Diagnosis dan Tatalaksana Rhinosinusitis Kronis1 | ethicaldigest

Diagnosis dan Tatalaksana Rhinosinusitis Kronis1

Disebut kronis jika gejala lebih dari 12 minggu. Antibiotika merupakan lini pertama pengobatan. Jika tidak membaik, bisa dilakukan operasi.

Diagnosis rinosinusitis kronik tanpa polip nasi (pada dewasa) berdasarkan European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EP3OS) 2007, ditegakkan berdasarkan penilaian subyektif, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya. Penilaian subyektif berdasar pada keluhan dan durasi penyakit. “Disebut kronis jika berlangsung lebih dari 12 minggu, dan dibagi menjadi rhinosinusitis kronis dengan polip dan tanpa polip,” kata dr. Riece Hariyati, Sp.THT dari RS Dr. Kariadi, Semarang. Penderita disertai keluhan berupa:

  • Buntu hidung, kongesti atau sesak.
  • Sekret hidung / post nasal drip, umumnya mukopurulen.
  • Nyeri wajah / tekanan, nyeri kepala.
  • Penurunan / hilangnya penciuman.

Pemeriksaan fisik yang dilakukan mencakup rinoskopi anterior dan posterior. Yang menjadi pembeda antara kelompok rinosinusitis kronik tanpa dan dengan nasal polip, adalah ditemukannya jaringan polip / jaringan polipoid pada pemeriksaan rinoskopi anterior. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan antara lain endoskopi nasal, sitologi dan bakteriologi nasal, pencitraan (foto polos sinus, transiluminasi, CT-scan dan MRI), pemeriksaan fungsi mukosiliar, penilaian nasal airway, fungsi penciuman dan pemeriksaan laboratorium.

Anamnesis

Anamnesis yang cermat dan teliti sangat diperlukan, terutama dalam menilai gejala-gejala yang ada pada kriteria  di atas, mengingat patofisiologi rinosinusitis kronik yang kompleks. Adanya penyebab infeksi, bakteri mau pun virus, adanya latar belakang alergi atau kemungkinan kelainan anatomis rongga hidung, dapat dipertimbangkan dari riwayat penyakit yang lengkap.

Informasi lain yang perlu, berkaitan dengan keluhan yang dialami penderita mencakup durasi keluhan, lokasi, faktor yang memperingan atau memperberat serta riwayat pengobatan yang sudah dilakukan. Beberapa keluhan /gejala yang dapat diperoleh melalui anamnesis, dapat dilihat pada tabel 1 bagian depan. Menurut EP3OS 2007, keluhan subyektif yang dapat menjadi dasar rinosinusitis kronik adalah:

  • Obstruksi  nasal

Keluhan buntu hidung pasien biasanya bervariasi dari obstruksi aliran udara mekanis, sampai sensasi terasa penuh daerah hidung dan sekitarnya.

  • Sekret / discharge nasal

Dapat berupa anterior atau posterior nasal drip.

  • Abnormalitas penciuman

Fluktuasi penciuman berhubungan dengan rinosinusitis kronik, yang mungkin disebabkan karena obstruksi mukosa fisura olfaktorius dengan / tanpa alterasi degeneratif pada mukosa olfaktorius.

  • Nyeri / tekanan fasial

Lebih nyata dan terlokalisir pada pasien dengan rhinosinusitis akut. Pada rhinosinusitis kronik, keluhan lebih difus dan fluktuatif.

Selain untuk mendapatkan riwayat penyakit, anamnesis dapat digunakan untuk menentukan berat ringannya keluhan yang dialami penderita. Ini berguna bagi penilaian kualitas hidup penderita.

Ada beberapa metode/test yang dapat digunakan untuk menilai tingkat keparahan penyakit yang dialami penderita, tapi lebih sering digunakan bagi kepentingan penelitian; antara lain dengan SNOT-20 (sinonasal outcome test), CSS (chronic sinusitis survey) dan RSOM-31 (rhinosinusitis outcome measure).

Pemeriksaan Fisik

Rhinoskopi anterior dilakukan dengan cahaya lampu kepala yang adekuat dan kondisi rongga hidung yang lapang (sudah diberi topikal dekongestan sebelumnya). Rhinoskopi anterior dapat mendiagnosis kelainan rongga hidung yang berkaitan dengan rinosinusitis kronik, seperti udem konka, hiperemi, sekret (nasal drip), krusta, deviasi septum, tumor atau polip. Rhinoskopi posterior bisa dilakukan, jika diperlukan untuk melihat patologi di belakang rongga hidung.

BACA DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA RHINOSINUSITIS AKUT

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.