Terapi Hormone | ethicaldigest

Terapi Hormone

Hormone merupakan bahan kimia yang dihasilkan oleh tubuh, atau bagian tubuh yang dapat mengakibatkan perubahan di bagian tubuh lain. Sebagai contoh ovarium, yang memroduksi hormone seks wanita yang disebut esterogen. Atau pancreas yang memroduksi hormone insulin, yang mempengaruhi penyerapan glukosa dalam darah.

Pembentukan hormone atau sistim hormonal, saat ini diketahui memiliki keterlibatan dalam patofisiologi beberapa jenis kanker; esterogen, misalnya, mendorong munculnya kanker payudara. Dengan penemuan tersebut, para ahli merekayasa sitem hormon, bahkan menciptakan hormone sintetis untuk dapat menghentikan beberapa jenis kanker. Juga untuk mengatasi masalah kesehatan terkait sistim hormonal seseorang.

Sejarah

Pada tahun 1896, seorang pria bernama George Beatson, seorang ahli bedah, mengatakan bahwa dalam penelitiannya 3 pasiennya yang mengalami kanker payudara, menunjukan adanya perbaikan setelah melakukan procedure pengangkatan ovarium, atau yang dikenal dengan istilah ooforektomi. Ini sekaligus merupakan petunjuk bahwa sistim hormonal, terlibat dalam pertumbuhan kanker. Hasil penelitian Beatson ini sekaligus menjadi awal para ahli serta ilmuan di dunia, mencari cara menghambat aktivitas esterogen yang mampu memicu pertumbuhan tumor.

Pada tahun 1937, Dodds & Robinson menemukan zat kimia yang disebut  diethylstilboestrol, yang menunjukan aktivitas anti tumor. Sayangnya pemberian dalam dosis tinggi zat tersebut memberikan efek samping yang parah. Barulah beberapa tahun kemudian, setelah meminimalisir efek samping yang ada, obat ini dijadikan sebagai pilihan terapi kanker pada masanya.

Pada tahun 1969, esterogen sintetik, tamoxifen, pertama kali digunakan untuk mengobati kanker payudara di RS Christine, Mancester, AS. Saat ini, tamoxifen banyak digunakan dalam pengobatan kanker payudara.

Pada tahun 2002, sebuah studi mengenai kanker di Inggris bertajuk IBIS I, menunjukan bahwa tamoxifen dapat digunakan untuk mencegah kanker payudara, pada wanita menopause dengan risiko tinggi. Dalam penelitian tersebut juga dikatakan bahwa penggunaan tamoxifen, bukan tanpa efek samping. Oleh sebab itu dalam IBIS II didapatkan obat baru, Arimidex. Dalam penelitian, obat ini tampaknya  memiliki efektifitas sebaik tamoxifen, dan memiliki keuntungan lebih karena efek sampingnya relative sedikit.

Terapi berbasis hormone lain, yang saat ini digunakan dalam dunia medis, juga semakin bervariasi. Sepert, kortison yang digunakan untuk pengobatan kasus leukemia dan juga limfoma.

Terapi Hormon

Terapi hormon disebut juga terapi hormonal, terapi hormon atau terapi endokrin. Tujuan terapi ini adalah untuk memperlambat, atau menghentikan pertumbuhan tumor hormon-sensitif dengan menghalangi kemampuan tubuh, untuk memproduksi hormon atau dengan mengganggu aksi hormon.

Maka, sebelum dokter memberikan terapi hormone, perlu mempertimbangkan lebih dulu, apakah ada indikasi untuk pemberian terapi atau tidak. Dokter juga akan  mempertimbangkan, apa  untung rugi dari terapi yang akan diberikan kepada pasien. “Riwayat perjalanan penyakit seseorang, menjadi bagian penting yang harus diketahui dokter sebelum memberikan terapi hormone,” jelas dr. Andon Hestiantoro, SpOG(K).

Setidaknya terdapat beberapa macam terapi hormone, yang dapat diberikan kepada pasien:

  • Terapi substitusi

Ini penggantian hormon yang tidak dibentuk oleh penderita dengan hormone dari luar. Pemberian hormon terapi ini, bukan untuk menyembuhkan tetapi untuk mengurangi keluhan yang ada. Pemberian cara ini lama dan dapat berlangsung seumur hidup. Contoh: terapi estrogen atau estrogen-progesteron untuk wanita menopause.

  • Terapi stimulasi

Adalah memacu alat tubuh untuk meningkatkan produksi hormonnya. Cara ini tidak hanya dipakai untuk keperluan pengobatan, tetapi juga untuk diagnosis (test fungsional). Contoh: penggunaan hormone gonadotropin untuk keperluan diagnosis dan terapi untuk merangsang ovarium, sehingga alat tersebut membentuk estrogen dan progesteron.

  • Terapi inhibisi

Adalah pemberian hormon pada hiperfungsi suatu kelenjar endokrin atau menekan fungsi yang tidak diinginkan. Contoh: inhibisi ovulasi dengan memberikan kombinasi estrogen-progesteron pada kontrasepsi pil.

Cara pemberian

  • Per Oral
  • Parenteral
  • Topikal berupa krim atau pesarium
  • Transdermal berupa plester
  • Penanaman pellet estrogen (implant)

Syarat-syarat sediaan hormone yang dipakai:

  1. Tidak merugikan atau menyebabkan kelainan pada janin jika wanita hamil
  2. Tidak menyebabkan efek samping atau reaksi alergik
  3. Daya kerja dapat ditentukan
  4. Kemurnian kimianya dapat dijamin
  5. Dosis harus berdasarkan berat badan atau kesatuan standar biologic
  6. Tidak mudah rusak
  7. Cara pemberian yang mudah

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.