Faktor risiko Ulkus Stres | ethicaldigest

Faktor risiko Ulkus Stres

Frekuensi perdarahan mukosa terkait stress yang signifikan secara klinis pada pasien berpenaykit berat atau kritis, berhubungan dengan faktor-faktor tertentu. Suatu penelitian kohort multisenter prospektif, mengevaluasi faktor risiko potensial untuk ulserasi stress pada pasien yang masuk ICU. Dari 2252 pasien, 33 (1,5%) mengalami perdarahan penting secara klinis.

Dua faktor risiko independen kuat untuk terjadinya perdarahan telah teridentifikasi. Faktor risiko tersebut antara lain, gagal nafas (odds ratio [OR] 15,6) dan koagulopati. Dari 847 pasien yang memiliki satu atau dua faktor risiko, 31 (3,7%) mengalami perdarahan penting klinis. Dari 1405 pasien tanpa faktor risko, 2 (0,1%) pasien mengalami perdarahan penting klinis.

Dalam penelitian kohort multisenter lain, yang melibatkan pasien ICU medis dan operasi di enam fasilitas pelayanan kesehatan tersier Department of Veterans Affairs Medical Centers, pasien dievaluasi secara prospektif untuk melihat perkembangan perdarahan saluran cerna bagian atas akut, saat dirawat di ICU.

Sebanyak 66 (9%) pasien mengalami perdarahan saluran cerna bagian atas dan angka mortalitas 49%, dibandingkan dengan angka mortalitas 15% pada pasien yang tidak mengalami perdarahan (P<.001). Dengan analisa regresi logistik, faktor-faktor berikut menyebabkan meningkatnya risiko perdarahan: gagal hati akut, pemasangan selang nasogatrik dalam jangka panjang, alkoholisme, gagal ginjal dan peningkatan konsentrasi serum anti–Helicobacter pylori (H pylori) immunoglobulin A. Faktor-faktor risiko yang teridentifikasi dari dua penelitian ini terdaftar pada tabel 1.

 

Tabel 1. Faktor risiko perdarahan ulkus yang diinduksi stress

Faktor risiko                                                                       Odds Ratio

Gagal nafas                                                                         15,6

Gagal hati akut                                                                    6,67

Koagulopati                                                                         4,3

Hipotension                                                                         3,7

Gagal ginjal kronis                                                               3,03

Pemasangan selang NG berkepanjangan                               2,59

Riwayat penggunaan alkohol                                                2,23

Sepsis                                                                               2,0

Helicobacter pylori IgA >1                                                   1,92

 

Penelitian-penelitian ini menunjukkan, terapi profilaksis untuk terjadinya perdarahan dapat secara aman dilakukan pada pasien berpenyakit berat, yang tidak memiliki factor risiko mayor. Restriksi penggunaan intervensi medis profilaksis terhadap pasien yang memiliki factor risiko, tidak terbukti meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada pasien berpenyakit berat dan lebih cost-effective.

Diagnosis

Seperti disinggung diatas,  evaluasi tukak peptik didasarkan atas ada tidaknya perdarahan saluran cerna, pada penderita kritis yang dirawat di ruang intensif.  Sebab pemeriksaan samar darah (guaiac test) terhadap aspirat lambung, tidak dapat dipertanggung jawabkan secara klinis, karena tidak sensitif dan  juga  tidak  spesifik.   Dewasa  ini  yang  dianut  adalah  adanya  perdarahan  yang  nyata   (overt bleeding)  dan   clinically important  bleeding.

Ada pun  kriteria  dari  kedua  parameter  tersebut  adalah:

  1. Overt  bleeding  (OB) didefinisikan: adanya hematemesis, melena, hematokesia atau  aspirasi  darah  dari  selang  lambung.
  2. Clinically  important  bleeding  (CIB): adanya  perdarahan yang   disertai  penurunan  tekanan  darah  sampai  20mmHg  dalam 24  jam, dan  adanya  gejala  ortostatik   berupa   perubahan  detak  jantung 20 x  per menit , atau penderita  memerlukan transfusi   darah.

Pemeriksaan endoskopi merupakan gold standard, untuk menegakkan diagnosis tukak stres. Melalui endoskopi, Rausser dan kawan-kawan dalam penelitiannya  menemukan bahwa  70-100% penderita kritis di ICU mengalami erosi mukosa dalam 24 jam setelah cedera.  Sekali pun demikian, kebanyakan penderita tetap asimtomatis. Karena bersifat lebih invasif dan mahal,  dewasa ini endoskopi hanya dianjurkan pada penderita kritis yang mengalami CIB. Tujuannya  untuk identifikasi sumber perdarahan dan menyingkirkan penyebab yang lain, seperti ulkus peptikum dan varises.

ARTIKEL TERKAIT JALUR CYCLOOXYGENASE-2

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.