Bayi Tabung Bisa Salah | ethicaldigest

Bayi Tabung Bisa Salah

Mendambakan kehadiran si buah hati, namun tidak kunjung terwujud? Fertilisasi in vitro atau sering dikenal dengan teknologi bayi tabung, mungkin dapat menjadi jawaban. Teknologi ini pertama kali dilakukan oleh dr. Robert Edwards pada tahun 1978, dengan melahirkan bayi tabung pertama di dunia, Louise Brown. Saat ini, Alm. Robert Edwards telah menjadi “kakek” dari jutaan cucu di seluruh dunia.

Satu di antara mereka yang mencoba memanfaatkan teknologi ini, adalah pasangan Thomas dan Nancy Andrews. Mereka adalah pasangan suami isteri yang mendambakan anak kedua. Karena mengalami kesulitan, keduanya memutuskan untuk menjalani prosedur bayi tabung di New York Medical Services for Reproductive Medicine, AS. Semua berjalan lancar, sampai bayi yang diharapkan lahir. Betapa terkejut keduanya, saat mendapati bahwa anak tersebut memiliki warna kulit lebih gelap dibanding kedua orangtuanya. Bukan karena masalah genetik, melainkan akibat kekacauan dalam fertilisasi.

Selidik punya selidik, tes DNA menunjukkan bahwa klinik tempat dilakukannya bayi tabung, menggunakan sperma pria lain untuk menginseminasi sel telur sang ibu. Meski demikian, akhirnya cerita bak sinetron ini berakhir bahagia. Jessica, sang bayi perempuan yang lahir 19 Oktober 2004 tersebut, tetap dirawat oleh keluarga Andrews selayaknya anak sendiri.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.