Manfaat Hipoksia Intermiten pada Jaringan Otak

Manfaat Hipoksia Intermiten pada Jaringan Otak

Hipoksia adalah suatu kondisi, dimana tubuh atau sebagian area tubuh mengalami kekurangan suplai oksigen. Hipoksia tahap awal menimbulkan respon pada sistim kardiovaskular dan respirasi, yang jika berlangsung terus menerus akan menimbulkan respon lanjutan pada target organ kedua sistem tersebut, termasuk otak.

Hipoksia berkontribusi dalam patomekanisme serangan jantung, stroke, hipertensi pulmonal dan penyakit lain. Juga merupakan ancaman yang dapat terjadi pada individu dengan profesi tertentu misalnya penerbang, penyelam, pendaki gunung dan lain-lain.

Hipoksia tidak selalu menyebabkan kerusakan pada sel saraf jaringan otak. Hipoksia dengan kadar dan jangka waktu yang dapat ditoleransi memberi efek perlindungan (preconditioning), sehingga dapat meningkatkan resistensi sel terhadap paparan hipoksia berikutnya. Menurut Dr. dr. Fanny Septiani Farhan, M.Biomed, pada hypoxia predonditioning terjadi mekasnisme adaptif untuk mengatasi hiposia, pada tingkat sistemik maupun selular melalui pengindraan oksigen sebagai upaya mengalokasikan kebutuhan oksigen ke organ-organ vital. Disisi lain, diketahui gen hypoxia inducible factor 1 (HIF-1) merupakan gen kunci yang berperan penting dalam menjaga kelangsungan hidup, karena menyebabkan tertranskripsinya sejumlah protein yang diperlukan untuk adaptasi terhadap hipoksia.

Penelitian terkini mengenai hipoksia, mengarah pada intervensi paparan hypoxia preconditioning sebagai salah satu metode untuk mencegah timbulnya penyakit, maupun sebagai terapi paska serangan stroke dan infark miokard. “Hipoksia hiperbarik intermiten merupakan salah satu bagian dari hypoxia preconditioning, dengan memberi paparan hipoksia subletal pada tekanan barometrik rendah dan dilakukan berulang dalam jangka waktu tertentu. Berbagai literatur memaparkan bahwa perlakuan hipoksia hiperbarik intermiten (HHI), memberi efek neuroprotektif terhadap otak dan jantung,” ujarnya.

Atas dasar kondisi tersebut, Dr. Fanny melakukan pengamatan penelitian, untuk mengetahui apakah proses neuroplastisitas yang diharapkan terjadi, dapat menyebabkan perubahan fungsi neuron paska perlakukan HHI. Dalam penelitiannya, respon neuroplastisitas diamati menggunakan indikator fisiologis dan molekuler. Diamati pula fungsi motorik dan kognitif serta peningkatan post synaptic density (PSD 95).

Penelitiannya melibatkan 25 tikus sprague dawley, yang dibagi menjadi 4 kelompok yang diinduksi HHI selama 50 menit, dan kelompok lain sebagai kelompok kontrol. Induksi dilakukan dengan hypobaric chamber di Lakespra TNI AU, dengan interval induksi 1 minggu selama 4 kali (hari-1, 8, 15, dan 22). Setelah induksi, kelompok tikus ini diuji parameter fisiologisnya menggunakan balok berjalan untuk mengukur fungsi motorik dan Y maze, untuk mengukur fungsi kognitif. Jaringan otak tikus hewan coba juga diambil, untuk dilakukan pemeriksaan resptor neurotransmiter glutamat dan GABA serta protein PSD 95.

Hasilnya, pada kelompok perlakukan dengan 1,2,3,4 kali paparan hipoksia hiperbarik, tidak menunju,kan perbedaan yang signifikan dalam fungsi motorik, fungsi kognitif dan PSD 95 dibanding dengan kelompok kontrol (p>0,05). Ekspresi reseptor gamma amino butiric acid (GABA) dan glutamat menurun secara signifikan, pada kelompok hipoksia hiperbarik. Namun meningkat secara signifikan pada kelompok HHI pertama dan kedua, hingga akhirnya menurun mendekati rerata kelompok kontrol pada kelompok HHI ketiga.

Sebagai kesimpulan penelitian, dibandingkan dengan hipoksia hiperbarik tunggal, HHI meningkatkan respons neuroplastisitas pada jaringan otak tikus sprague-dawley. Hal ini terlihat dengan adanya keseimbangan, antara eksitasi dan inhibisi pada sel saraf serta peningkatan kemampuan fisiologis tikus berdasarkan parameter parameter PSD 95, reseptor NMDA, reseptor GABA dan tes fungsi motorik dan kognitif tikus.

Lewat penelitiannya, dr. Fanny mendapat gelar Doktor Program Studi Ilmu Biomedik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pada 20 Juli 2016, dengan Yudisium A dan Indek Prestasi Kumulatif (IPK) 3,85. (ant)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.