Anemia Defisiensi besi | ethicaldigest

Anemia Defisiensi besi

Defisiensi zat besi (Fe) secara global ditengarai sebagai penyebab utama anemia, namun etiologi anemia multifaktorial. Gejala defisiensi besi biasanya tidak spesifik. Sel darah merah cenderung menjadi mikrositik dan hipokromik, dan cadangan besi tipis, ditunjukkan dengan rendahnya feritin serum dan kadar besi serum rendah dengan kapasitas pengikat besi total serum yang tinggi.

Corazon Zaida N. Gamila, MD, FPOGS, ginekolog dari Filipina, menjelaskan Fe bertanggungjawab dalam perubahan hormon dan pembentukan genome, sejak di dalam kandungan. Besi memiliki banyak fungsi, seperti sebagai penghantar oksigen, tidak hanya untuk organ vital tapi juga otot-otot perifer. Besi juga bertanggung jawab dalam proses energy metabolism

“Dalam proses replikasi genetic, ada yang disebut transformasi enzim yakni bagian dari sistem DNA. Fe diketahui berperan dalam proses sintesa enzim. Besi menjadi media transportasi pada mayoritas enzim yang bertanggungjawab atas replikasi DNA,” terang dr. Gamila.

Besi berperan dalam imun sistem, yakni memroduksi respon imun yang baik dan pada pembentukan selaput myelin di otak yang vital dalam proses penghantaran neurotransmitter. Besi ditransfer oleh transferin (protein pengangkut besi) ke ‘kolam’ penyimpanan dalam bentuk feritin dan hemosiderin. Yang lebih penting adalah feritin yang terletak di hati dalam hepatosit, sumsum tulang dan limpa (dalam makrofag).

Karena penyerapan Fe terbatas, tubuh mendaur ulang dan menghemat besi. Transferrin menangkap dan mendaur ulang zat besi dari sel darah merah yang menua, melalui fagositosis oleh fagosit mononuklear. Mekanisme ini mensuplai sekitar 97% kebutuhan besi harian (sekitar 25 mg/hari).

Defisiensi besi antara lain akibat penyakit seperti celiac, atrophic gastritis dan aklorhidria yang menyebabkan ganggaun penyerapan besi. Atau akibat proses kehilangan darah. Pada pria atau wanita poscamenopause, penyebab tersering adalah perdarahan kronis, seperti akibat peptic ulser, keganasan atau hemoroid. Pada wanita premenopause kehilangan darah diakibatkan menstruasi; ±0,5 mg Fe/hari. Infeksi cacing tambang bisa menjadi penyebab di negara berkembang.

Peningkatan kebutuhan besi terjadi sejak usia 2 tahun sampai remaja, yakni di masa pertumbuhan cepat.  Di masa kehamilan, kebutuhan besi janin meningkatkan kebutuhan besi sang ibu, yakni ± 0,5-0,8 mm/hari. Proses menyusui kebutuhan besi sekitar 0,4 mg/hari.

Hasil studi Mahjan S, dkk., dalam British Journal of Nutrition 2008, ibu yang anemia berat saat hamil berat badan menurun signifikan, pra dan pascakehamilan. Ini berdampak pada berkurangnya tinggi fundal ibu dan lingkar perut. Ada penurunan indeks ponderal, berat lahir dan berat plasenta yang signifikan pada janin. Terjadi peningkatan insulin-like growth factor 1 dan level feritin yang signifikan, pada ibu dan janin. Penurunan T3 dan peningkatan kadar prolaktin juga terjadi.

“Saat hamil, yang dikonsumsi sang ibu akan diperoleh janin. Jika ibu mengalami defisiensi zat besi, janinnya juga. Hipotesa Barker: risiko defisiensi tetap berlangsung sampai anak dewasa,” imbuh dr. Gamila.  Masa kehamilan adalah kendaraan bagi janin selama 9 bulan. Jika ada masalah dalam periode tersebut, hasil akhirnya adalah kondisi kelahiran yang buruk. 

Sebagai mineral yang susah diserap, asupan besi dari makanan harian kerap tidak adekuat. Mereka yang kerap mengonsumsi makanan barat, cenderung mengalami defisiensi besi.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.