Diagnosis dan Tatalaksana Rhinosinusitis Kronis3 | ethicaldigest

Diagnosis dan Tatalaksana Rhinosinusitis Kronis3

Antibiotik

Antibiotik diberikan pada penderita rhinosinusitis akibat infeksi bakteri, dengan melihat pola kuman. Pada suatu penelitian terhadap 76 orang dewasa, yang mengalami kegagalan dengan terapi medis terhadap rhinosinusitis dan dijadwalkan untuk pembedahan, didapatkan kuman aerob pada 76,3% kasus dan kuman anaerob pada 7,6% kasus. Hasil serupa  didapatkan pada anak-anak.

Wald dan kawan-kawan tahun 1989 melakukan studi terhadap 40 anak-anak  dengan rhinosinusitis kronik non alergi. Hasilnya didapatkan aspirat sinus positif pada 58% sampel, dengan bakteri yang dominan Streptococcus Pneumonia, Haemophilus Influenzae, dan Moraxella Catarrhalis. Tidak terdapat kuman anaerob yang diisolasi pada anak-anak yang tidak memiliki alergi ini. Hasil serupa didapatkan pada studi mengenai rhinosinusitis kronik pada anak-anak dengan alergi pernafasan.

Menurut AAP (2001), Lippincott (2002), Slavin (2002), dan Lampl (2003), kuman yang sering menjadi penyebab rinoinuitis bakterial akut adalah Streptococcus Pneumonia (30-40%), Haemophilus Influenzae (20-30%), Moraxella Catarrhalis (12-20%) dan Streptococcus Pyogenes β Hemolyticus (3%).

Kuman tersebut adalah kuman yang umum ditemukan pada biakan kuman, disamping kuman-kuman yang jarang dijumpai seperti Staphylococcus aureus dan kuman-kuman anaerob. Kuman anaerob mulai berperan bila oksigenasi rongga sinus makin berkurang. Makin lama proses berlangsung, makin meningkat populasi kuman anaerob. Pada rhinosinusitis kronik, peran kuman anaerob lebih dominan.

Jenis antibiotika yang digunakan adalah antibiotika spektrum luas, antara lain:

  1. Amoksisilin + asam klavulanat
  2. Sefalosporin: cefuroxime, cefaclor, cefixime
  3. Florokuinolon : ciprofloksasin
  4. Makrolid : eritromisin, klaritromisin, azitromisin
  5. Klindamisin
  6. Metronidazole

Antiinflamatori dengan menggunakan kortikosteroid topikal atau sistemik.

Kortikosteroid sistemik banyak bermanfaat pada rhinosinusitis kronik dengan polip nasi dan rinosinusitis fungal alergi.

Terapi penunjang lainnya meliputi

  1. Dekongestan oral/topikal yaitu golongan agonis α-adrenergik
  2. Antihistamin
  3. Stabilizer sel mast, sodium kromoglikat, sodium nedokromil
  4. Mukolitik
  5. Antagonis leukotrien
  6. Imunoterapi
  7. Lainnya: humidifikasi, irigasi dengan salin, olahraga, avoidance terhadap iritan dan nutrisi yang cukup

Terapi Pembedahan

Terapi bedah yang dilakukan bervariasi, dimulai dengan tindakan sederhana dengan peralatan yang sederhana sampai operasi menggunakan peralatan canggih endoskopi. Rhinosinusitis kronik yang tidak sembuh setelah pengobatan medikamentosa adekuat dan optimal, serta adanya obstruksi KOM merupakan indikasi tindakan bedah. Beberapa macam tindakan bedah yang dapat dipilih untuk dilakukan, mulai dari pungsi dan irigasi sinus maksila, operasi Caldwell-Luc, etmoidektomi intra- dan ekstranasal, trepanasi sinus frontal dan bedah sinus endoskopik fungsional.

Bedah sinus endoskopik fungsional (BSEF) merupakan langkah maju dalam bedah sinus. Jenis operasi ini menjadi pilihan, karena merupakan tindakan bedah invasif minimal yang lebih efektif dan fungsional. Keuntungan BSEF adalah penggunaan endoskop dengan pencahayaan yang sangat terang  saat operasi. Dokter dapat melihat lebih jelas dan rinci adanya kelainan patologi di rongga-rongga sinus. Jaringan patologik dapat diangkat tanpa melukai jaringan normal dan ostium sinus yang tersumbat diperlebar. Dengan ini drenase dan ventilasi sinus akan lancar kembali secara alamiah, jaringan normal tetap berfungsi dan kelainan di sinus-sinus paranasal akan sembuh dengan sendirinya.

Bedah sinus yang konvensional tidak memperhatikan usaha pemilihan drenase dan ventilasi sinus melalui ostium alamiah, namun dengan berkembangnya pengetahuan patogenesis rinosinusitis, berkembang pula modifikasi bedah sinus konvensional. Modifikasi operasi Caldwell-Luc, sekarang hanya mengangkat jaringan patologik dan meninggalkan jaringan normal agar tetap berfungsi. Juga dibuat antrostomi meatus medius, sehingga drenase dapat pulih kembali melalui jalan alami.

BACA DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA RHINOSINUSITIS KRONIS2

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.