Hubungan NAFLD dan Penyakit Kardiovaskular1 | ethicaldigest
Hubungan_NAFLD

Hubungan NAFLD dan Penyakit Kardiovaskular1

NAFLD saat ini telah menjadi epidemik dan penyebab penyakit hati kronis terbanyak di negara-negara Barat. Berdasar beberapa penelitian, sekitar 20-30% orang dewasa di sana mengidap penyakit ini, dan prevalensinya meningkat 70-90% pada orang obesitas atau orang dengan diabetes. Pasien-pasien dengan faktor risiko ini juga berisiko tinggi mengalami fibrosis dan sirosis.

Penyakit perlemakan hati punya peran penting dalam sindroma metabolic. Penyakit ini juga diduga berperan penting dalam berkembangnya penyakit kardiovaskular. Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular lebih mempengaruhi outcome pasien  NAFLD, daripada progresi penyakit liver yang dideritanya.

Aakah mungkin NAFLD merupakan “center stage” dari sindroma metabolik?. Menurut  Prof. Darrel Crawford dari Universitas Queensland, Australia, pada Konfrensi APASL di Jakarta, “NAFLD punya pengaruh pada penyakit kardiovaskular, diabetes dan hipertensi. Penderita NAFLD cenderung memiliki prevalensi hipertensi esensial yang tinggi.” Penderita NAFLD juga punya angka insiden diabetes yang tinggi, dan lebih banyak membutuhkan insulin.

“Pada penyakit kardiovaskular, banyak penderita NAFLD yang mengalami disfungsi endotel dan koroner, mengalami pembentukan plak pembuluh darah karotid, gangguan ventricular dan metabolisme,” kata Prof. Crawford. Dan, “Banyak penderita NAFLD yang mengalami gangguan kardiovaskular.”

Penanda Risiko Kardiovaskular Subklinis

Pasien NAFLD, dewasa atau anak-anak, banyak yang memenuhi kriteria diagnostik sindroma metabolik (seperti obesitas abdomen, hipertensi, dislipidemia atrogenik dan disglikemia). Karenanya memiliki faktor risiko untuk mengalami penyakit kardiovaskular. Beberapa penelitian memperlihatkan, dibanding orang yang tidak memiliki steatosis, pasien NAFLD memiliki gangguan vasodilatasi dan penebalan intima media aretri karotid—dua penanda aterosklerosis subklinis.

Beberapa penelitian tidak menemukan hubungan signifikan antara NAFLD dan penebalan intima media aretri karotid atau kalsium arteri koroner. Namun, suatu tinjauan sistematis dan metaanalisa terhadap 7 penelitian cross sectional (melibatkan 3497 pasien) oleh Sookoian S dan kawan-kawan memperlihatkan, NAFLD berhubungan kuat dengan penebalan intima media aretri karotid dan peningkatan pembentukan plak aterosklerosis karotid.

Manifestasi Penyakit Kardiovaskular

Karena kuatnya hubungan antara NAFLD dan penanda penyakit kardiovskular subklinis, tidak mengejutkan jika pasien dengan steatosis—yang terdiagnosa dengan ultrasonografi—memiliki  prevalensi penyakit kardiovaskular yang tinggi, dibanding kelompok kontrol tanpa steatosis. Dalam penelitian berskala lebih besar oleh Targher G dan kawan-kawan, melibatkan sekitar 3000 pasien dengan diabetes tipe 2, prevalensi penyakit koroner, serebrovaskular dan vaskular pertifer lebih tinggi pada pasien NAFLD, dibanding pasien tanpa penyakit ini. Terlepas dari faktor risiko tradisional, durasi diabetes, besaran kontrol glikemik, penggunaan obat penurun lipid, hipoglikemia, antihipertensi atau obat antiplatelet, dan komponen sindroma metabolik.

Temuan ini serupa dengan penelitian pada orang dewasa dengan diabetes tipe 1. Dalam suatu penelitian berbasis komunitas oleh Lin YC dan kawan-kawan melibatkan 2088 pekerja pria, penyakit NAFLD berhubungan kuat dengan tingginya prevalensi ischemic heart disease. Pada pasien yang berulang kali menjalani angiografi koroner, nonalcoholic fatty liver disease dihubungkan dengan penyakit arteri koroner yang lebih berat, terlepas dari faktor-faktor risiko yang sudah ada.

Lebih lanjut, nonalcoholic fatty liver disease saat dilakukan pemeriksaan dengan spektroskopi magnetic resonance, dihubungkan dengan menurunnya perfusi miokard pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang diketahui mengidap coronary artery disease, terlepas dari faktor risiko tradisional, masa lemak viseral dan sensitifitas insulin.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.