OAINS dan Kortikosteroid Pada JIA | ethicaldigest

OAINS dan Kortikosteroid Pada JIA

Pengobatan juvenile idiopathic arthritis (JIA) mengombinasikan obat-obatan antiinflamasi dan imunomodulator, dengan terapi okupasi dan fisik. Terkadang juga dibutuhkan operasi, dukungan nutrisi dan kerjasama dengan pasien dan orang tua. Meski pengobatan JIA telah berkembang dengan pesat dalam 15 tahun terakhir, masih banyak pasien yang tidak mendapat pengobatan ahli reumatik pediatrik.

OAINS untuk Pengobatan JIA

Tidak ada satu pun penelitian menggunakan OAINS yang dilakukan secara terkontrol menggunakan placebo. Secara etika, sulit melakukan penelitian placebo acak pada anak-anak, terutama untuk obat-obatan yang memberi manfaat pada orang dewasa. Sebagai kesimpulan dari penelitian-penelitian tersebut, hanya sekitar 25% dari 33% pasien, terutama dengan oligoarthritis, yang menunjukkan respon signifikan terhadap OAINS.

Suatu penelitian yang berjalan selama 4 sampai 6 minggu menggunakan berbagai OAINS, menunjukkan tidak ada OAINS satu pun yang terlihat memiliki manfaat lebih dibanding OAINS lain, dalam mengobati arthritis atau demam yang dihubungkan dengan arthritis sistemik. 

OAINS yang disetujui Badan Obat dan Makanan untuk digunakan pada JIA meliputi tolmetin, naproxen, ibuprofen dan rofecoxib (rofecoxib telah ditarik dari pasar, karena efek samping terhadap kardiovaskuler pada orang dewasa). Preparasi cairan naproxen dan ibuprofen juga tersedia. OAINS lain yang telah menjalani penelitian terkontrol meliputi diclofenac, ketoprofen, indomethacin, piroxicam, fenoprofen, sulindac dan meloxicam. 

Jarang terjadi efek samping serius pada gastrointestinal, meski sebanyak 28% anak mengalami gejala gastrointestinal. Dari anak-anak ini, 34% sampai 75% diketahui mengalami gastritis dan/atau duodenitis. Efek samping penting lainnya adalah perkembangan pseudoporphyria. Efek samping pada sistim saraf pusat yang dapat terjadi meliputi sakit kepala dan disorientasi, terutama akibat indomethacin. 

Kortikosteroid

Karena banyaknya efek samping, terutama pada tulang dan pertumbuhan, reumatolog pediatrik mencoba untuk meminimalkan penggunaan sistemik kortikosteroid. Tidak ada bukti bahwa kortikosteroid sistemik memodifikasi penyakit. Indikasi utamanya adalah demam berat, serositis dan sindroma aktivasi makrofag pada arthritis sistemik, atau sebagai pengobatan sementara sampai ada obat lain yang efektif.

Pada beberapa pasien, kortikosteroid intravena periodik (30mg/kg per dosis, maksimal 1gram) lebih banyak digunakan dibanding kortikosteroid oral harian dengan dosis tinggi. Meski tidak ada penelitian terkontrol menunjukan pengobatan ini lebih sedikit efek sampingnya pada anak-anak.

Tidak ada bukti menunjukkan, efikasi injeksi intrartikuler kortikosteroid lebih baik, terutama pada pasien dengan oligoarthritisPenelitian-penelitian menunjukkan, sebanyak 70% pasien dengan oligoarthritis tidak menunjukkan reaktivasi penyakit pada sendi yang disuntik setidaknya satu tahun, dan 40% selama setidaknya lebih dari 2 tahun.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.