Dari OAINS hingga Fentanyl Patch Transdermal | ethicaldigest

Dari OAINS hingga Fentanyl Patch Transdermal

Obat nyeri yang tepat penting untuk memperbaiki kualitas hidup pasien kanker. Pada yang ringan, nyeri bisa diatasi dengan pemberian OAINS. Sedangkan pada yang berat, butuh pemberian opioid hingga morfin.

Anti-Inflamasi Non Steroid (AINS)

Mekanisme AINS, sebagai salah satu obat anti nyeri pada kanker, berbeda dengan golongan opiate. AINS mengurangi pembentukan prostaglandin dan mengaktifasi system susunan syaraf pusat, namun tidak mengaktifasi reseptor opiate. Oleh sebab itu, AINS tidak menimbulkan toleransi yang selanjutnya mengakibatkan ketergantungan. Namun, AINS memiliki kelemahan sebagai analgetika tunggal, karena memiliki efek mengatap (celling effect).

Pada intensitas nyeri kanker yang semakin meningkat pada pasien, peningkatan dosis AINS tidak diikuti peningkatan khasiat analgetikanya. Oleh sebab itu, penggunaannya direkomendasikan digabung dengan golongan opiate. Gabungan analgetik non opiate AINS dan analgetik opiate (codein, morfin dan lainnya), akan meningkatkan keberhasilan penanggulangan nyeri kanker.

Perlu kehati-hatian dalam pemilihan AINS untuk pasien kanker. Pilih yang memenuhi syarat berikut:

  1. Patokan yang mampu menghambat aktivitas COX-1 dan COX-2.
  2. Memiliki sifat keasaman OAINS.
  3. Tidak memperberat hypercoagulation, yang ada pada penderita kanker.
  4. Disesuiakan dengan pola keluhan gejala pada penderita kanker.
  5. Mampu meningkatkan khasiat anti nyeri opiate.

Bisa dikatakan, AINS merupakan sediaan terpilih dalam penaggulangan nyeri kanker, karena di tempat tumbuhnya tumor berlangsung proses inflamasi, ditandai dengan meningkatnya COX-2. Diketahui, AINS mampu menghambat aktivitas enzyme sikloksigenase, baik itu isoenzime COX-1 atau COX-2, dalam pembentukan prostaglandin sehingga kepekaan nosiseptor menjadi berkurang. Namun, jika intensitas nyeri kanker mengalami peningkatan (derajat sedang-berat), peningkatan dosis tidak diikuti dengan peningkatan khasiat analgetikanya. Di sisi lain, peningkatan dosis dan frekwensi pemberian AINS secara linear akan meningkatkan terjadinya efek samping pada pasien.

Beberapa pertimbangan farmakologi yang harus diperhitungkan dalam pemilihan AINS sebagai anti nyeri pada penderita kanker, di antaranya: pastikan AINS memiliki sifat analgetik yang baik, yang lebih bersifat menghambat aktivitas COX-2 dibanding aktivitas COX-1. Pada AINS yang bersifat asam akan memiliki nilai tambah, dalam hal penetrasi ke jaringan yang mengalami inflamasi. Selagi hypercoagulation selalu terjadi pada penderita kanker, AINS yang digunakan masih bersifat tidak memperberat hypercoagulation yang ada. Misalnya peningkatan thrombosis bila menggunakan AINS, yang sangat selektif menghambat COX-2. AINS yang terbukti memiliki sifat antipiretik akan memberi nilai tambah, mengingat demam merupakan salah satu keluhan penyerta yang umum terjadi pada penderita kanker.

Fentanyl Patch Transdermal

Untuk pemilihan opioid, terdapat beberapa jenis yang bisa digunakan. Di antaranya opioids intra vena (Morphine, dan Fentanyl Patch Transdermal), immediate release oral opioids (Morphine) dan sustained release opioids, dalam bentuk oral seperti morphine, oxycodone, hydromorphone atau yang transdermal seperti Fentanyl dan Buprenorphine. “Beberapa jenis sediaan masih belum tersedia di Indonesia. Kalau pun ada, masih jarang ditemukan,” ujar dr. Kartika.

Pengobatan bisa diberikan secara intravena, diberikan secara bolus, menggunakan dosis awal 5 mg, 15 menit. Bila pasien mendapat nilai 4-6, perlu diberi dosis yang sama kembali (diulang). Metode ini bisa dilakukan 2-3 kali, untuk kemudian menentukan skor nyeri, apakah sudah dalam kondisi normal atau masih dengan skor nyeri yang tinggi.

Masalah yang terjadi atau dijumpai di klinik pada kasus pasien dengan nyeri kanker, adalah keluarga atau pasien sendiri tidak mau menggunakan opioid, dalam hal ini morphine, karena takut efek “adiksi” yang dapat ditimbulkan. Dalam kondisi semacam ini, menurut dr. Kartika, sebagai dokter kita bisa menjelaskan kepada keluarga atau pasien bahwa penggunaan opioid tertentu, memang memiliki risiko psychomimetic. Terutama pada penggunaan opioid yang “short acting”, yang diberikan secara intra vena maupun per-oral,  karena kemampuannya yang melebihi kemampuan analgesik. “Dengan menggunakan opioids yang memiliki efek sustain release, risiko efek psychomimetic opioid bisa dihilangkan,” tegas dr. kartika.

Setelah dokter mengetahui dosis penggunaan morphine intravena, dalam 24 jam pertama dan setelah pasien stabil dalam 2-3 hari pertama, dokter harus melakukan konversi (dari intra vena ke oral atau transdermal). Jika sebelumnya pasien mendapat dosis 2x bolus 5 mg, diikuti 1 mg/24 jam, skala dosis morphine intra vena pada pasien adalah 34 mg. Dosis ini setara dengan penggunaan oral morphine drugs 102 mg. “Hal ini biasanya diberikan kepada pasien dengan kondisi yang stabil, tanpa ada gangguan menelan atau gangguan pencernaan,” ujar dr. Kartika.

Pasien yang memiliki gangguan pada gastrointestinal, umumnya tidak mungkin diberi morfin dalam bentuk oral. Lambung pasien belum siap menerima, terlebih bila pasien juga mengalami gangguan menelan. Maka, pilihan yang dapat digunakan adalah menggunakan Transdermal Fentanyl Patch. Dengan perbandingan antara oral dan Transdermal Fentanyl Patch, 1:1,25. Perlu diingat bahwa pemberikan dosis pertama sebesar 50% dari dosis yang akan dicapai. Kemudian, dititrasi hingga dosis tercapai.

Pertanyaan selanjutnya adalah, di mana kita bisa menempelkan Trasdermal Fentanyl Patch. Menurut dr. Kartika, terdapat perbedaan antara cara kerja transdermal (Fentanyl Patch) dengan topical (Lidocaine patch 5%). Pada topikal (Lidocaine Patch 5%), harus ditempelkan pada daerah yang sakit, sementara pada transdermal fentanyl, patch bisa ditempelkan di mana saja karena bekerja dengan aktivitas sistemik.

Efek samping yang ditimbulkan pada transdermal fentanyl Patch lebih minimal, dengan beberapa keunggulan lain. Antara lain aman, jika diberikan pada pasien dengan masalah GI, atau pada pasien yang tidak bisa menelan. Transdermal Fentanyl Patch juga dapat digunakan sebagai obat lini pertama, pada pasien dengan nyeri kronik sedang hingga berat.

BACA JUGA TATALAKSANA NYERI KANKER

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.