Sofosbuvir Murah untuk Indonesia | ethicaldigest

Sofosbuvir Murah untuk Indonesia

Hepatitis C merupakan penyakit hepatitis yang sangat serius bagi kesehatan di t Indonesia. Menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada sekitar 130-150 juta orang di dunia yang terinfeksi hepatitis C. Virus ini berkontribusi terhadap 350.000 kematian setiap tahunnya, sebagian besar akibat sirosis hepatis dan karsinoma hepatoselular. Di Indonesia, diperkirakan ada 2 juta penderita hepatitis C.

Menurut dr. Rino A. Gani, Sp.PD-KGEH, Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), pengobatan hepatitis C memiliki masa depan yang cerah. “Dengan pengobatan yang ada saat ini (kombinasi Peg. Interferon dan Ribavirin) sekitar 75-80% penderita bisa sembuh,” ujarnya.

Pada tahun 2013, Badan Obat dan Makanan Amerika (FDA) telah menyetujui obat baru hepatitis C, Sofosbuvir, dengan nama merek dagang Sovaldi dari Gilead Sciences. Sofosbuvir secara efektif dapat menyembuhkan hepatitis C dengan tingkat keberhasilan lebih dari 90 persen, dengan kombinasi bersama terapi lain.

Sofosbuvir adalah Direct Acting Antivirals (DAA) untuk hepatitis C, sebagai obat oral yang dapat diminum dengan atau tanpa makan terlebih dahulu. Sofosbuvir digunakan dengan kombinasi ribavirin atau bersama ribavirin dan pegylated interferon.

Hepatitis C genotip 1 atau 4, pengobatannya menggunakan Sovaldi+pegilated interferon alfa+ribavirin selama 12 minggu. Hepatitis C genotip 2, pengobatannya menggunakan Sovaldi+ribavirin selama 12 minggu. Sedangkan hepatitis C genotip 3,  menggunakan Sovaldi+Ribavirin selama 24 minggu.

Saat ini, Sofosbuvir telah didaftarkan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia. Pendaftaran diperlukan guna mendapatkan ijin edar, sehingga obat  bisa diedarkan di pasar Indonesia. Biasanya, mekanisme pendaftaran dan Badan POM  memerlukan waktu lebih dari 2 tahun.

Namun, BPOM memiliki mekanisme fast track yang bisa mempercepat waktu pendaftaran sampai dengan 6 bulan, jika obat ini diperlukan oleh rakyat Indonesia dan sifatnya menyelamatkan nyawa. Rencanaya, ijin akan keluar tahun 2016.

Harga Sofosbuvir telah mengundang perdebatan. Sebagai obat yang mungkin dapat menyelamatkan jutaan penderita hepatitis C di Indonesia, dijual oleh Gilead dengan harga yang  mencapai Rp.1 miliar, untuk pengobatan selama 3 bulan.

Pemerintah Mesir berhasil melakukan negosiasi dengan Gilead dan harga Sofosbuvir dapat didiskon hingga 99%, menjadi hanya 900 dolar Amerika untuk 12 minggu pengobatan. DR. Andrew Hill seorang farmasi dari Liverpool University dalam hasil penelitiannya menyatakan, biaya produksi Sofosbuvir adalah 68 – 136 dolar Amerika untuk 12 minggu pengobatan.

Harga obat Sofosbuvir versi generik dijual oleh produsennya Rp. 2,6 – 3,6 juta per botol untuk konsumsi 1 bulan, sudah bersama Ribavirin. Untuk penyembuhan hepatitis C diperlukan waktu antara 3 - 6 bulan, tergantung tipe virus Hepatitis C yang diidap. Dengan estimasi waktu terpanjang untuk melakukan terapi selama 6 bulan, maka harga obat Sofosbuvir ini semahal-mahalnya Rp. 24 juta rupiah.

Harga obat ini jauh lebih murah dari obat kombinasi Peggylated Interferon + Ribavirin yang mencapai Rp.80 juta, dan saat ini sudah ditanggung oleh JKN. Karenanya, peluang untuk mendesak kombinasi obat Sofosbuvir dan Ribavirin untuk ditanggung JKN sangat besar. Itu karena harga obat ini jauh lebih murah, lebih efektif dan lebih minim efek samping.

PPHI telah menyurati pabrik Sofosbuvir, agar Indonesia diberikan konsesi yang sama seperti Mesir. Gilead memberi konsesi ke Mesi,r agar Sofosbufir bisa dijual dengan harga hanya 900 dolar Amerika untuk terapi 3 bulan. “PPHI telah menyurati Gilead, agar Indoesia bisa diberikan konsesi seperti itu,” kata dr. Rino.

Setelah beberapa bulan, keluar pernyataan dari Gilead bahwa ada 91 negara, termasuk Indonesia, yang mendapat konsesi. “Obat itu tidak dibuat oleh Gilead, tapi oleh perusahaan farmasi di India yang mendapat lisensi dari Gilead,” kata dr. Rino. 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.