Kelas 3 ditandai adanya proptosis, yang dapat dideteksi dengan Hertel exophthalmometer. Pada kelas 4, terjadi perubahan otot-otot bola mata berupa proses infiltratif, terutama pada musculus rectus inferior yang menyebabkan kesukaran menggerakkan bola mata keatas. Bila mengenai musculus rectus medialis, akan terjadi kesukaran dalam menggerakkan bola mata kesamping. Kelas 5 ditandai  perubahan pada kornea (terjadi keratitis). Kelas 6 ditandai kerusakan nervus optikus, yang dapat menyebabkan kebutaan.

Komplikasi Graves Disease 2

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.