Indikasi Medis Sirkumsisi | ethicaldigest

Indikasi Medis Sirkumsisi

Tahun 2007, World Health Organization (WHO) memperkirakan ada sepertiga laki-laki berusia ≥ 15 tahun di dunia yang disirkumsisi. Dari angka ini, 70% dilakukan atas latar belakang agama, sisanya (30%) dilatarbelakangi alasan kesehatan atau ada indikasi medis yang menyebabkan pasien dianjurkan untuk disirkumsisi.

Menurut dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, di Indonesia sirkumsisi umumnya dilakukan atas latar belakang agama (60%). Sejumlah kasus sirkumsisi lainnya dilakukan karena indikasi medis. “Sirkumsisi dalam kondisi ini dapat dilakukan segera atau terencana, bergantung penyakit yang melatarbelakangi,” paparnya. Berikut beberapa indikasi medis dilakukannya sirkumsisi:

Fimosis

Merupakan kondisi kulup yang tidak dapat ditarik ke belakang kepala penis. Pada balita, kondisi ini umum dijumpai karena secara normal masih terdapat perlengketan pada kepala penis. Perlengketan lambat laun berkurang dengan sendirinya, tanpa perlu terapi. Beberapa kasus fimosis dapat menetap dan fimosis yang berat dapat menyebabkan saluran kemih tertutup. Akibatnya, kulup menggembung saat berkemih dan menimbulkan nyeri serta demam pada anak.

Selain faktor bawaan lahir, fimosis dapat terjadi akibat hygiene yang buruk atau akibat penarikan kulup berulang dengan cara paksa, sehingga timbul jaringan parut. Kondisi ini berisiko mengalami infeksi saluran kemih, infeksi pada kulit penis, parafimosis dan gangguan aktivitas seksual. Penderita fimosis juga lebih berisiko mengalami karsinoma sel skuamosa.

Sirkumsisi merupakan terapi standar pada infeksi berulang pada fimosis dan fimosis patologis, terutama jika pemberian steroid topikal tidak berhasil melepaskan perlengketan. Perlu diketahui, penarikan kulup secara paksa dapat menyebabkan luka, perdarahan dan jaringan parut, sehingga sangat tidak dianjurkan.

Parafimosis

Merupakan kondisi dimana kulup tidak dapat kembali ke posisi semula, setelah ditarik ke belakang. Ini terjadi akibat kulup yang sempit atau penarikan paksa pada fimosis. “Bila dibiarkan, parafimosis dapat menyebabkan rasa nyeri dan pembengkakan pada ujung penis sehingga makin sulit dikeluarkan,” jelas dr. Mahdian. Kondisi ini juga dapat mengakibatkan iskemia yang berakhir dengan nekrosis.

Parafimosis perlu diperbaiki sesegera mungkin. Umumnya parafimosis dapat diperbaiki dengan reduksi secara manual di bawah anestesi lokal atau umum. Jika teknik ini gagal, dapat dilakukan insisi pada bagian dorsal kulup ,atau melakukan sirkumsisi. Sirkumsisi dapat dipertimbangkan untuk mencegah berulangnya parafimosis.

Balanitis rekuren

Balanitis merupakan infeksi yang terjadi pada kepala penis. Balanitis dapat menjalar ke batang penis (postitis) sehingga disebut balanopostitis dan menimbulkan nyeri saat berkemih. Hal ini terjadi akibat hygiene yang buruk, atau akibat kulup sulit dibuka,  menyebabkan kulup sulit dibersihkan. Infeksi ini menyebabkan keluarnya nanah dari kulup. Balanitis dan postitis dapat diatasi dengan pemberian antibiotik. “Sirkumsisi dapat menjadi pilihan, jika terjadi balanitis dan positis berulang,” jelasnya.

Balanitis xerotica obliterans

Merupakan penyebab tersering terjadinya fimosis. Balanitis xerotica obliterans merupakan sklerosis dan atrofi pada kulit kulup, yang menyebabkan kulup mengeras dan sulit ditarik.

Kelainan letak orificium urethra externum

Kelainan letak uretra (saluran keluar air seni) merupakan kelainan bawaan, meliputi hipospadia dan epispadia. Hipospadia adalah kondisi lubang uretra yang terletak di bagian bawah penis, sedangkan epispadia merupakan kondisi lubang uretra yang terletak di bagian atas penis. Kondisi ini umumnya memerlukan sirkumsisi, sebagai bagian dari proses reposisi atau perbaikan posisi lubang uretra, sehingga hanya dapat dilakukan oleh ahli bedah urologi.

Sirkumsisi merupakan pembedahan paling tua dan paling banyak dilakukan di dunia. Meski kebanyakan dilakukan atas latar belakang agama, sirkumsisi dapat menjadi pilihan terapi yang aman, untuk mengatasi sejumlah kondisi medis diatas. Pembuangan kulup secara permanen dapat menekan kemungkinan berulangnya fimosis, parafimosis, balanitis dan infeksi saluran kemih.

Saat ini, komplikasi tindakan sirkumsisi semakin rendah dengan hadirnya berbagai teknik sirkumsisi modern (klem), tenaga ahli yang profesional serta perawatan luka paska sirkumsisi yang baik dan benar.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.