Klasifikasi Perdarahan Intrauterin | ethicaldigest

Klasifikasi Perdarahan Intrauterin

Klasifikasi PUA terbagi 3, yaitu: PUA akut, krois dan intermenstrual bleeding. PUA akut adalah perdarahan haid yang banyak, sehingga perlu dilakukan penanganan cepat untuk mencegah kehilangan darah. PUA akut dapat terjadi pada kondisi PUA kronik atau tanpa riwayat sebelumnya. PUA kronik merupakan terminologi untuk PUA yang terjadi lebih dari 3 bulan. Sedangkan intermenstrual bleeding adalah perdarahan yang terjadi di antara 2 siklus haid yang teratur. Perdarahan dapat terjadi kapan saja, dapat juga terjadi di waktu yang sama setiap siklus.

Berdasarkan International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO), terdapat 9 kategori utama sesuai dengan akronim “PALM COEIN” (polip, adenomiosis, leiomioma, malignancy dan hiperplasia, coagulopathy, ovulatory dysfunction, endometrial, iatrogenik, not yet classified). PALM merupakan kelainan struktural, yang dapat dinilai dengan berbagai teknik pencitraan dan atau pemeriksaan histopatologi. Antara lain: polip, adenomiosis, leiomioma dan malignancy and hyperplasia. Sedangkan “COEIN” merupakan kelainan non struktural yang tidak dapat dinilai dengan teknik pencitraan atau histopatologi. Sistem klasifikasi tersebut disusun berdasarkan pertimbangan bahwa seorang pasien dapat memiliki satu atau lebih faktor penyebab PUA, antara lain coagulopaty, ovulatory dysfuntion, endometrial, Iatrogenik dan not yet classified.

Polip merupakan pertumbuhan endometrium berlebih yang bersifat lokal mungkin tunggal atau ganda, berukuran mulai dari beberapa milimeter sampai sentimeter. Polip endometrium terdiri dari kelenjar, stroma dan pembuluh darah endometrium. Kategori polip memungkinkan untuk pengembangan  lebih jauh  subklasifikasi untuk  penggunaan  klinis  atau   investigasi,  yang  mencakup  kombinasi  variabel termasuk dimensi polip, lokasi, jumlah, morfologi dan histologi.

Adenomiosis merupakan invasi endometrium ke dalam lapisan miometrium, menyebabkan uterus membesar, difus dan secara mikroskopik tampak sebagai endometrium ektopik, non neoplastik, kelenjar endometrium dan stroma, yang dikelilingi jaringan miometrium yang mengalami hipertrofi dan hiperplasia. Hubungan adenomiosis dengan terjadinya perdarahan uterus abnormal masih belum  jelas.  Sedangkan   kriteria   untuk   mendiagnosis   adenomiosis,  secara tradisional didasarkan pada evaluasi histopatologi kedalaman endometrium dalam jaringan di bawah endometrium-miometrium dari spesimen histerektomi, kriteria histopatologi bervariasi secara substansial dan persyaratan untuk mendiagnosa adenomiosis memiliki nilai terbatas dalam sistem klasifikasi klinis.

Leiomioma adalah tumor jinak fibromuskuler pada permukaan myometrium. Berdasarkan   lokasinya,   leiomioma   dibagi   menjadi   submukosa,   intramural dan subserosa. Sistem  klasifikasi  primer  hanya mencerminkan  ada tidaknya  sesuatu  lebih  leiomioma,  sebagaimana  ditentukan  dengan pemeriksaan  sonografi, terlepas  dari  jumlah,  lokasi  dan  ukuran. USG transvaginal umumnya memberi informasi akurat mengenai ukuran, jumlah dan lokasi mioma. Sonohisterografi dapat memberi gambaran pencitraan yang lebih jelas. Dalam sistem klasifikasi sekunder, dokter wajib membedakan mioma yang melibatkan rongga endometrium  (submukosa)  dan   yang  lain,  karena  lesi  submukosa  yang kemungkinan besar berkontribusi terhadap asal-usul perdarahan uterus abnormal. Pengembangan  sistem  klasifikasi  tersier  adalah  untuk  leiomioma subendometrial atau  submukosa,  yang  awalnya  diajukan  oleh  Wamsteker  dan kawan-kawan  yang  kemudian  di  adopsi  di  Eropa.  Sistem  PALM-COEIN menambahkan kategorisasi mioma intramural dan subserosal, serta kategori yang mencakup  lesi  (parasitik)  yang  tampaknya  terlepas dari  rahim.

Hiperplasia   endometrium   adalah   pertumbuhan   abnormal   berlebihan   dari kelenjar   endometrium.   Gambaran   dari   hiperplasi   endometrium   dapat dikategorikan sebagai: hiperplasi endometrium simpleks non atipik dan atipik, dan hiperplasia endometrium kompleks non atipik dan atipik. Walaupun  relatif   jarang   terjadi   pada   wanita   usia   reproduksi,   hiperplasia atipikal dan keganasan adalah penyebab potensial yang penting, terkait dengan perdarahan  uterus   abnormal.  Hiperplasia   endometrium   diklasifikasikan   secara sederhana   atau   kompleks, dengan   atau   tanpa   atipia   sitologi.   Tanpa menghiraukan   penggunaan   terminologi   untuk   mendeskripsikan   kedua   lesi, kuncinya adalah ada atau tidaknya atipia. Lesi tanpa atipia hanya menunjukkan bentuk endometrium proliferatif persisten berukuran besar yang mengalamiregresi   secara   spontan,   setelah   kuretase,   atau   dengan   terapi   progestin   dan berhubungan dengan sedikit risiko progresivitas adenokarsinoma.

