Komplikasi Graves Disease 2 | ethicaldigest

Komplikasi Graves Disease 2

Patogenesis

Sama halnya dengan hipotiroidisme autoimun, kombinasi dari faktor lingkungan dan genetik, misalnya polimorfisme gen HLA-DR, CTLA-4, dan PTPN22 (regulator sel T) berkontribusi terhadap Graves disease. Kejadian penyakit ini pada kembar monozigotik adalah 20-30%, sedangkan pada kembar dizigotik <5%. Bukti tak langsung menunjukkan bahwa stress merupakan faktor penting yang memengaruhi sistem neuroendokrin dan sistem imun. Merokok hanya menimbulkan risiko minor terhadap Graves disease, tetapi risiko mayor untuk pembentukan opthalmopati. Peningkatan asupan yodium secara cepat akan memperburuk penyakit ini, dan peluang meningkat tiga kali lipat pada periode post-partum.

Hipertiroidisme pada Graves disease disebabkan oleh thyroid-stimulating immunoglobulin (TSI) yang disintesis di kelenjar tiroid, seperti di nodus limpa dan sumsum tulang. Antibodi tersebut dapat dideteksi dengan bioassay atau TSH-binding inhibitor immunoglobulins (TBII) assay. Keberadaan TBII pada pasien dengan tirotoksikosis mengaburkan keberadaan TSI, assay tersebut berguna untuk memantau wanita hamil dengan Graves disease karena kadar TSI yang tinggi, dapat melewati plasenta dan menyebabkan tirotoksikosis neonatal. Antibodi TPO tampak pada 80% kasus dan merupakan penanda siap ukur dari autoimunitas. Untuk jangka panjang, hipotiroidisme autoimun spontan terjadi pada 15% kasus.

Sitokin berperan penting dalam opthalmopathy terkait tiroid. Terdapat infiltrasi otot ekstraokuler akibat aktivasi sel T, pelepasan sitokin (IFN-γ, TNF, dan IL-1) menghasilkan aktivasi fibroblas dan peningkatan sintesis glikosaminoglikan yang menangkap air, sehingga menuju pada bengkak otot.  Pada kasus yang berkepanjangan, dapat terbentuk fibrosis ireversibel pada otot. Fibroblas orbital cukup sensitif terhadap sitokin. Patogenesis dari opthalmopati terkait tiroid, sebenarnya masih belum jelas. Namun terdapat bukti TSH-R, yang merupakan autoantigen yang diekspresikan pada orbital dan dapat dikaitkan dengan penyakit tiroid autoimun. Peningkatan lemak adalah penyebab tambahan dari ekspansi jaringan retrobulbar. Peningkatan tekanan intraorbital dapat menuju pada proptosis, diplopia, dan neuropati optik.

Manifestasi Klinis

Gejala dan tanda Graves disease sangat mirip dengan tirotoksikosis. Manifestasi klinis yang muncul bergantung pada keparahan tirotokskosis, lamanya penyakit, toleransi individu terhadap kelebihan hormon tiroid, dan usia pasien. Pada usia tua, ciri-ciri tirotoksikosis dapat tersembunyi, namun yang khas adalah kelelahan dan penurunan berat badan, disebut tirotoksikosis apatetik.

Tirotoksikosis dapat menyebabkan penurunan berat badan, meski selera makan meningkat akibat kenaikan laju metabolik. Kenaikan berat badan terjadi pada 5% pasien, karena peningkatan asupan makanan. Manifestasi lainnya adalah hiperaktivitas, gelisah, takut, dan iritabilitas, menyebabkan mudah lelah pada beberapa pasien. Insomnia dan gangguan konsentrasi sering terjadi, apatetik tirotoksikosis dapat menjadi rancu pada depresi lansia.

Tremor halus sering ditemukan, mudahnya dengan menarik jari sambil merasakan ujung jari pada telapak tangan. Gangguan neurologis lain meliputi hiperrefleksia, lemah otot, dan myopati proksimal tanpa fasikulasi. Chorea merupakan ciri yang sangat jarang. Tirotoksikosis terkadang dikaitkan dengan paralisis periodik akibat hipokalemia, sering terjadi pada pria Asia. Tirotoksikosis biasanya dikaitkan dengan kejadian:

  • Peningkatan ekskresi kalsium dan fosfor di urin dan feses.
  • Demineralisasi tulang, dipantau dengan densitometri tulang.
  • Fraktur patologis pada wanita usia tua.
  • Osteitis fibrosa, osteomalasia, dan osteoporosis.

Hiperkalsemia dapat terjadi pada pasien dengan tirotoksikosis. Konsentrasi total kalsium serum meningkat pada 27% pasien, dan terjadi kenaikan kalsium serum terionisasi pada sekitar 47% pasien. Konsentrasi alkalin fosfatase serum yang tidak tahan panas dan osteokalsin juga meningkat. Temuan ini menunjukkan hiperparatiroidisme primer, namun konsentrasi dari PTH imunoreaktif di serum menurun pada pasien tirotksik dengan hiperkalsemia.

Fungsi kardiovaskular berubah akibat peningkatan kebutuhan sirkulasi, yang disebabkan  hipermetabolisme dan perlu mendisipasi panas yang terbentuk. Pada saat istirahat, resistensi perifer vaskular menurun dan curah jantung meningkat, akibat peningkatan isi sekuncup dan denyut jantung. Hormon tiroid yang berlebih dapat memberi efek inotropik langsung. Keluhan kardiovaskular yang paling sering terjadi adalah sinus takikardia, sering berkaitan dengan palpitasi, terkadang disebabkan takikardia supraventrikular. Curah jantung yang tinggi menyebabkan pulsasi bounding, tekanan pulsasi melebar, dan murmur sistolik aorta yang dapat memperburuk angina pada gagal jantung di usia tua atau usia muda dengan kelainan jantung. Fibrilasi atrial sering terjadi pada pasien >50 tahun.

Kulit biasanya hangat dan lembab. Biasanya pasien mengeluh berkeringat dan tidak tahan panas, terutama pada cuaca panas/hangat. Dapat pula terjadi eritema palmar, onikolisis, pruritus, urtikaria, dan hiperpigmentasi difus. Tekstur rambut tetap baik, namun pada 40% pasien terjadi alopesia difus, yang menetap meski pun telah dikembalikan ke eutiroid.  Waktu transit gastrointestinal berkurang, menyebabkan peningkatan frekuensi feses, sering diare atau steatorea ringan. Efek langsung hormon tiroid pada resorpsi tulang, menyebabkan osteopenia pada tirotoksikosis lama. Hiperkalsemia ringan timbul pada 20% kasus, namun lebih sering hiperkalsiuria. Terdapat peningkatan kejadian fraktur pada penderita dengan riwayat tirotoksikosis.

Laju konfersi androstenedion menjadi testosteron, estron, dan estradiol dan testosteron menjadi DHT meningkat. Peningkatan konversi androgen menjadi estrogen, dapat diperkirakan sebagai mekanisme ginekomastia dan disfungsi seksual pada 10% pria dengan tirotoksikosis, dan mekanisme amenorrhea pada wanita. Mekanisme lain yang menyebabkan perubahan menstruasi adalah disrupsi dari amplitudo dan frekuensi dari pulsasi LH/FSH, akibat pengaruh hormon tiroid pada pensinyalan GnRH. Selain itu bisa jadi sebagai akibat peningkatan prolaktin, yang menekan hormon seks.

Komplikasi Graves Disease 1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.