Diagnosis dan Tatalaksana Rhinosinusitis Akut | ethicaldigest

Diagnosis dan Tatalaksana Rhinosinusitis Akut

Rhinosinusitis terbagi menjadi 3; akut, sub akut dan kronis. “disebut akut jika gejala berlangsung kurang dari 12 minggu,” kata dr. Riece Hariyati, Sp.THT, dari Sub Bagian Rhinologi, Departemen THT FK Universitas Diponegoro & RS Dr. Kariadi, Semarang. Gejala rhinosinusitis akut karena virus berlangsung kurang dari 10 hari. Namun, pada yang non virus, gejala meningkat setelah 5 hari atau gejala menetap setelah 10 hari dengan durasi kurang dari 12 minggu.

Sebagian besar infeksi saluran nafas bagian atas disebabkan virus yang berdurasi pendek, kurang dari 10 hari. Biasanya mengenai mukosa sinus dan nasal. “Sebagian besar akan membaik tanpa antibiotik,” katanya. Pengobatan biasanya menggunakan dekongestan, nasal lavage, beristirahat dan banyak minum. Sekitar 0,5-2% infeksi virus akan diikuti infeksi bakteri sekunder pada sinus. Rhinosinusitis akut akibat bakteri sering muncul, ketika gejala tidak membaik setelah 10 hari atau memburuk setelah 5-7 hari.

Diagnosis

Riwayat rinore purulen yang berlangsung lebih dari 7 hari, merupakan keluhan yang paling sering dan paling menonjol pada rhinosinusitis akut. Keluhan ini dapat disertai keluhan lain seperti sumbatan hidung, nyeri/rasa tekanan pada muka, nyeri kepala, demam, ingus belakang hidung, batuk, anosmia/hiposmia, nyeri periorbital, nyeri gigi, nyeri telinga dan serangan mengi (wheezing) yang meningkat pada penderita asma.

Rinoskopi Anterior

Rinoskopi anterior merupakan pemeriksaan rutin untuk melihat tanda patognomonis, yaitu sekret purulen di meatus medius atau superior; atau pada rinoskopi posterior tampak adanya sekret purulen di nasofaring (post nasal drip).

Nasoendoskopi

Pemeriksaan nasoendoskopi dapat dilakukan untuk menilai kondisi kavum nasi hingga ke nasofaring. Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan dengan jelas keadaan dinding lateral hidung.

Foto polos sinus paranasal

Pemeriksaan foto polos sinus bukan prosedur rutin, hanya dianjurkan pada kasus tertentu, misalnya:

  1. Rinosinusitis akut dengan tanda dan gejala berat.
  2. Tidak ada perbaikan setelah terapi medikamentosa optimal
  3. Diduga ada cairan dalam sinus maksila yang memerlukan tindakan irigasi
  4. Evaluasi terapi
  5. Alasan medikolegal
  6. Tomografi Komputer dan MRI

Pemeriksaan tomografi komputer tidak dianjurkan pada rinosinusitis akut, kecuali ada kecurigaan komplikasi orbita atau intrakranial. Pemeriksaan MRI hanya dilakukan pada kecurigaan komplikasi intrakranial.

Rekomendasi untuk melakukan CT Scan

CT Scan dianjurkan pada pasien dengan komplikasi, seperti gejala neurologis, diplopia atau pembengkakan fasial dengan atau tanpa eritema. Dianjurkan juga pada pasien dengan gejala sinus, yang disertai nyeri tengah kepala berat. Ini untuk melihat kemungkinan adanya sinusitis sphenoid.

CT Scan sinus paranasal dilakukan pada pasien; tindakan bedah dipertimbangkan sebagai strategi pengobatan. Dianjurkan juga pada pasien yang tidak merespon terhadap regimen pengobatan, termasuk penggunaan antibiotik yang tidak adekuat. Juga dilakukan untuk membantu diagnosis kelainan anatomis, yang mengganggu aliran udara atau drainase.

Pengobatan

Pada pasien dengan rhinosinusitis akut, tidak diindikasikan untuk diberi antibiotik. Itu karena sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus. Sementara, manfaat pemberian antibiotik hanya bersifat moderat. Di samping itu perlu dipertimbangkan faktor biaya, efek samping, resistensi antibiotik dan reaksi antibiotik.

Jika memang ditemukan infeksi bakteri, yang dianjurkan adalah amoxicilline 500mg tiga kali sehari selama 10-14 hari. Antibiotik ini merupakan lini pertama di banyak daerah di Indonesia. Jika ditemukan resistensi beta laktam, maka pilihannya adalah amoxicilline /klavulanat atau  cefuroxime, cefpodoxime dan cefprozin.

Irigasi nasal

Irigasi nasal merupakan tindakan membilas hidung dengan air larutan garam, sehingga membersihkan seluruh rongga hidung dan memperbaiki kerja mucocilliary clearance. Dari berbagai penelitian terungkap bahwa irigasi nasal akan menurunkan gejala sinusitis, dan memperbaiki kualitas hidup penderita. Selain itu, seperti dikatakan dr. Endang Mangunkusumo, Sp.THT dari FK Universitas Indonesia, “Penggunaan irigasi nasal dapat mengurangi kebutuhan penggunaan obat-obatan pada penderita sinusitis.”

Mekanisme kerja irigasi nasal adalah membersihkan secara langsung saluran nasal. Larutan garam yang digunakan akan membersihkan mukus yang mengental dan membersihkan krusta. “Tindakan ini juga membersihkan mediator-mediator inflamasi, seperti histamine, prostaglandin, dan sebagainya,” kata dr. Endang. “Selain itu, membersihkan virus, bakteri dan debu.” 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.