Hubungan NAFLD dan Penyakit Kardiovaskular2 | ethicaldigest
Hubungan_NAFLD2

Hubungan NAFLD dan Penyakit Kardiovaskular2

Mekanisme Putative Menghubungkan NAFLD dengan Penyakit Kardiovaskular

Dari perspektif patofisiologis, ada dua pertanyaan kunci yang harus dijawab. Pertama, apakah NAFLD berhubungan dengan penyakit kardiovaskular sebagai konsekuensi dari faktor risiko yang sama. Atau, apakah NAFLD berkontribusi terhadap penyakit kardiovaskular terlepas dari faktor-faktor ini? Kedua, apakah risiko kardiovaskular juga meningkat pada pasien dengan steatosis sederhana. Atau, apakah nekroinflamasi dari nonalcoholic steatohepatitis suatu stimulus proaterogenik penting?

Hubungan yang erat antara nonalcoholic fatty liver disease, obesitas abdominal dan resistensi insulin, membuatnya sulit membedakan hubungan kausal yang menyebabkan tingginya risiko penyakit kardiovaskular pada pasien dengan nonalcoholic fatty liver disease. Mekanisme biologis yang potensial mempercepat aterogenesis pada NAFLD, kemungkinan berawal dari jaringan adiposa viseral yang membesar, dengan liver sebagai target dari abnormalitas sistemik dan sumber molekul proaterogenik yang memperbesar kerusakan arterial.

Obesitas viseral, inflamasi dan resistensi insulin

Jaringan adipose viseral yang mengalami peradangan dan membesar, melepaskan berbagai molekul yang berpotensi terlibat dalam berkembangnya resistensi insulin dan aterosklerosis. Molekul tersebut antara lain asam lemak bebas, interleukin-6, tumor necrosis factor alfa (TNF-alfa), monocyte chemotactic protein 1 (juga dikenal sebagai CC chemokine ligand 2), dan sitokin proinflamasi lainnya.

Sitokin-sitokin ini bisa berasal dari adipositas, makrofag yang menginfiltrasi atau keduanya. Inflamasi yang terjadi pada jaringan adipose adalah satu dari langkah paling awal, dalam rantai terjadinya resistensi insulin, terutama pada orang obesitas dan kelebihan berat badan. Aktifasi jalur proinflamasi dimediasi oleh reseptor sitokin dan pattern-recognition receptors, termasuk toll-like receptors dan reseptor untuk advanced glycation end products, yang merupakan penjaga gerbang innate immune system.

Jalur-jalur ini bersatu, menjadi dua jalur utama: jalur nuclear factor κB (NF-κB), yang teraktifasi oleh inhibitor NF-κB kinase beta, dan jalur c-Jun N-terminal kinase (JNK). Penelitian eksperimental pada tikus mengindikasikan, aktifasi JNK 1 pada jaringan adiposa dapat ditranslasikan menjadi resistensi insulin di liver.

Beberapa bukti menunjukkan bahwa pada orang yang ramping, resistensi insulin tidak dihubungkan dengan inflamasi jaringan adiposa di fase awal. Hal ini disebabkan terutama oleh akumulasi lipid selular pada otot skeletal, dan hambatan kaskade sinyal insulin. Resistensi insulin di otot skeletal, pada akhirnya berhubungan dengan hiperinsulinemia pada pembuluh darah periferal dan portal, yang memicu resistensi insulin hepatika dan steatosis hepatika, setidaknya sebagian dengan menginduksi lipogenesis hepatika yang dimediasi oleh sterol regulatory element–binding protein 1c, dan dengan menghambat oskidasi asam lemak.

Inflamasi, Koagulasi dan Metabolisme Lipid.

Steatosis hepatika terjadi tidak saja karena peningkatan ambilan hepatika asam lemak bebas, yang berasal dari hidrolsis trigliserida jaringan adiposa (meningkat karena resistensi insulin). Tapi juga dari chylomicrons dan lipogenesis hepatika.  Resistensi insulin adalah suatu faktor patogenik dalam perkembangan dan progresi NAFLD. Juga berperan penting dalam perkembangan sindroma metabolik dan penyakit kardiovaskular.

Dengan adanya peningkatan flux asam lemak bebas dan inflamasi grade rendah dalam jangka panjang, liver sekali lagi menjadi target dan kontributor perubahan inflamasi sistemik. Aktifasi jalur NF-κB di liver pasien dengan nonalcoholic steatohepatitis, menyebabkan peningkatan transkripsi beberapa gen proinflamasi yang memperkuat inflamsi grade rendah sistemik.

Steatosis hepatika dihubungkan dengan meningkatnya produksi interleukin-6 dan sitokin proinflamasi lainnya oleh hepatosit dan sel non parenkim lain. Termasuk Kupffer cells dan hepatic stellate cells. Meningkatnya ekspresi sitokin intrahepatika diakibat oleh aktifasi lokal jalur NF-κB, karena dimediasi oleh kerusakan hepatoselular dan factor, yang berasal dari lemak Dan kemungkinan berperan besar dalam progresi nonalcoholic fatty liver disease dan penyakit kardiovaskular.

Beberapa penelitian menunjukkan, sejumlah gen terlibat dalam metabolisme asam lemak, lipolisis, rekruitmen monosit dan makrofag, koagulasi dan over ekspresi inflamasi pada pasien dengan penyakit NAFLD. Lebih lanjut, dalam sejumlah penelitian kasus terkontrol, kadar beberapa penanda inflamasi dalam sirkulasi darah (seperti C-reactive protein, interleukin-6, monocyte chemotactic protein 1, dan TNF-α), faktor prokoagulan (seperti plasminogen activator inhibitor 1 [PAI-1], fibrinogen, dan faktor VII), dan penanda stress oksidatif (seperti oxidized low-density lipoprotein, thiobarbituric acid–reacting substances, dan nitrotyrosine), sangat tinggi pada pasien dengan steatohepatitis nonalkohol, intermediate pada pada pasien dengan steatosis sederhana dan sangat rendah pada pasien kontrol tanpa steatosis.

BACA HUBUNGAN NAFLD DAN PENYAKIT KARDIOVASKULAR1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.