Pembrolizumab pada Pasien HNSCC di Asia | ethicaldigest

Pembrolizumab pada Pasien HNSCC di Asia

Kanker kepala dan leher tipe HNSCC (heand and neck squamous cell carcinoma) merupakan kanker terbanyak nomor 7 di dunia. “Keseluruhan insiden HNSCC di Asia Pasifik sekitar 300.000 kasus baru pertahun, atau lebih dari setengah total kasus di seluruh dunia,” ujar dr. Makoto Tahara, Ketua Departemen Onkologi Medis Kepala dan Leher di National Cancer Center Hospital East, Chiba, Jepang. Ini diungkapkan dalam Kongres ESMO Asia 2016 di Singapura, 16-19 Desember 2016.

Terapi lini pertama HNSCC rekuren/metastasis umumnya menggunakan regimen EXTREME (cetuximab, platinum, dan 5-fluorouracil). Rerata OS (overall survival) dengan regimen ini sekitar 10 bulan. Sedangkan pasien yang mengalami progresi dengan terapi lini pertama atau tidak respon terhadap platinum, memiliki rerata OS <6 bulan.

Dalam kongres ESMO Asia 2016, dilaporkan mengenai keamanan dan efikasi dari pembrolizumab fixed dose (dosis tetap) pada 26 pasien kanker kepala leher rekuren/metastatis di Asia Pasifik. Pengobatan dilakukan selama 24 bulan, sampai terjadi progresi penyakit atau muncul efek samping. “Pembrilizumab dosis tetap ditoleransi dengan baik oleh pasien Asia Pasifik,” tegas Tahara.

Penelitiannya menemukan, rerata OS pada orang Asia lebih baik ketimbang populasi keseluruhan (11,5 bulan vs 8,4 bulan). Kontrol penyakit  pun lebih baik pada pasien Asia (59,5% vs 37,9%). Tumor menyusut dalam proporsi yang lebih kecil pada pasien Asia (50%) dibanding seluruh kelompok (61%).

Tingkat respon keseluruhan tidak berbeda signifikan di antara dua kelompok (19,2% pada Asia vs 18,2% pada seluruh populasi). Demikian halnya dengan respon yang bertahan selama >12 bulan; yakni 80% pada pasien Asia dan 86% pada seluruh populasi. Secara umum, profil keamanan dan insiden efek samping terkait pengobatan, serupa pada kedua kelompok dan tidak ada kematian yang berhubungan dengan pengobatan.

Manfaat klinis dari pembrolizumab dosis tetap sebagai terapi lini pertama dan kedua untuk kanker kepala dan leher rekuren/metastatis, sedang dievaluasi secara head to head dengan pengobatan kemoterapi standar. Tengah dilakukan percobaan fase tiga di seluruh dunia, termasuk Asia Pasifik. Tahara  menyebutkan, meski populasi Asia (dalam studinya) sedikit, “Temuan kami menunjukkan bahwa mereka memilki rerata OS yang lebih baik dengan pembrolizumab, ketimbang populasi campuran.”

Pembrolizumab adalah antibody immunoglobulin G4 monoklonal, yang memblok interaksi antara programmed death (PD)-1 dan PD-ligand (PD-L)1 dan PD-L2. Aktivitas anti tumornya tampak pada beberapa jenis kanker, termasuk melanoma dan kanker paru NSCLC (non small cell lung cancer).

Temuan yang dipaparkan Tahara merupakan sub analisis dari KEYNOTE-012. Percobaan KEYNOTE-012 awalnya dilakukan pada 60 pasien, dengan pembrolizumab dosis 10 mg/kg tiap dua minggu. Selanjutnya, dinilai pembrolizumab dosis tetap 200 mg/tiga minggu pada 132 pasien. “Dosis tetap memiliki beberapa keuntungan; antara lain keamanan, kenyamanan, pengurangan zat sisa dan ketaatan,” terang Tahara.

Hasil studi dikomentari dr. Gopal Iyer, Kepala Bedah Kepala dan Leher di Pusat Kanker Nasional Sinagpura. Menurutnya, hasil penelitian tampak menjanjikan karena menunjukkan tingkat respon yang cukup baik pada seluruh kelompok maupun sub kelompok Asia. Apalagi penelitian difokuskan pada kelompok pasien yang “sulit”. Yakni kanker HNSCC rekuren dan metastatis, yang prognosisnya jelek. “Untuk mempertegas rerata OS dan tingkat kontrol yang lebih baik pada pasien Asia, perlu uji klinis pada kohort Asia murni,” tuturnya.

Di sisi lain, pembrolizumab sangat mahal dan tidak ada titik akhir yang jelas dalam hal kapan menghentikan pengobatan. “Ini membangkitkan pertanyaan, siapa yang akan membayar dan bagaimana cara memutuskan tentang siapa yang layak mendapat obat tersebut,” lanjut Iyer.

Mengenai penelitian yang menyertakan pasien tanpa mempertimbangkan status PD-L1, Iyer mengungkapkan, apakah tingkat respon akan meningkat bila status PD-L1 digunakan sebagai biomarker.  Ia menjelaskan, dalam imunoterapi terdapat dikotomi yang jelas apakah pasien merespon atau tidak. “Kita perlu melakukan immune profiling pada orang Asia dan populasi lain, sehingga kita bisa menemukan biomarker yang mengidentifikasi, siapa yang merespon sebelum kita memulai pengobatan,” tuturnya.

 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.