Perlindungan di Musim Hujan1 | ethicaldigest
Perlindungan_di_Musim_Hujan

Perlindungan di Musim Hujan1

Hujan yang terus mengguyur bumi Indonesia, diperkirakan akan mencapai puncaknya pada bulan Februari 2014. Hujan berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, diperparah lagi dengan sistem drainase yang kurang memadai serta fasilitas sanitasi yang banyak kekurangan di sana sini. Direktorat Permukiman dan Perumahan Bappenas menyebutkan, capaian akses sanitasi khususnya air limbah, baru mencapai 57,35% pada akhir 2012. Sampah yang terangkut ke lokasi pembuangan akhir, perhari hanya 28,7%, dan saluran (pembuangan limbah air) pemukiman yang berfungsi baik dan lancar hanya 52,83%.

Sementara itu, data dari Status Lingkungan Hidup Indonesia (2002) menunjukkan, tidak kurang dari 400.000 m3/hari limbah rumah tangga dibuang langsung ke sungai dan tanah tanpa diolah lebih dulu. Begitu hujan berkepanjangan, penyakit infeksi akan mudah merebak. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO, penyakit terkait air, sanitasi dan masalah kebersihan (hygene) menyumbang 2,8% dari total kematian di Indonesia (data tahun 2004).

Yang perlu diwaspadai yakni infeksi saluran cerna, khususnya diare. Di Indonesia, penyakit ini merupakan salah satu pembunuh utama balita. Berdasarkan survey, penyebab utama diare secara umum yakni rotavirus (+60%), dan berikutnya bakteri patogen. Pada balita, sekitar 84% penyebabnya rotavirus; penyebab lain adalah bakteri patogen, utamanya Shigella, Salmonella, Aeromonas, Campylobacter, dan lain-lain. Diare juga bisa merupakan gejala dari penyakit waterborne disease lainnya seperti tifoid, kolera dan disentri.

Memprihatinkan, angka kematian akibat diare di Indonesia masih terbilang tinggi, khususnya di kalangan anak. Diperkirakan, dari 12 juta kasus diare, 420 ribu di antaranya meninggal, dan 55,7%-nya adalah balita. Ini menunjukkan, pemahaman masyarakat mengenai tatalaksana diare masih kurang. Padahal, dengan penanganan yang tepat dan segera, kematian akibat diare bisa dihindari.

Salah satu terapi yang makin banyak diteliti untuk tatalaksana diare adalah probiotik. Di Indonesia, probiotik mulai banyak digunakan untuk membantu mengatasi diare. Banyak pendapat yang mendukung efek profilaksis probiotik terhadap diare. Studi Weizman, dkk (2005) yang membandingkan dua agen probotik menyimpulkan, anak di tempat penitipan yang diberi susu formula dengan suplementasi probiotik memiliki demam dan episode diare yang lebih pendek.

L. casei Shirota strain

Dr. Minoru Shirota yang menemukan bakteri bermanfaat L. casei Shirota strain, awalnya prihatin melihat kondisi Jepang yang begitu mengenaskan kala itu. Banyak anak yang meninggal akibat gizi buruk dan penyakit infeksi seperti kolera. Terinspirasi oleh peraih Nobel bidang  Kedokteran tahun 1908 Elie Metchnikoff,  yang menyatakan bahwa ada hubungan erat antara bakteri asam laktat dan usia panjang, Dr. Shirota mulai meneliti bakteri tersebut. Ia orang pertama yang berhasil mengkultur bakteri bermanfaat dan menggunakannya untuk meningkatkan kesehatan manusia. Ia yakin, keseimbangan flora usus berperan penting terhadap kesehatan. Sejak itu, ilmu mengenai probiotik mulai berkembang.

Saat dikonsumsi, probiotik akan tumbuh dan berkembang biak di usus, serta merangsang kolonisasi berbagai spesies bakteri penghasil asam laktat. Secara fisik, bakteri-bakteri bermanfaat ini akan melapisi dinding usus dan membentuk barrier sehingga bakteri patogen tidak bisa menempel, dan permeabilitas usus terjaga. Lu L. dan Walker WA dalam studinya yang meneliti komunikasi antara mikroorgansime dan epitel gastrointestinal. Disimpulkan,  probiotik dapat melindungi usus dengan berkompetisi dengan patogen dalam hal perlekatan; memperkuat junction di antara enterosit, dan meningkatkan respon imun mucosal terhadap patogen.

Asam laktat yang dihasilkan probiotik menurunkan pH usus. Di lingkungan yang demikian asam, bakteri patogen tidak bisa bertahan sehingga populasinya bisa ditekan dan dikontrol. Bakteri bermanfaat juga memroduksi berbagai zat lain misalnya asam butirat, yang akan menutrisi sel-sel usus besar sehingga lebih sehat dan kuat.

Secara lebih spesifik, bakteri bermanfaat turut memperkuat sistem imun. Mereka akan masuk ke lapisan usus yang lebih dalam hingga ke daerah yang disebut Peyer’s patches, bagian dari sistem imun yang ada di jaringan limfoid. Di sini, bakteri baik mengaktifkan sistem imun, misalnya sel NK (natural killer), yang fungsinya antara lain menghancurkan sel tubuh yang telah  terinfeksi agar mikroba penyebab infeksi tidak bisa bereplikasi.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.