Kebalikannya, penyakit  endometrial   yang   termasuk  atipia   sitologi   menunjukkan   sikap   yang berbeda seluruhnya; abnormalitas tidak sering mengalami regresi dengan spontan, namun dapat cukup resisten. Bahkan jika dilakukan kuretase berulang atau terapi progestasional dosis tinggi dalam waktu lama, memiliki risiko tinggi terhadap progresivitas adenokarsinoma jika   tidak   segera   diterapi,   dan   akan   berlanjut sebagai lesi prakanker. Lesi atipikal dibedakan dari karsinoma invasif dengan ketidak beradaannya invasi stroma. Diagnosa ini harus dipertimbangkan pada setiap wanita usia reproduksi, dan terutama di mana mungkin ada faktor-faktor predisposisi seperti  obesitas   atau riwayat   anovulasi kronis.

Koagulopati (gangguan sistemik dari hemostasis).  Istilah  koagulopati   digunakan untuk   mencakup   spektrum  gangguan hemostasis sistemik yang dapat menyebabkan perdarahan uterus abnormal. Bukti menunjukkan, sekitar 13% wanita dengan perdarahan menstruasi berat memiliki   gangguan   sistemik   biokimia   terdeteksi   hemostasis. Paling   sering penyakit Von  Willebrand,  di mana sekitar 90% dari pasien dengan kelainan ini dapat diidentifikasi dengan riwayat penyakit yang jelas.

Penyakit ini berhubungan dengan gangguan jumlah dan kualitas faktor   Von  Willebrand, sebuah protein yang dibutuhkan untuk adesi  platelet dan pembentukan trombus pada daerah pembuluh darah yang mengalami luka. Faktor Von Willebrand juga berperan sebagai pembawa faktor VIII pada sirkulasi darah, dimana dua molekul akan membentuk sebuah kompleks.  Namun, tidak jelas seberapa sering kelainan ini menyebabkan atau memberi kontribusi terhadap asal-usul perdarahan uterus abnormal, dan seberapa sering penyakit ini menimbulkan kelainan biokimia tanpa gejala atau dengan gejala minimal.

Disfungsi ovulasi dapat berkontribusi  sebagai penyebab  perdarahan uterus abnormal, umumnya  gangguan ovulasi berupa kombinasi dari waktu  haid yang tak terduga, variasi jumlah dan lama  perdarahan, yang dalam beberapa kasus menimbulkan   perdarahan   haid   yang   berat.  Dulu   termasuk   dalam   kriteria perdarahan uterus disfungsiona. Gejala bervariasi mulai dari amenorea, perdarahan ringan   dan   jarang,   hingga   perdarahan   haid  yang banyak. Meskipun gangguan ovulasi paling  sulit diketahui  etiologinya secara  pasti, pada  banyak  kasus   setelah   diselusuri   merupakan   akibat  endokrinopati (misalnya sindroma ovarium polikistik, hipotiroidisme, hiperprolaktinemia, stresmental, obesitas, anoreksia, penurunan berat badan, atau olahraga ekstrim seperti yang terkait dengan pelatihan atletik). Dalam beberapa kasus, gangguan mungkin iatrogenik,  disebabkan  steroid   gonad   atau   obat   yang   mempengaruhi metabolisme dopamin seperti fenotiazin dan antidepresan trisiklik.

Endometrial. Bila perdarahan uterus abnormal   terjadi dalam konteks siklus haid yang teratur, maka dapat diperkirakan jika terjadi ovulasi normal, dan tidak ditemukan penyebab lain yang  jelas,  mekanisme ini  kemungkinan   disebabkan gangguan primer di endometrium. Jika gejalanya berupa perdarahan haid yang berat, mungkin  terjadi  gangguan utama yang mengatur mekanisme hemostasis  lokal endometrium itu sendiri, penurunan  produksi vasokonstriktor seperti endotelin-1 dan prostaglandin F2a, atau lisis bekuan  endometrium dipercepat karena produksi berlebihan dari aktivator plasminogen dan meningkatnya produksi lokal yang mempengaruhi vasodilatasi seperti prostaglandin E2 dan prostasiklin (I2).

Iatrogenik. Perdarahan uterus abnormal yang berhubungan dengan penggunaan obat-obatan   hormonal   (estrogen,   progestin)   atau   non   hormonal   (obat-obat antikoagulan) atau AKDR. Ada   beberapa   mekanisme,   dimana   intervensi   medis   atau  alat  mungkin menyebabkan  atau  memberi  kontribusi   untuk   perdarahan   uterus abnormaliatrogenik.  Perdarahan   endometrium  diluar   jadwal  yang   terjadi   selama penggunaan   terapi   steroid   gonad   disebut breakthrough bleeding, yang merupakan komponen utama dari klasifikasi ini.

Not yet classifield. Terdapat   sejumlah   entitas   yang  dapat   atau  tidak  mungkin  menyebabkan perdarahan uterus abnormal, pada wanita  yang  diidentifikasi kurang baik karena  tidak   cukup  uji,  dan/atau  pada  keadaan   yang  sangat   jarang  terjadi. Contoh   dalam   kategori   ini   mungkin   termasuk   malformasi   arteriovenosa   dan hipertrofi  miometrium.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.