Deteksi Dini SKA1 | ethicaldigest

Deteksi Dini SKA1

Sindrom koroner akut (SKA) merupakan masalah kesehatan di masyarakat. Di negara maju dan negara berkembang, sindroma ini menyumbang angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Di Amerika Serikat, 1,36 juta penyebab rawat inap adalah kasus SKA, 0,81 juta di antaranya adalah kasus infark miokardium, sisanya angina tidak stabil.

Sindrom koroner akut (SKA), menurut dr. Yan Herry Sp.JP, dari RS. Dr. Kariadi, Semarang, adalah suatu spektrum presentasi klinis yang berkisar dari infark miokard dengan ST elevasi sampai dengan infark mokard tanpa ST elevasi atau Angina Pektoris tidak stabil. “Bicara mengenai patologi, SKA hampir selalu berhubungan dengan ruptur plak aterosklerosis dan trombosis parsial atau total dari arteri,” ucapnya.

Sebelum era fibrinolitik, infark miokardium dibagi menjadi Q-wave dan non Q-wave. Pembagian ini berdasarkan evolusi gambaran elektrokardiogram (EKG), yang terjadi pada beberapa hari setelah serangan. Infark miokardium tipe Q-wave menggambarkan adanya infark transmural. Sedangkan infark non Q-wave, menggambarkan infark yang terjadi hanya pada lapisan subendokardium.

Pada saat ini, istilah yang dipakai adalah STEMI (ST elevation myocardial infarction), NSTEMI (non ST elevation myocardial infarction), dan angina pektoris tidak stabil. Ketiganya merupakan suatu spektrum klinis, yang disebut sindrom koroner akut. Ketiganya mempunyai dasar patofisiologi yang sama, hanya berbeda derajat keparahannya. Adanya elevasi segmen ST pada EKG, menggambarkan adanya oklusi total arteri koroner yang menyebabkan nekrosis pada seluruh atau hampir seluruh lapisan dinding jantung.

Sindrom ini, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdiri atas gejala dan kelainan pemeriksaan penunjang, berupa: nyeri dada, kelainan EKG, dan kelainan enzim Creatinine Kinase, CKMB (CK-muscle-Brain), serta peningkatan kadar Troponin. Pada NSTEMI dan angina pektoris tidak stabil, terjadi oklusi parsial arteri koroner. Keduanya mempunyai gejala klinis dan patofisiologi serupa, tetapi berbeda derajat keparahannya.

Diagnosis NSTEMI ditegakkan jika iskemi cukup parah, sehingga menyebabkan nekrosis sel-sel miokardium. Ini menyebabkan pelepasan biomarker dari sel-sel miokardium (Troponin T atau I, atau CKMB) menuju ke sirkulasi. Sebaliknya, pada pasien dengan angina pektoris tidak stabil tidak didapatkan peningkatan biomarker tersebut di sirkulasi.

Patofisiologis Sindrom Koroner Akut

Iskemia pada otot jantung, terjadi bila kebutuhan oksigen lebih besar daripada suplai oksigen ke otot jantung. Oklusi akut karena adanya trombus pada arteri koroner, menyebabkan berkurangnya suplai oksigen ke otot jantung. Contoh lain, pada pasien dengan plak intrakoroner yang bersifat stabil. Peningkatan frekuensi denyut jantung, dapat menyebabkan terjadinya iskemi karena meningkatkan kebutuhan oksigen miokardium, tanpa diimbangi kemampuan untuk meningkatkan suplai oksigen ke miokardium.

Jika terjadi penyempitan arteri koroner, iskemia akan terjadi. Daerah subendokardial merupakan daerah pertama yang terkena, karena berada paling jauh dari aliran darah. Jika iskemia makin parah, akan terjadi kerusakan sel miokardium. Infark miokardium adalah nekrosis atau kematian sel miokardium. Infark miokardium dapat terjadi nontransmural (terjadi pada sebagian lapisan) atau transmural (terjadi pada semua lapisan).

Faktor resiko

Faktor-faktor resiko penyakit jantung koroner dibagi dua, yaitu faktor resiko yang dapat dimodifikasi dan factor resiko yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor resiko yang dapat dimodifikasi antara lain:

  • Hipertensi
  • Diabetes
  • Hiperkolesterolemia
  • Merokok
  • Kurang latihan
  • Diit dengan kadar lemak tinggi
  • Obesitas
  • Stress

Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain:

  • Riwayat PJK dalam keluarga
  • Usia di atas 45 tahun
  • Jenis kelamin laki-laki > perempuan
  • Etnis tertentu lebih besar resiko terkena PJK

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.